Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
35- Mencari Tahu Tentang Nari


__ADS_3

Reyhan memutuskan untuk kembali ke kantor, setelah diperintahkan oleh bossnya mengawasi seorang perempuan satu harian ini. Dimana perempuan yang diawasinya masuk ke dalam rumah yang di ketahuinya adalah kediaman Bramantio, rekan bisnis bossnya.


Mobil Reyhan berhenti di parkiran kantor Pranaja, berjalan cepat masuk ke dalam lift, untuk segera ke ruangan bossnya yang berada di lantai 35.


‘Ceklek’ Reyhan langsung saja membuka pintu ruangan tersebut tanpa mengetuk pintunya. Bossnya sendiri berpesan, jika telah sampai langsung masuk saja.


Azka yang berada di dalam dan mendengar pintunya dibuka pun, memutar kursinya menghadap ke depan.


“Lama sekali,” katanya menatap asissten kepercayaan tajam.


Reyhan mendengus kesal mendengar perkataan boss menyebalkannya. Lalu menatap jam tangannya, hanya telat dua menit masih di bilang lama. Benar-benar bossnya.


“Telat dua menit boss,” ucapnya.

__ADS_1


“Ya tapi itu lama bagi saya,” ujarnya. Reyhan hanya diam tidak menyahut lagi, karna bagaimanapun nantinya tetap dia yang salah. Jadi terserah bossnya saja lah.


“Ekhem, jadi informasi apa yang kamu dapatkan hari ini Rey?” Tanya Azka to the point tanpa ingin berbasa basi.


“Memangnya siapa sih perempuan itu boss, sampai boss menyuruh saya untuk mengawasinya?”Bukannya menjawab pertanyaan Azka, Reyhan malah balik bertanya.


“Bukan siapa-siapa, kamu tidak perlu tahu. Cukup awasi saja dia. Dan informasikan ke saya, tentang kegiatannya hari ini,” ujar Azka. Enggan untuk memberitahu perasaan yang dimilikinya untu wanita tersebut pada asissten yang sudah ia anggap seperti sodaranya sendiri.


“Baguslah kalau boss tidak ada apa-apa dengan perempuan itu. Karena tadi aku mengikutinya menuju rumah sakit, aku kira dia ingin menjenguk keluarga atau temannya yang sedang sakit. Tapi setelah aku ikuti, ternyata di masuk ke ruangan dokter kandungan. Ya boss pasti taulah artinya apa,” jelas Reyhan panjang lebar, Azka yang mendengar semua yang dikatakan oleh Reyhan hanya bisa terdiam.


“Azka,” seru Reyhan menatap boss yang malah melamun.


“Hmm,” dehem Azka, tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


“Rey, bisa kamu cari tahu lebih dalam tentang Nari. Saya minta besok pagi datanya sudah ada di meja saya. Dan kamu juga sudah boleh pulang sekarang, satu lagi kamu akan mendapatkan gaji mu bulan ini dua kali lipat. Karna kamu sudah membantu saya,” tukas Azka.


“Saya ikhlas bantu kamu ka,” ujar Reyhan. Bagimanapun Azka telah banyak menolong dia, ibaratkan Azka adalah malaikat penolongnya, karna Azka lah dia bisa bangkit sekarang ini. Reyhan juga sudah berjanji pada dirinya akan terus membantu Azka apapun yang dibutuhkan pria tersebut. Bahkan jika Azka membutuhkan nyawa sekalipun akan ia korbankan. Memang terdengar berlebihan, namun itulah kenyantaannya.


“Tidak papa Rey, kamu berhak mendapatkan bonus atas kerja mu. Anggap saja ini adalah kerja keras kamu, jadi jangan menolak," putus Azka berdiri menepuk bahu Reyhan.


Reyhan tidak bisa mengatakan untuk menolaknya, Azka sendiri sudah memutuskan. Keputusan Azka tidak bisa di ganggu gugat.


Setelah Reyhan keluar dari ruangan Azka. Azka masih duduk di kursi kebesaran, otak pria itu terus bekerja memikirkan Nari, menebak-nebak sesuatu.


“Arghh, mengapa aku semakin penasaran dengan Nari. Aku harus mencari tahu, alasan dia menolak lamaranku. Memang saat itu kami baru bertemu dua kali, dan aku langsung melamarnya. Tapi setidaknya dia tidak pergi dan menjelaskan sesuatu.”


Tak mau berlarut memikirkannya, Azka memutuskan untuk pulang kerumahnya. Nanti di perjalanan dia akan singgah ke masjid dulu, untuk menunaikan sholat maghrib. Sebentar lagi akan masuk waktu maghrib.

__ADS_1


****


__ADS_2