Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
48. Kesalahapahaman kecil


__ADS_3

Kelopak mata Nari begerak-gerak bersamaan dengan jari-jemari juga. Bunda Aisyah belum menyadari pergerakan Nari, sampai wanita hamil itu membuka matanya sempurna dan berbicara parau karena tenggorokan terasa kering.


"Hh-haus..." katanya parau.


Bunda Aisyah mengangkat kepalanya tampak terkejut menatap Nari yang sudah siuman. Bunda Aisyah mengambil gelas berisi air dan membantu meminumkan pada Nari dengan cara membangunkan sedikit tubuh wanita hamil tersebut.


Selesai minum, mata Nari menatap kesekeliling ruangan bernuasa putih dan menundukkan kepala melihat baju yang dipakainya adalan pakaian khas rumah sakit.


"Buu.. aku mengapa bisa berada di rumah sakit?" Tanya Nari pada bunda Aisyah.


"Kamu pingsan di dapur saat bikin kue, jadi bunda sama Azka bawa kamu ke rumah sakit," jelas bunda Aisyah menjawabnya.


Nari meraba perutnya, ia takut terjadi apa-apa sama kandungannya...


"Tak perlu khawatir Nari, kandungan mu baik-baik saja nak," ucap bunda Aisyah menenangkan wanita hamil yang tengah duduk bersandar pada berangkar yang sudah dinaikan.


Nari lega mendengar kandungannya tak kenapa-napa. 'Syukurlah sayang kamu baik-baik aja dalam perut mama. Mama benar ketakutkan jika kehilangan kamu, mama berjanji akan menjaga kamu lebih baik lagi...'


"Buu maaf aku merepotkan dan makasih telah membawa ku ke rumah sakit," ucap Nari menatap bunda Aisyah yang duduk di kursi samping berangkar.


"Sama-sama sayang, bunda tak merasa direpotkan sama sekali. Kalau kamu kenapa-napa kasih tahu bunda.. bunda sudah menganggap kamu seperti anak sendiri jadi jangan pernah sungkan pada bunda..." tutur bunda Aisyah lembut mengusap kepala Nari.


Nari tersenyum dan merasa sangat beruntung mengenal bunda Aisyah. Perempuan paruh baya yang sangat baik hati padanya.

__ADS_1


"Buu, apa aku boleh pulang sekarang?" Tanya Nari melihat jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Bentar nak, bunda panggil dokter dulu," ujar bunda Aisyah memencet tombol yang langsung terhubung ke ruangan dokter.


Lima menit kemudian datanglah dokter Riana memasuki ruang rawat Nari. Dokter Riana tersenyum melihat Nari yang sudah siuman.


"Dokter Riana," sapa Nari tidak terkejut melihat kehadiran dokter Riana.


"Heii Nari senang bertemu dengan mu lagi, kenapa kamu tidak datang lagi memeriksakan kehamilan mu?" Dokter Riana bertanya sambil melakukam pemeriksaan.


"Eum, aku merasa kehamilam tidak ada keluhan apapun dok maka dari itu aku memutuskan untuk tidak memeriksakannya..." Nari sedikit bingung mau menjawab apa jadi ia terpaksa beralasan bahwa kandungan baik-baik saja tidak punya keluhan apapun selain ini hari.


"Walaupun kamu tak punya keluhan, kamu tetap harus periksa satu bulan sekali selama masa enam bulan pertama kehamilan. Saat nanti usia kandungan tujuh sampai delapan bulan kehamilan, lakukan pemeriksaan tiap dua minggu sekali," tukas dokter Riana memberitahu Nari selaku pasiennya.


"Saya menyarankan kamu untuk rawat inap semalam dirumah sakit, agar saya bisa memantau keadaan kamu," ucap dokter Riana.


"Tadi juga saya sudah membicarakan ini dengan suami mu, dia juga menyetujuinya." Sambung dokter Riana berbicara lagi.


"Suami?! Maksud dokter suami saya mas Argian datang kesini," ucap Nari nampak senang jika perkataan dokter benar.


Dokter Riana tersenyum mengangguk padahal ia sendiri tak mengetahui nama suami Nari.


"Ehm, maaf dokter, nak Nari... bunda akan luruskan sedikit kesalahpahaman yang terjadi hari ini. Sebenarnya yang bicara bersama dokter pada saat diruangan tadi adalah putra saya Azka, bukan suami nak Nari," sanggah bunda Aisyah angkat bicara, ia tak mau sampai Nari senang diawal dan akhirnya malah menyakitinya.

__ADS_1


"Jika benar saya minta maaf bu, Nari... saya pun tak tahu, karna diruangan tadi putra ibu tak menjelaskannya," kata dokter Riana.


"Enggak apa-apa dok..." jawab Nari. Sedangkan bunda Aisyah mengangguk saja.


"Kalau begitu saya pamit, kembali keruangan. Jika butuh apa-apa saja lagi..." Dokter Riana segera melangkah keluar.


"Nari, bunda minta maaf ya soal Azka yang mengaku-ngaku menjadi suami mu," ucap bunda Aisyah merasa bersalah.


"Buu jangan minta maaf seperti itu. Aku mengerti situasinya benar-benar membingungkan, jadi ibuk jangan merasa bersalah," kata Nari menggenggam tangan bunda Aisyah.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.

__ADS_1


Terimakasihđź’“


__ADS_2