
Tok...tokk! Nari mendengar suara pintu yang diketuk. Ia beranjak dari ranjang menuju pintu untu membukakannya.
"Maaf non menganggu, nona dan tuan dipanggil Oma Ayu untuk sarapan bersama," ucap Bi Fitri memberitahu.
"Baik bi, beritahu oma, kami akan segera ke bawah," balas Nari menutup pintunya pergi memberitahu suaminya. Setelah itu Bi Fitri bergegas turun kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Mas, kita di panggil oma makan malam bersama," ujar Nari. Argian menghentikan memainkan handphonenya, lalu bergegas turun bersama ke bawah.
Argian melingkarkan tangan ke pinggang Nari. Membuat Nari menatap suaminya heran. Sampai di meja makan Argian menarik kursi agar Nari duduk.
"Karna sudah lengkap, ayo sekarang kita mulai makan malamnya," ujar Oma Ayu. "Nari, kamu harus makan yang banyak. Oma liat kamu kurusan."
"Iya oma, tapi aku emang ga bisa makan terlalu banyak oma," ucap Nari.
"Yang dikatakan oma benar sayang, kamu harus banyak makan biar berisi," celetuk Argian. Sebenarnya menurutnya Nari tak terlalu kurus. Entahlah, apa maksud omanya.
"Eum, iya mas," cicit Nari.
Mereka berempat pun makan malam dalam keheningan. Nari bingung dengan suaminya yang tiba-tiba baik padanya, bahkan memperlakukan seperti seorang istri yang sebenarnya.
'Ada apa dengan mas Argi? Aku hanya takut mas Argi hanya bersandiwara saja, berpura-pura baik di depan oma,' batinnya.
Selesai makan malam, sekarang mereka berkumpul di ruang keluarga. Berbincang-bincang sebentar hingga Oma Ayu, pamit untuk beristirahat. Karna sudah jam sudah menunjukkan pukul 21:00.
"Nari, Argi. Oma mau ke kamar, mata oma sudah mengantuk," ujar Oma Ayu segera berdiri diri.
"Iya oma, mau aku antar ke kamarnya," tawar Nari ingin mengantarkan.
"Gausah Nari, biar oma diantar sama Rachel," tolak Oma Ayu, lalu memberi kode kedipan pada Rachel asisstennya untuk mengikutinya.
Kini tinggalah mereka berdua di ruang tamu. Nari yang asik menonton filmnya, sedangkan Argian tengah berbalas pesan dengan Ginara.
Melihat suaminya yang sedari tadi hanya sibuk dengan handphone ditangan dan tak menghiraukannya sama sekali.
"Membosankan sekali, lebih baik aku di kamar saja," guman Nari.
"Mas aku duluan ke kamar ya," seru Nari.
__ADS_1
"Iya nanti saya nyusul," balas Argian. Nari bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamar mereka.
Di dalam kamar Nari membaringkan tubuhnya ke ranjang. Menyelimuti dirinya sebatas dada, Nari membolak-balik badannya, tapi tetap saja matanya tidak bisa tidur. Mungkin karna memang belum mengantuk.
.
"Hallo sayang,"
"........."
"Sabar ya, tiga hari lagi aku bakal pulang. Aku juga udah kangen banget sama kamu,"
".........."
"Kamu mau oleh-oleh apa nanti aku belikan,"
".........."
"Nanti aku belikan,"
".........."
Tutt! Sambungan berakhir, Argian sendiri yang memutuskannya. Setelah telponan dengan kekasih Argian tidak berhenti tersenyum. Belum ada sehari dia sudah sangat merindukan Ginara.
Argian mengambil kopinya yang sedari tadi belum disentuhnya. Lalu meminumnyan dengan sekali tegukan, tak berselang lama tubuhnya terasa gerah. Sesuatu dalam dirinya terbangkitkan, karena tak bisa menahannya Argian berjalan cepat menaiki anak tangga.
Braak! Nari yang berada di atas ranjang langsung terduduk. Karna terkejut mendengar suara pintu di banting dengan kasar.
"Loh mas, ngagetin aja," ujar Nari. Saat ingin berbaring kembali, Argian bersuara membuatnya tidak jadi berbaring.
"Bisa bantu saya melepaskan baju ini, saya merasa sangat gerah sekali," suara Argian terdengar parau.
"Memangnya mas ga bisa buka sendiri?" tanya Nari. Membuat Argian memberikan gelengan.
Nari pun berdiri menghampiri Argian, tangannya dengan cekatan membuka baju kemeja yang dipakai suaminya. Setelah terbuka air liur Nari hampir saja menetes, ini pertama kalinya ia memandang tubuh suaminya dalam jarak dekat. Apalagi dalam waktu yang lama....
"Sentuhlah jika kamu ingin," ujar Argian memberikan ijin.
__ADS_1
"Eum, engga mas," Nari menggeleng menghilangkan keinginannya untuk menyentuh suaminya.
Argian tahu Nari hanya malu untuk melakukannya. Maka tangannya bergerak mengambil tangan kanan Nari, membawanya ke perut kotak-kotaknya. Nari hanya bisa menahan nafas, ketika merasakan tangan menyentuh yang tadi diinginkannya.
Keduanya saling bersitatap, sama-sama terdiam menikmati kedekatan mereka. Hingga suara Argian memecah keheningan.
"Bolehkah saya meminta hak saya?" tanya Argian yang tiba-tiba meminta haknya. Sungguh ini diluar pikirannya, karna sekarang dirinya benar-benar membutuhkan sentuhan.
"Hak?"
"Iya, apakah boleh? Saya tak akan memaksa jika kamu tidak mau," suara Argian terdengar parau dan ini lebih parah. Ia benar tak bisa menahannya lagi.
'Kenapa mas Argi meminta haknya, apa mas Argi lupa tentang malam yang telah kami lalui bersama.' batinnya.
"Bagaimana apakah boleh, sungguh di dalam diri saya saat ini tidak tertahankan lagi. Seperti ada sesuatu yang menginginkan saya menyentuh kamu," jelasnya.
Nari memperhatikan wajah suaminya dengan sangat teliti, benar saja wajah suaminya sedikit memerah. Dengan menghilangkan keraguan yang tengah menghinggapi dirinya sekarang. Nari akhirnya mengangguk, yang arti memperbolehkan. Jika dipikir-pikir kalau menolaknya, akan menjadi dosa untuk dirinya.
Tanpa membuang waktu Argian membopong tubuh Nari ala bridal style berjalan menuju ranjang. Argian merebahkan tubuh Nari dengan lembut, ia akan memperlakukan Nari selembut mungkin. Sedang Nari merasa sangat gugup sekarang, apalagi tangan Argian membuka kancing bajunya. Semua itu tak pernah lepas dari tatapan Nari, bahkan kini keduannya sama-sama tidak memakai apapun.
Hingga tak terasa waktu sekarang menunjukkan pukul 01:00, yang artinya mereka melakukannya 4 jam. Dimana Argian sudah tertidur setelah mendapatkannya, Nari yang masih membuka matanya malah menghadap ke sampingnya. Perlahan membawa tangannya membelai wajah suaminya.
"Kamu tampan datar dan dingin mas, tetapi berbanding terbalik jika kamu sedang tidur. Sungguh terlihat damai, aku mencintaimu suamiku. Aku hanya bisa berdoa agar kamu bisa menerima aku sebagai istrimu. Tak pa-pa jika tadi kamu bersandiwara, tapi aku merasa senang sekali diperlakukan seperti itu." gumannya. Ia tak pernah menyesal bisa menikah dengan pria ini. Bahkan hatinya sudah sepenuhnya diserahkannya pada suaminya ini.
"Aku percaya suatu saat nanti kamu akan mencintaiku, seperti aku yang mencintaimu. Tinggal menunggu waktu saja. Tapi jika nanti kamu belum juga bisa membalas cintaku ini, tak apa aku akan mengerti. Asalkan kamu tidak menyakitiku, karna kalau aku sudah lelah. Aku tidak yakin bisa bertahan lagi bersamamu mas."
"Aku tahu kamu adalah pria yang baik mas, entah siapa yang merubah mu menjadi seperti ini. Apa mungkin kamu mencintai Angel mas, kamu berubah karna tidak jadi menikah dengannya. Tapi jika itu tak mungkin karna Angel sendiri mengatakan bahwa ia di jodohkan oleh kedua orangtuanya dan tak pernah melihat seperti apa wajahmu. Bahkan aku sendiri yang mengirimkan foto kamu kepada Angel."
Tidak terasa wakth berjalan sangat cepat, mata Nari sudah sangat mengantuk. Setelah tadi ia berbicara sendiri mencurahkan apa yang ada dalam hatinya. Dia baru bisa berbicara memcurahkan yang ada dalam hatinya saat suaminya tengah tertidur dan ini juga pertama kalinya. Karna biasanya Nari lah yang duluan tertidur, bahkan dirumah Nari tidak tidur seranjang dengan Argian. Argian sendiri tak ingin tidur dalam satu ranjang yang sama, makanya Nari baru kali ini bisa sedekat itu dengan suaminya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓