Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
42. Tuduhan dan Kemarahan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan mereka lantas tetap duduk di meja makan.


“Bicaralah Gian! Apa yang ingin kau sampaikan pada kami,” ujar papa Farhan membuka suara, padahal pria paruh baya itu sendiri sudah tahu yang ingin disampaikan oleh putranya.


Kening Argian berkerut, menatap kesal pada papanya yang pura-pura tak mengetahui.


“Ayolah kak ngomong. Gea udah penasaran yang mau kakak sampaikan,” imbuh Argea sangat merasa penasaran.


“Jadi begini pah mah gea, aku sudah membeli rumah baru. Kami berdua akan pindah ke rumah yang sudah ku beli dan kami berdua akan pindah hari ini juga,” papar Argian menyampaikan kepindahannya.


“Mengapa hal seperti kamu tidak memberitahu mama lebih dulu Gian. Mama tidak bisa melihat kamu pindah, biarkan dia saja yang pindah kesana dan kamu tetap tinggal disini.” Mama Felly menunjuk Nari agar wanita itu saja yang pindah, putranya tetap berada disini tak perlu kemana-mana.


“Tidak bisa mah! Aku sudah berumah tangga, akan lebih kami mandiri,” ujar Argian menolak keinginan mamanya.


“Hiks, mama tak bisa jauh dari kamu,” isak Felly sedih mendengar putranya memberitahunya akan pindah ke rumah baru.


Argian bangkit dari duduknya, menimbulkan suara kursi berdecit. Ia menghampiri mama yang duduk berdekatan dengan papa, lalu memeluk mamanya.


“Mah, aku pindah gak jauh. Mama papa sama Gea kan bisa kesana setiap hari,” ujar Argian bicara lembut pada mamanya.


Felly mengusap tangan putranya yang tengah memeluk dirinya, sambil masih menangis.

__ADS_1


“Pasti ini gara-gara lo kan, lo yang minta beliin rumah sama kakak gue. Biar ngebuat kita pisah dan jarang ketemu kak Gian. Gak nyangka gue lo sepicik itu,” tuduh Gea, gadis itu berkata kasar dan menatap marah kearah Nari.


Nari menggeleng kepala, mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh adik iparnya dan bibirnya begerak terbuka ingin bicara keburu didahulu papa mertuanya.


“GEA!!!” Bentak papa Farhan membuat putrinya menunduk mendengar suara kerasnya.


“Dimana sopan santun mu hah? Berapa kali papa harus mengingatkan tentang kesopanan, walaupun kamu gak suka dengan kakak ipar mu. Jaga sikapmu! Sekali lagi papa dengar kamu bicara kasar apalagi dengan kata Lo Gue. Siap-siap saja menerima hukuman dari papa,” hardik papa Farhan melanjutkan ucapannya, lantas menggeser kursi dan pergi dari meja makan begitu saja.


“Puas lo dengar papa gue sendiri bentak anaknya,” ketus Gea meluapkan emosinya, lalu pergi juga meninggalkan meja makan.


“Gea,” panggil mama Felly.


“Jangan mah, biarkan adek menenangkan dirinya dulu. Emosi pasti masih belum terkontrol, biar nanti aku yang bicara,” ucap Argian.


Mendengar ucapan mama, membuat Argian lega akhirnya. Tinggal adiknya yang harus dibujuknya.


“Kamu layani putra saya dengan baik, awas saja putra saya sampai sakit karena kamu yang enggak becus jadi istri.” Pungkas Felly menatap sengit menantunya dan pergi menyusul suaminya.


Dimeja makan kini hanya ada Nari dan Argian yang saling berdiam-diaman. Beberapa menit kemudian Argian pergi menuju kamar adiknya meninggal Nari seorang diri yang masih duduk terpaku dimeja makan.


“Nari kamu tidak papa?” Tanya Nelly yang menguping percakapan mereka sedari tadi.

__ADS_1


Sudah dua kali gadis itu menguping pembicaraan orang. Mau bagaimana lagi, dia sangat kaget saat mendengar bentakan tuan Farhan, selama ia bekerja disini, baru kali ini ia mendengar tuan Farhan membentak anaknya.


“Eum aku enggak papa Nelly,” ucap Nari menyunggingkan senyuman.


Nelly tahu bahwa Nari sedang menutupi kesedihan..


“Aku bantuin beresin ya, jangan menolak.” Kata Nari, membuat Nelly tidak bisa membantah.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.

__ADS_1


Terimakasih💓


__ADS_2