
Argian keluar dari kamar adik menuju ke kamarnya. Tadi ia sudah berbicara dan membujuk adiknya, menyakinkan adiknya bahwa ia akan sering-sering ke mansion.
Argian menatap Nari yang tengah bersandar diranjang sambil mengelus perutnya yang masih rata dan belum kelihatan.
“Ehem! Apa koper-koper sudah dibawa pak Surian ke bagasi mobil?” Tanya Argian dijawab Nari dengan anggukan tanpa berniat berbicara.
“Apa kau tidak punya mulut sehingga tak bisa mengeluarkan suara sepatah katapun!” Nari hanya mengedikkan bahu.
Argian berang melihat tingkah laku Nari. Tadi saat dimeja makan wanita itu baik-baik saja tidak ada masalah dengannya bahkan terlihat sangat manis memperlakukan dirinya. Sekarang malah seperti malas bicara dengannya. Apa maunya wanita ini? Kelakuannya berubah-ubah seperti bunglon saja.
‘Mengapa aku jadi mengurusinya, biarkan saja. Malah itu lebih baik, karena dia tidak mungkin merepotkan ku.’ Batinnya.
“Kita berangkat sekarang.” Pungkas Argian keluar dari kamar tanpa menunggu Nari.
“Bagaimana kamu terlihat baik-baik saja mas! Apa kamu tidak merasa bersalah dengaku, setidak kamu mengatakan maaf. Sepertinya kata itu sangat susah keluar dari mulut mu. Seandainya saja kau mengatakan itu, aku pasti memaafkan mu. Sayangnya semua itu mustahil aku dengar...” gumam Nari.
Perlahan berjalan keluar dari kamar menyusul Argian ke bawah. Nari berpapasan dengan Gea yang menatap marah padanya, gadis sengaja menabrak bahu kencang. Beruntunglah Nari bisa menjaga keseimbangan, jika tidak tubuh akan oleng dan jatuh terguling ditangga yang lumayan tinggi.
“Astagfirullahaladzim, hampir saja mama terjatuh nak,” ucap Nari beristigfar dan bicara pada bayi dalam perutnya.
__ADS_1
Kaki melangkah pelan menuruni anak tangga satu persatu dengan penuh kehati-hatian. Takut membahayakan anak dalam kandungannya.
“Turun aja lama banget sih kamu. Kasihan putra saya dari nungguin kamu,” ketus mama Felly bersungut-sungut memarahi Nari.
Nari yang sudah biasa mendengar nada ketus dari mama mertuanya, hanya diam saja tak mau membalas atau membantah.
“Kakak udah janji bakalan sering-sering kesini. Tapi jika kakak berkunjung kesini jangan membawa perempuan itu,” ucap Argea berbisik diakhir kalimat takut didengar papanya.
“Iya sayang, kakak bakalan sering-sering kesini. Adek jangan sedih-sedih dong, kakak jadi enggan mau ninggali,” seloroh Argian bercanda.
“Bagus dong! Adek malah senang,” ucap Argea.
Setelah melepaskan pelukan erat mereka. Argian mendaratkan ciuman dikening sang adik. Membuat Argea tersenyum kembali.
“Nah, gitukan cantik,” puji Argian ketika melihat senyuman dibibir adiknya.
Nari menyaksikan ikut senang dan tersenyum tipis. Tidak ada yang melihat senyumannya.
“Yaudah pah, mah. Kami berangkat dulu.” Argian menyalami tangan mama dan papanya.
__ADS_1
Nari melakukan hal yang sama. Tetapi mama mertua malah menyembunyikan tangan tidak mau disalami, hanya papa mertuanya saja yang masih memberikan tangan untuk disalami dirinya.
Kedua pasangan suami istri itu langsung masu ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan. Selama perjalanan hanya ada keheningan antara pasangan suami istri tersebut. Nari asik mengelus perutnya sedari tadi. Argian yang melirik wanita disampingnya tiba-tiba menginginkan telapak tangannya harus berada di perut wanita disampingnya.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1