
Argian mencekal tangan Nari, menarik kasar istrinya membawanya kedalam kamar mereka. Lalu mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk. Argian mendorong Nari hingga perut wanita itu hampir terbentur ke meja.
“Saya tanya kamu, anak siapa yang kamu kandung sebenarnya. Jujur saja, saya tidak akan marah. Karena itu bisa saya jadikan alasan untuk menceraikan mu,” desak Argian agar Nari mau mengatakan sejujurnya.
“Ini anak mu mas,” kekeh Nari memberikan jawaban yang sama.
Argian mencengkram rahang Nari, mendongakkan wajah wanita itu agar menatapnya.
“Apa yang harus saya lakukan agar kau mau jujur. Itu tidak mungkin anak saya, karena saya tidak pernah merasa melakukannya. Kecuali saat kita di jerman dan itu baru tiga hari yang lalu...”
Nari hanya bisa menangis, mulut sulit untuk bicara akibat suaminya mencengkram rahangnya.
“Saa...sakithh mm...mas,” lirih Nari bicara terbata-bata.
Argian masih mencengkram rahang Nari dan membawa ke ranjang lalu menghempaskan wanita itu hingga terbaring.
Argian membuka seluruh baju tanpa menyisakan selembar kain pun. Nari yang melihat itu malah ketakutan dan mundur ke sisi ranjang.
“Kenapa kau menjauh? Tidak mau melayani suami mu ini...” Nari menggeleng.
“Kemari saya ingin melakukannya...” Argian menarik kaki Nari hingga mendekat padanya.
“Jangan mas, aku takut terjadi apa-apa dengan anak kita. Aku belum berkonsultasi dengan dokter boleh apa tidaknya berhubungan,” tolak Nari bicara baik-baik.
“Hehh! Anak kita, itu hanya anak kamu dan selingkuhan mu. Jadi jangan mengaturku atau menolak permintaan suami mu,” bentak Argian meneruskan yang akan dilakukannya.
Kini baju Nari sudah dilempar oleh Argian kesembarang tempat. Lelaki itu tidak memperdulikan penolakan istrinya yang meronta-ronta. Argian akhirnya berhasil melakukannya dengan paksaan.
Lenguhan panjang Argian mengakhiri percintaan mereka malam ini. Hanya Argian yang menikmatinya kepuasan yang didapatkan. Sedangkan Nari hanya bisa menangis suaminya benar-benar beringas melakukan seperti tiga minggu yang lalu.
__ADS_1
Percintaan yang membuat Nari terkesan dan suaminya memperlakukan dirinya sangat lembut saat mereka berada di Jerman.
Setelah beberapa menit Argian melepaskan penyatuan mereka dan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya.
Nari perlahan bangun dari ranjang, menahan rasa sakit di daerah kewanitaannya. Ia mengambil pakaiannya dan memakai kembali.
Sebelum merebahkan tubuh ke ranjang, dia berjalan tertatih ke arah walk-in closet dan mengambil pakaian suaminya menaruh diatas ranjang. Lalu dia berbaring miring, mencoba memejamkan matanya.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka, menandakan bahwa Argian telah menyelesaikan mandi. Argian memakai baju yang ada diatas ranjang dan memakainya.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, suaminya keluar dari dalam kamar tidak memperdulikan ataupun bicara sepatah kata.
“Hiks, hiks.. kamu jahat mas, tapi aku mencintai mu,” tangis Nari pilu, ulu hatinya sangat sakit mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Sampai terbawa tidur.
...****************...
Argian meninggalkan Nari sendirian dalam kamar setelah percintaan mereka. Lelaki sama sekali tidak mengatakan ‘maaf’ saat memperlakukan istrinya dengan kasar.
“Shiitt... menganggu saja,” runtuk Farhan memaki orang yang berada diluar kamar.
“Sabar pa! Mending papa sana bukain pintu, liat siapa yang ada diluar,” ujar Felly mengelus dada suaminya.
‘Cup’ Farhan memberikan kecupan dibibir istrinya. Lalu memakai pakaian kembali, berjalan cepat membuka pintu. Melihat orang yang telah mengganggu kegiatan mereka yang belum selesai.
“Gian! Ada apa menemui papa?” Tanya Farhan saat melihat putranya lah yang mengetuk pintu kamarnya.
“Bisa minta waktu papa sepuluh menit saja. Aku mau membicarakan sesuatu,” kata Argian berdiri berhadapan dengan papa Farhan.
“Tunggu papa di ruang kerja,” suruh Farhan.
__ADS_1
Argian melangkah menuju ruang kerja papanya. Farhan masuk kembali menghampiri istrinya yang bersandar dikepala ranjang.
“Pah, apa tadi Gian yang bicara dengan mu?” Felly bertanya pada suaminya yang mengambil duduk ditepian ranjang.
“Iya mah... Ada yang mau dia bicarakan sama aku,” ucap Farhan.
“Yaudah papa sana susul Gian,” usir Felly menyuruh suaminya menyusul putra mereka.
“Oke papa susul Gian dulu... tapi nanti pas papa balik kita lanjutin yang sempat tertunda gara-gara putra kita...”
“Kalau mamah gak ketiduran pa...”
“Papa gak bakal lama mah, cuma sepuluh menit..”
“Sana papa buruan! Sepuluh menit papa gak balik mamah tinggal tidur,” ancam Felly membuat Farhan segera keluar dari kamar berjalan cepat pergi ke ruang kerja.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
__ADS_1
Terimakasih💓