Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
46. Rumah sakit


__ADS_3

“Huft...”


Azka mengelap keringat yang hampir mengalir dipelipis kirinya ia seka menggunakan handuk kecil yang menganggantung dilehernya.


Lelaki itu baru saja pulang dari tempat gym, untuk merenggangkan otot-ototnya. Karena telah lama tak melakukan olahraga. Lelaki memasuki rumah dan melihat bundanya tengah menyiapkan sarapan.


“Assalamu’alaikum bunda”


“Waalakumsalam, habis dari mana nak?” Tanya bunda Aisyah melihat putranya yang menghampirinya.


“Aku habis dari tempat gym bun,” jawab Azka.


Bunda Aisyah mengut-mangut. “Kamu ke kantor hari ini?”


“Iya bun, agak siangan..”


“Bisa enggak sebelum kamu ke kantor antarkan bunda ke toko kue,” ujar bunda Aisyah.


“Bisa banget bunda sayang,” ucap Azka mendekati bunda Aisyah dan mencium pipi kiri.


Bunda Aisyah tersenyum melihat wajah putranya yang ceria.


***


Azka bersiap-siap di kamarnya memakai setelan kerja dan menyugar rambut klimis. Menatap cermin yang memantulkan dirinya.


Setelah itu ia lantas keluar dari kamar menuruni tangga menuju kebawah. Ia duduk di meja makan berdua dengan bundanya. Mereka sarapan dengan keheningan yang melanda keduanya.


“Ka,” panggil bunda Aisyah.


“Kenapa bun?”


“Gimana kerjaan di kantor, gaada masalahkan nak?” Bunda Aisyah balik bertanya.


Azka menatap bundanya heran, tumben sekali bundanya menanyakan tentang pekerjaan kantor.


“Baik bun... tetapi beberapa hari lagi aku bakalan pergi keluar kota untuk melihat sudah sampai mana pembangunan kantor cabang disana,” tutur Azka memberitahu bundanya.

__ADS_1


“Berapa lama kamu keluar kota?”


“Kalau itu aku belum tau bun, kemungkin memakan waktu cukup lama,” ucap Azka.


“Pesan bunda jangan terlalu menggilai kerja ya nak. Kalau lelah istirahat jangan pernah memaksakan. Bunda gak mau sampai kamu sakit,” tutur bunda Aisyah tak pernah lelah untuk selalu mengingatkan putranya.


“Pasti bunda sayang,” balas Azka mengelus telapak tangan dan menatap tersenyum kearah bundanya.


Selesai sarapan Azka memilih duduk di ruang tamu, membaca koran yang setiap pagi akan ada diletakan di meja tamu oleh satpam yang berkerja dikediamannya.


Tetap saja sampai sekarang bayang-bayang Nari selalu ada dipikirannya. Azka belum bisa melupakan rasa cintanya pada wanita itu.


Bunda Aisyah memandang Azka yang terlihat fokus membaca koran. Bunda Aisyah tak tahu kalau sebenarnya putranya memikirkan sesuatu. Bunda Aisyah melangkah menghampiri putranya dan membawa setoples cemilan di meja ruang tamu.


“Cobain dulu brownies cookies buatan bunda.” Bunda Aisyah membuka tutup toples, menyodorkan ke hadapan putranya.


Azka melipat koran ditangannya, lalu meletakan ke meja. Mengambil satu brownies cookies buatan bundanya, menggigit dan mengunyahnya.


“Brownies buatan bunda tak ada duanya, tetap enak dari brownies lainnya yang pernah aku cobain,” puji Azka mengacungkan dua jempol mengapresiasikan brownies cookies buatan bunda tercintanya.


“NARI!!!”


Bunda Aisyah yang mendengar suara teriakan dalam toko, berlari cepat mencari arah teriakan tersebut.


“Nari bangun...” seru Maya cemas menepuk pelan pipi Nari yang pingsan di dapur.


“Yaallah.. Maya Marsa apa yang terjadi dengan Nari?” Tanya bunda Aisyah terkejut melihat Nari tergeletak di lantai dengan kepala berada dipaha Maya.


“Gatau bu, saat kita ke dapur Nari sudah pingsan,” jelas Marsa.


“Kalian bisa angkat Nari, ke mobil Azka.. sepertinya Azka masih berada di depan,” ujar bunda Aisyah.


“Bisa bu...” jawab kedua perempuan itu berbarengan dan mengangkat bumil.


Azka yang masih belum menjalankan mobil menuju kantor lantas turun. Ketika mengenali wanita yang tengah diangkat kedua karyawan bundanya.


“Kenapa dengan Nari, bunda?” Tanya Azka.

__ADS_1


“Bunda juga gatau ka, lebih baik kita segera bawa Nari ke rumah sakit sekarang,” ucap bunda Aisyah.


Azka membuka pintu penumpang belakang. Maya dan Marsa membaringkan Nari.


“Maya Marsa, bunda bakalan ikut kerumah sakit. Kalian tidak papakan menjaga toko kue,” kata bunda Aisyah.


“Engga papa bu.. Ibu ikut saja ke rumah sakit,” ucap Maya.


“Iya bu, nanti kabarin kita gimana keadaan Nari ya bu,” ujar Marsa.


Bunda Aisyah mengangguk dan masuk ke dalam mobil, di bangku penumpang belakang dan meletakan kepala Nari dipahanya.


Membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai di rumah sakit.


“Bunda izinkan aku menggendong Nari,” ucap Azka meminta izin pada bundanya.


Bunda Aisyah nampak bingung, tetapi melihat situasi yang tak memungkinkan seperti saat ini membuat bunda Aisyah mengangguk mengizinkannya.


Azka menggendong Nari masuk ke dalam rumah sakit. Membaringkan diberangkar, perawat langsung mendorong berangkar tersebut menuju ruang UGD.


“Maaf bu, pak. Silahkan tunggu di luar ruangan,” ucap salah satu perawat menghalangi bunda Aisyah dan Azka meminta keduanya untuk menunggu di luar ruangan.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓

__ADS_1


__ADS_2