Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
32-PPT


__ADS_3

Argian bersiap dengan setelan kerjanya, bercermin menyisir rambutnya. Entah mengapa hari ini dasi yang mengantung di lehernya, susah untuk di simpulkan. Beberapa kali ia mencobanya, tetap tidak bisa dan malah menjadi amburadul.


“Arghh... mengapa tiba-tiba aku lupa cara menyimpulkan dasi,” gerutu Argian tanpa sadar di dengar Nari yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, sudah berpakaian lengkap.


“Ada yang bisa aku bantu mas?” Tanya Nari berniat baik ingin membantu suaminya.


“Tidak ada,” ketus Argian, lalu melangkah pergi. Tetapi Nari dengan sigap menghalanginya.


Tangan Nari menggapai dasi yang menggantung di leher Argian. Kakinya sedikit berjinjit, hanya dalam waktu dua menit dasi yang tadi amburadul menjadi tersimpul rapi.


“Mas dasinya sudah tersimpul rapi, aku tinggal ke bawah dulu mau buatin sarapan buat kamu,” ujar Nari pergi keluar meninggalkan Argian yang masih terdiam ditempatnya, sampai punggung Nari tak terlihat lagi barulah ia tersadar.


“Tidak, aku tidak boleh terpengaruh. Sadar Argian dia bukan wanita yang kamu cintai, wanita yang kamu cintai hanya Ginara. Ingatlah itu!” Gumannya. Lalu melihat tampilannya kembali di cermin. Setelah memastikan benar-benar rapi, ia mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar dari kamar menuju lantai bawah, untuk sarapan terlebih dulu.


.


Nari sedang menyiapkan sarapan dengan Bi Sri dan Nelly. Semua orang telah duduk di meja makan menikmati sarapan pagi mereka. Selesai sarapan Nari mengantar Argian sampai ke depan pintu depan.


“Emm, mas,” panggil Nari penuh kehati-hatian, takut Argian bicara ketus atau membentaknya.


“Hmm, kenapa?” Bales Argian bertanya dengan nada bicara dingin.


“Eung, apa mas hari ini sibuk di kantor?” Cicitnya bertanya.


“Ya, memangnya ada apa. Bicara yang jelas, tidak usah basa-basi,” pungkasnya.


“Begini mas, aku mau minta temenin ke dokter kandungan bisa? Aku mau memastikan kalau aku benar-benar hamil... Emm, tapi kalau misalnya mas sibuk, tidak apa-apa kok aku sendirian saja ke dokter kandungan,” tuturnya tidak ada sedikitpun memaksa, dia hanya ingin bertanya suaminya bisa atau tidak menemaninya. Jikalaupun tidak bisa, ia tidak akan memaksanya.


“Hmm, nanti siang saya jemput,” ucap Argian.


Mendengar jawaban dari sang suami membuat hatinya bersorak senang, seakan-akan kupu-kupu di dalam perutnya berterbangan. Akhirnya suami dinginya mau menemaninya ke rumah sakit.


“Makasih mas sudah mau menemani aku,” bales Nari tersenyum kecil. Ia lalu mengambil tangan suaminya untuk di cium.


Argian yang mendapati tangan di cium oleh istri tak dianggapnya tersentak. Dengan cepat ia menarik tangannya kembali, setelah Nari selesai menciumnya.

__ADS_1


Secepatnya Argian masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Lalu membawa mobilnya keluar dari dalam gerbang, dari kaca spion Nari masih terlihat berdiri menunggu sampai mobil yang di kendarai Argian keluar dari gerbang.


Setelah itu Nari memasuki rumah kembali dan menuju kamarnya. Ia juga harus bersiap pergi ke toko kue bunda Aisyah. Rencana ia akan meminta maaf, karena sudah beberapa hari tidak masuk dan tidak memberi kabar sama sekali. Kalau nanti dirinya di pecat oleh bunda Aisyah, dia akan menerima konsekuensinya, menurutnya semua ini kesalahan jadi ia akan mempertanggungjawabkannya.


.


Kini Nari sudah berada di depan toko bunda Aisyah. Sepanjang jalan tadi dirinya terus berdoa agar tidak di pecat, karena sebagian uang gajihan selalu dia berikan kepada ibu panti, untuk kebutuhan adik-adiknya disana.


Entah ini kebetulah atau apa? Bertepatan sekali saat dia masuk langsung bertemu bunda Aisyah.


“Nari,” seru bunda Aisyah.


“Emm, buu,” sapa Nari membalasnya.


Bunda Aisyah langsung memberikan Nari sebuah pelukan hangat. Dugaan Nari ternyata salah, ia mengira tadinya bunda Aisyah akan marah padanya karna tidak masuk kerja beberapa hari ini. Tapi lihat sekarang bunda Aisyah malah memeluk erat, sudah seperti orang yang lama tidak berjumpa.


“Nari, bunda kangen sama kamu. Kamu kemana saja tidak memberi kabar,” ujar bunda Aisyah.


“Buu... Nari minta maaf beberapa ini tidak masuk kerja, kalau misalnya ibu mau pecat aku, aku siap kok bu. Karna ini memang salah aku sendiri yang tidak meminta ijin dan main tidak masuk,” tutur Nari, sedang kedua teman yang sudah dianggapnya kakak sendiri yaitu Maya dan Marsa hanya melihat dan mendengarkan percakapannya bersama bunda Aisyah.


“May, semoga aja Nari ga di pecat ya. Aku ga rela deh rasanya kalau berpisah sama Nari. Soalnya dia anaknya rajin terus baik banget pokoknya,” ujar Marsa mendoakan agar Nari tak di pecat.


“Iya sa, aku juga udah sayang banget sama Nari. Tapi mana mungkin sih bu Aisyah tega mecat Nari, apalagikan ngga ada yang bisa buat kue seenak Nari yang bisa menandingi bu Aisyah,” sahut Maya.


“Bener kamu may, hanya Nari saja yang bisa menandingi kue buatan bunda Aisyah,” bales Marsa balik.


“Maka dari itu Nari adalah orang yang tepat bekerja disini dan tidak boleh di pecat. Intinya kita berdoa saja yang terbaik buat Nari,” kata Maya.


.


Nari dan bunda Aisyah duduk saling berdekatan. Agar lebih nyaman mengobrolnya.


“Begini Nari, bunda mau minta maaf sebelumnya soal ungkapan Azka kemaren yang begitu cepat ingin melamar kamu sebagai istrinya,” ucap bunda Aisyah.


Degg!

__ADS_1


Entah kenapa Nari bisa melupakan hal itu! Dan sekarang ia mengingatnya lagi saat bunda Aisyah mengatakannya.


“Buu, maaf sebelumnya sebe-narnya a-aku su..dah me...nikah,” ujar Nari terbata-bata mengatakannya, tapi masih bisa di mengerti oleh bunda Aisyah.


“Mengapa kamu tidak bilang sebelumnya nak?” Tanya bunda Aisyah.


“Maaf buu! Kemarin Nari sangat terkejut saat tiba-tiba saja tuan Azka menyatakannya,” ujar Nari.


“Yasudah tidak apa-apa nak, mungkin kamu belum berjodoh dengan anak bunda. Bunda juga minta maaf soal kemarin, bunda juga mengerti mengapa kamu tidak masuk dan bunda memakluminya. Kamu tetap akan bekerja disini nak, karena bunda tidak ingin kehilangan karyawan seperti kamu,” kata bunda Aisyah tersenyum dan memeluk Nari kembali.


“Selamat untuk pernikahan kamu, semoga samawa. Bunda akan selalu berdoa untuk kebaikan kamu,” tulus bunda Aisyah.


“Makasih buu,” hanya terimakasih lah yang bisa diucapkan oleh Nari.


.


Sekarang Nari sudah berada di dapur membuat kue kembali. Tiba-tiba saja Marsa dan Maya langsung memeluknya.


“Kak sa, kak may, ngagetin aku aja,” ucap Nari.


“Kita senang deh, adik cantik kita sudah kembali lagi,” ucap Marsa kesenangan sampai menciumi pipi Nari sebagai tanda sayang diikuti oleh Maya juga yang melakukannya.


“Aaa... pokoknya kita senang banget!” Tukas Maya tak bisa berkata-kata lagi untuk mengungkapkan kesenangannya.


Akhirnya mereka bertiga saling berpelukan, hingga beberapa menit kemudian melepaskan pelukan mereka dan saat ketiganya kembali bekerja dengan perkerjaan mereka masing-masing.


****


Follow ig|| @antiloversn


Bersambung....


Jangan lupa like, comennt, rate 5, vote+gifts nya.


Terimakasih💕

__ADS_1


__ADS_2