
Karna jam sudah menunjukkan pukul 13.00 siang, Nari mengeluarkan ponselnya yang berada di dalam tas selempang kecilnya. Ia pun mengetikan sebuah pesan chat untuk suaminya, dia mendapatkan nomor ponsel suaminya secara diam-diam. Ketika itu dirinya tidak sengaja melihat ponsel suaminya yang berada di atas meja nakas, dalam keadaan belum terkunci. Darisanalah ia berinisiatif mengambil nomor ponselnya.
Mas Argian :
Mas, ini Nari. Aku sudah siap, tetapi bisakah mas menjemputku di alamat xxx.
Itulah chatt yang di kirimkan oleh Nari kepada suaminya. Ia menunggu selama 5 menit tetapi pesannya belum juga di bales. Jangankan di bales di baca saja tidak. Sampai setengah jam kemudian belum juga ada balasan.
Marsa yang melihat Nari masih berada di tempatnya pun menghampiriya dan duduk di kursi yang kosong. Memang di dalam toko kue mereka juga sudah tersedia kursi dan meja untuk orang sekedar duduk mengantri.
“Nar, kamu belum di jemput juga?” Tanya Marsa merasa kasihan dengan gadis di hadapannya yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.
“Belum kak, aku sudah mengirim chat. Tapi belum ada balasan juga, mungkin masih sibuk,” ujar Nari, berpikir positif. Karna mereka baru saja pulang dari Jerman, jadi kemungkinan di kantor suaminya lagi banyak pekerjaannya.
“Memang siapa sih yang mau menjemput kamu, aku penasaran sama pria itu, lama sekali. Sampe kamu rela banget nungguin tuh orang,” ucap Marsa kesel dengan pria yang akan menjemput Nari.
Nari baru mengingat jika dirinya belum memberitahu Marsa tentang dia yang sudah menikah. “Apa aku harus memberitahu kak Marsa ya, kalau sebenarnya aku sudah menikah dan ingin ke dokter kandungan memeriksakannya,” ucapnya dalam hati.
“Baiklah sepertinya ini waktu yang tepat untuk kakak mengetahuinya,” kata Nari.
__ADS_1
“Mengetahui apa Nar?” Tanya Marsa.
“Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kita berdua nar,” celetuk Maya yang tiba-tiba nimbrung dan duduk di sebelah kiri Nari. “Ceritalah Nar, kami akan mendengarkannya,” lanjutnya.
“Kak sa, kak may... Sebenarnya aku sudah menikah satu bulan yang lalu dan sekarang aku lagi minta temani suamiku buat ke dokter kandungan mau periksa benar atau tidaknya aku sedang hamil,” jelas Nari menatap Marsa dan Maya bergantian. Ingin melihat reaksi kedua perempuan di depannya sekarang. Ia berharap mereka berdua tak membencinya karena baru memberitahu sekarang.
Kedua perempuan tersebut masih terdiam, belum menunjukkan reaksi apapun. Malah saling menatap satu sama lain.
“Kak sa, kak may, aku minta maaf baru bisa cerita sekarang. Jangan marah sama aku, jangan benci juga sama aku,” pinta Nari menatap keduanya.
“Mengapa baru cerita nar, kalau sebenarnya kamu sudah menikah?” Tanya Marsa.
“Sekali lagi aku minta maaf kak, aku baru punya kesempatan sekarang buat cerita. Waktu itu nikahnya juga dadakan ngga sempat ngundang banyak orang,” ujar Nari berkata jujur, tapi dirinya tak bisa menjelaskan detailnya.
Marsa tak tega melihat Nari yang terus saja meminta maaf. Padahal itu bukanlah kesalahannya, “Sudah sudah nar, gausah minta maaf terus. Lalu apa suamimu sudah mau sampai kesini?” Tanyanya.
“Ngga tau kak, belum ada balesan juga,” jawab Nari lalu melihat jam sudah menunjukkan pukul 14.00.
“Kalau suamimu tidak datang juga, bagaimana jika salah satu dari kita saja menemani mu ke dokter kandungan,” tukas Maya.
__ADS_1
“Tidak usah kak, aku sendiri saja ke dokternya. Apa adalagi kue yang harus aku bikin, kalau ada biar aku bikin saja dulu, nanti baru langsung ke rumah sakit,” Tutur Nari.
“Kue untuk hari ini sepertinya sudah cukup banyak nar, jadi ngga ada lagi kue yang harus di bikin,” jelas Maya melihat jajaran kue yang masih ada di rak-rak.
“Kamu beneran tidak mau di temani salah satu dari kita aja Nar. Aku khawatir takut terjadi apa-apa sama kamu di jalan,” ujar Marsa mengkhawatirkan keadaan Nari.
Nari memberikan senyuman hangat pada kedua perempuan di hadapannya sekarang. “Kak sa, aku janji bakalan baik-baik aja. Nanti kalau aku sudah sampai di rumah sakit, aku kabarin. Sekarang aku pergi dulu,” pamitnya berdiri dari duduk dan melangkah pergi menuju ke jalan raya untuk menyetopkan angkutan umum.
Sedangkan kedua perempuan tersebut menghela nafas berat melihat kepergian gadis yang sudah mereka anggap adik sendiri.
Sekarang Nari sudah berada di dalam angkutan umur yang akan membawanya menuju ke rumah sakit...
****
Follow ig|| @antiloversn
Bersambung....
Jangan lupa like, comennt, rate 5, vote+gifts nya.
__ADS_1
Terimakasih💕