Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
Bab 10


__ADS_3

Usai berkemas, Diah pun segera bersiap untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa. Diah membantu Mbok Tini membuatkan sarapan untuk Bu Dewi dan bergegas melihat Bu Dewi di dalam kamar.


Diah berusaha sebaik mungkin untuk menahan rasa malu yang sebenarnya sudah menggerogoti dirinya. Gadis itu membuka pintu kamar Bu Dewi dengan perlahan dan melihat Bu Dewi yang sudah terbangun dari tidur.


Bu Dewi masih tetap bersikap seperti biasa dan menganggap seolah tak terjadi apa pun antara dirinya dan Diah. Bu Dewi tak mau lagi memperbesar masalah dan ingin melupakan kejadian tersebut.


Meskipun Bu Dewi bersikap biasa, mana mungkin Diah bisa bersikap biasa saja? Gadis itu tetap merawat Bu Dewi seperti biasa walaupun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Suasana kamar menjadi sangat hening. Diah mengambilkan air hangat seperti biasa dan membantu membasuh tubuh Bu Dewi di pagi hari. Usai mengurus Bu Dewi membasuh tubuh, Diah segera menyiapkan sarapan dan menemani Bu Dewi menikmati makan pagi.


Semuanya Diah lakukan dengan mulut terbuka merapat. Gadis itu tidak membuka mulut sedikitpun meskipun bibirnya menampakkan senyuman. Bu Dewi pun mulai merasa aneh dengan sikap Diah yang tak seperti biasanya.


'Kenapa Diah diam saja sejak tadi? Biasanya Diah sangat cerewet," batin Bu Dewi merasa kehilangan sosok Diah yang cerewet.


Bu Dewi pun ikut diam dan tenggelam dalam kecanggungan. Wanita paruh baya itu tidak menanyakan apa pun pada Diah meskipun ia merasakan perubahan Diah yang begitu jelas terlihat.


Bu Dewi sama sekali tak menyangka jika Diah bermaksud ingin meninggalkan dirinya dan berhenti mengasuhnya. Selesai menikmati sarapan pagi, Bu Dewi pun memilih untuk beristirahat di dalam kamar, tanpa tahu jika pengasuhnya sedang bersiap untuk pergi meninggalkan rumah.


"Nyonya, maafkan saya," ucap Diah pada Bu Dewi yang sangat ini telah terlelap di atas ranjang.


"Saya pamit, ya?" ujar Diah lagi sembari meletakkan sesuatu di meja kamar Bu Dewi.


Ya, gadis itu berpamitan pada Bu Dewi tanpa menunggu majikannya terbangun. Usai meletakkan sesuatu di kamar Bu Dewi, Diah segera keluar dari ruangan tersebut dan mengambil barang-barang yang sudah ia kemas di dalam kamarnya.


Meskipun langkahnya terasa berat, tapi Diah sudah membulatkan tekad untuk memulai hidup baru tanpa lagi mengenal Bu Dewi dan Ardi.

__ADS_1


"Semoga cepat sembuh, Nyonya. Saya akan mengingat Nyonya selalu. Semoga nyonya selalu sehat," oceh Diah di depan pintu kamar Bu Dewi yang tertutup rapat.


Dengan membawa tas besar miliknya, Diah pun bergegas meninggalkan rumah sebelum Mbok Tini memergoki dirinya. Dengan uang seadanya, Diah pun pulang ke rumahnya dan memulai membuat rencana baru untuk melanjutkan hidupnya.


"Semoga uangnya cukup untuk ongkos," gumam Diah. Bak TKW yang hendak kabur, Diah segera pergi menuju ke terminal bus untuk pulang ke rumahnya dan mencari pekerjaan baru untuk menyambung hidup.


"Maafkan saya, Bu Dewi. Semoga saja Bu Dewi bisa mendapatkan pengasuh baru yang lebih baik," ujar Diah.


***


Siang harinya, Bu Dewi terbangun dari tidurnya dan mengakhiri acara istirahatnya. Manik mata wanita paruh baya itu langsung tertuju pada barang-barang yang tergeletak di atas nakas di kamarnya.


Sudah ada kotak perhiasan dan sepucuk surat di sana. Dengan susah payah, Bu Dewi pun meraih kotak perhiasan tersebut dan memeriksa isinya.


"Bukannya ini perhiasan yang aku berikan kepada Diah?" gumam Bu Dewi. "Kenapa bisa ada di sini?"


"Surat apa ini?" gumam Bu Dewi dengan dahi berkerut.


Bu Dewi membaca dengan seksama isi surat tersebut. Ia benar-benar tak menyangka jika surat itu ternyata berasal dari pengasuhnya yang telah pergi meninggalkan rumah dan hanya berpamitan dengan sepucuk surat.


[Saat Nyonya membaca surat ini, mungkin saya sudah tidak ada lagi di rumah ini. Maafkan saya, saya hanya bisa meninggalkan sepucuk surat ini sebagai ucapan perpisahan dan permintaan maaf.]


Tangan Bu Dewi mulai gemetaran saat membaca isi surat tersebut. "Maksudnya apa ini? Diah pergi dari sini?"


[Saya benar-benar tidak tahu bagaimana saya harus membuktikan kalau memang bukan saya yang mencuri perhiasan Nyonya. Sedikitpun saya tidak pernah memiliki niat untuk mengambil barang-barang Nyonya sejak saya menginjakkan kaki di rumah ini. Saya hanya ingin mencari nafkah dan mencari berkah dari pekerjaan saya. Tapi sepertinya rezeki saya sudah berhenti di sini.]

__ADS_1


"Diah? Kenapa kamu melakukan hal ini?" Bu Dewi tak menyangka insiden perhiasan yang terjadi kemarin akan membuat Diah meninggalkan dirinya dan berhenti dari pekerjaan.


[Saya benar-benar malu. Saya malu tapi saya juga tidak bisa membuktikan kalau saya memang tidak bersalah. Terima kasih banyak Nyonya masih mempercayai saya. Terima kasih banyak Nyonya sudah menyelamatkan harga diri saya di depan orang-orang. Tapi saya benar-benar merasa seperti pencuri sekarang meskipun saya tidak melakukan apa pun.]


[Saya kembalikan lagi barang yang bukan menjadi hak saya. Terima kasih banyak untuk segala kebaikan Nyonya selama ini. Saya benar-benar senang sekali bisa bekerja dengan Nyonya Dewi dan Tuan Ardi. Semoga Nyonya sehat selalu dan nanti semoga Nyonya bisa mendapatkan pengasuh yang lebih baik dari saya.]


Bu Dewi menangis membaca surat yang ditulis oleh pengasuhnya itu. Bu Dewi memeluk ke arah kertas surat tersebut dengan tangis sesenggukan.


[Semoga kita bisa dipertemukan kembali suatu hari nanti jika ada kesempatan. Saya pamit pulang, Nyonya. Saya mohon izin pamit dari rumah ini dan pekerjaan ini.]


"Astaga, kamu pergi ke mana dia?"


Bu Dewi segera mencari ponselnya untuk menghubungi Ardi yang saat ini masih berada di kantor. Dengan tangan gemetaran, wanita paruh baya itu mengotak-atik layar ponselnya untuk memberitahu Ardi.


Sementara, Ardi yang tengah sibuk menikmati makan siang pun segera beralih pada ponselnya untuk mengangkat panggilan telepon dari Bu Dewi. "Kenapa Mama telepon?" gumam Ardi sembari memandangi layar ponselnya.


"Halo, Ma? Ada apa? Mama baik-baik saja kan?" tanya Ardi agak cemas saat menerima menerima telepon dari ibunya.


"Halo, Ardi? Kamu masih di kantor sekarang? Bisa tolong kamu pulang sekarang?" pinta Bu Dewi sembari menangis.


Ardi pun sukses dibuat panik sangat mendengar suara tangisan ibunya di telepon. "Ada apa, Ma? Mama baik-baik saja, kan? Apa yang terjadi dengan Mama?" tanya Ardi.


"Ini soal Diah, Ardi! Mama bangun dari tidur, lalu Mama melihat surat dari Diah. Sepertinya Diah sudah pergi dari rumah!" ungkap Bu Dewi.


Ardi terdiam sejenak. Pria itu mencoba mencerna baik-baik maksud ucapan ibunya. "Apa Mama bilang? Diah pergi?"

__ADS_1


"***


__ADS_2