
Farhan melemparkan surat gugatan cerai ke wajah Argian.
"Apa maksud mu menggugat cerai Nari tanpa sepengetahuan papa?" Tanya Farhan menggeram marah saat menemukan surat gugatan cerai yang dilayangkan oleh putranya terhadap menantunya.
"Tidak penting juga untuk papa tahu soal ini! Intinya aku sudah terbebas dari pernikahan tanpa cinta ini," ujar Argian nampak terlihat tenang menjawab pertanyaan papa nya.
Plak
Tamparan Farhan mendarat dengan mulus ke Argian yang memegangi pipi, bahkan darah segar mengalir dari bibir yang sedikit robek akibat tamparan papa nya.
"Dimana letak otak pintar mu itu Argian? Kau taukan Nari itu lagi hamil, dan oma juga mengetahui kehamilan Nari. Gimana nanti kalau oma tiba-tiba pulang dan bertanya kemana Nari. Jawaban apa yang mau papa berikan Gian. Setidaknya kalau kau mau menceraikan Nari bicarakan dulu dengan papa, biar kita cari solusinya, dan sekarang apa yang mau kau lakukan setelah menceraikan Nari." Farhan benar-benar sangat marah dengan kebodohan yang dilakukan putra sulungnya.
"Yang pasti aku mau menikahi Gina pah," ucap Argian bicara lugas.
Bug!
"Bodoh! Papa tidak akan pernah setuju kau menikah dengan wanita gatel itu. Jika kau berani menikahinya, silahkan angkat kaki dari perusahaan Bramantio," lantang Farhan tak menyetujui putranya menikahi wanita murahan itu.
"Aku tidak butuh persetujuan papah, sudah cukup selama ini aku menuruti semua keinginan papah. Jadi sekarang biarkan aku memilih untuk hidup ku," ucap Argian.
"Kalau kau miskin, memangnya wanita itu masih dengan mu Gian. Jangan bodoh Gian, wanita itu cuma mau mengeruk harta mu, dia kembali karena yang dulu tidak bisa lagi mencukupi kebutuhannya," jelas Farhan memberitahu putranya, namun Argian tetaplah lelaki keras kepala dan tidak mempercayai perkataan siapapun kecuali ada bukti.
"Cukup pah, Gina tidak seperti itu. Aku mengenal sudah sangat lama, jadi aku tau sifatnya bagaimana," kata Argian tak terima papa nya memfitnah kekasihnya.
"Terserah mu mau percaya atau tidak omongan papa. Intinya papa minta sekarang kamu temuin Nari dan batalkan gugatan cerai ini. Kau boleh menceraikan Nari setelah Nari melahirkan dan kita lakukan tes DNA. Jika terbukti yang dikandung Nari bukanlah anakmu, kau boleh menikahi kekasih mu itu. Tapi,,,, kalau ternyata anak itu darah daging mu papa minta jalanin pernikahan mu gimana semestinya," papar Farhan panjang lebar, lalu melangkah keluar meninggalkan Argian yang terdiam mencerna omongan papa nya.
"Sialan kau Nari." Argian menggebrak meja, emosinya sudah hilang kendali.
****
__ADS_1
Meskipun begitu Argian tetap menuruti yang Farhan katakan. Bukan Ia takut ancaman papa yang ingin mengeluarkan dirinya dari perusahaan, melainkan soal oma Ayu. Ia amat menyayangi oma nya itu, jadi Ia tak mau tentang perceraiannya sampai pada oma nya.
Tanpa membunyikan bel pintu, Argian memilih langsung masuk ke dalam rumah sebab Ia masih memiliki kunci serep yang selalu Ia bawa kemana pun pergi.
"NARI! keluar lah saya mau bicara," seru Argian memanggil Nari.
"Nari!!"
Berulang kali Argian menyeru nama Nari, namun tidak mendapat sahutan.
"Apa dia tuli, tidak mendengar suaraku," kesal Argian lekas melangkah ke kamar Nari yang memang letaknya dibawah.
Argian memandang ranjang yang tampak rapi, Ia membuka kamar mandi tetapi Nari tidak berada disana. Ketika Argian membuka lemari, barulah Ia tahu bahwa Nari telah pergi meninggalkan rumah, karena di dalam lemari tidak ada satupun pakaian wanita itu.
"Sial, pergi kemana wanita itu," umpat Argian mengacak rambutnya menjadi berantakan.
Drrrrrtttt! drrrrtttt!
"Ya pa ada apa?" tanya Argian.
"Kau sudah bicara dengan Nari?" Farhan bertanya balik di seberang sana.
"Belum pah, Nari tidak berada di rumah. Sepertinya dia sudah pergi entah kemana," beritahu Argian jujur.
"Papa tidak mau tahu, kau harus temukan Nari dan batalkan perceraian kalian," tegas Farhan.
Tutt!! Argian terpaksa mematikan sambungan telpon sebab Ia sangat malas berdebat dengan papa nya sekarang, karena membuang-buang waktu. Daripada Ia berdebat, lebih baik Ia berpikir untuk menemukan Nari yang entah kemana perginya.
"Panti asuhan! Ya semoga Nari disana," gumam Argian baru teringat panti asuhan tempat tinggal Nari sebelumnya.
__ADS_1
Sekarang Argian telah berada di panti asuhan dan Ia tengah duduk berhadapan dengan Ibu Lida pemilik panti dan satu perempuan yang tidak Ia kenal.
"Ada keperluan apa anda kemari tuan Argian?" Tanya Denara ketus tanpa basa-basi pada manusia didepannya.
"Nara jangan begitu, nak Argian ini suaminya Nari. Jadi jangan bersikap ketus seperti itu," ujar Ibu Lida memperingatkan Denara.
"Nak Argian jangan ambil hati ya omongan Nara. Jadi ada nak Argian datang kesini?" Tukas Ibu Lida berbicara sopan dan ramah.
"Jadi saya kesini mau mencari Nari buk, apa dia ada disini?" ucap Argian bertanya.
"Nari tidak ada disini nak, terakhir Nari kesini saat ulang tahu Fahira," kata Ibu Lida.
"Apa yang udah lo buat sama adik kesayangan gue, sampai dia pergi dan gak datang kesini," marah Denara menatap tajam Argian.
"Maaf sebelumnya buk, saya dan Nari telah bercerai. Saya datang kesini hanya ingin mencari untuk membicarakan sesuatu yang tidak bisa saya katakan pada Ibu," ujar Argian mengatakan alasan datang mencari Nari.
"Dasar laki-laki brengsek! Kalau lo mau ceraikan adik gue, setidaknya pulang adik gue kesini dengab cara baik-baik," berang Denara sudah dikuasi amarah ingin menghajar Argian namun tak bisa karena pelukan Ibu Lida yang begitu erat padanya.
"Tenang nak! Ibu minta nak Argian sebaiknya pergi ya, kondisi Nara sedang tidak baik-baik saja," pinta Ibu Lida menyuruh Argian segera pergi.
"Mau kemana lo bangs*t! Laki-laki yang gak pantes sama adik gue," umpat Nara, karena menghadapi Argian membuatnya begitu emosi.
"Nara cukup nak, tidak baik mengumpat seperti itu, nanti di dengar adik-adik mu. Bisa-bisa mereka meniru ucapan mu," kata Ibu Lida mengusap punggung Denara untuk menenangkan gadis itu.
"Buk, Nara khawatir sama Nari. Nara takut terjadi sesuatu sama Nari, apalagi Nari sedang mengandung," ungkap Denara.
"Sebaiknya kita mencari dimana Nari tinggal nak, Ibu berdoa semoga dimana pun Nari berada dia dilindung allah swt," ucap Ibu Rida.
"Buk aku akan mencari Nari, doakan semoga aku menemukannya," pamit Denara keluar untuk mencari Nari.
__ADS_1
Denara menyusuri jalan raya dengan sepeda motornya. Sepanjang jalan Denara selalu berdoa agar bisa menemukan adik kesayangan itu.
Begitu pula Argian juga tengah mencari keberadaan Nari.