
Ardi terus berdoa, ia sudah melakukan semua yang dia bisa. Memberikan darahnya untuk sang istri yang sudah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anaknya. Ardi pun menjaga Diah selama hampir dua hari tak sadarkan diri karena pendarahan hebat yang Diah alami. Ardi menatap wajah Diah, terus berdoa dan menggenggam jemari istrinya. Perlahan, Ardi dapat merasakan jemari Diah bergerak. Dengan cepat Ardi melihat tangan itu, lalu menatap wajah istrinya yang masih tampak terlelap. Jemari Diah bergerak lagi, Ardi langsung menekan tombol di sisi ranjang untuk memanggil perawat.
Tak lama dokter datang bersama beberapa perawat, memeriksa Diah dengan seksama. Ardi terus berharap cemas menunggu. Kelopak mata Diah bergerak, dan perlahan terbuka. Ardi merasa sangat bersyukur hingga ia kehilangan kata-kata.
"Alhamdulillah,," ucap syukur mbok Tini dan juga Bu Dewi yang saat itu ikut menunggui Diah.
"Alhamdulillah," ucap Ardi mengikuti dengan suara lirih.
"Ibu Diah, jangan terlalu di paksa, ibu baru saja tersadar, apa yang ibu rasakan?" Tanya dokter.
"Sedikit pusing dok."
"Tidak apa-apa, itu normal. Selamat datang kembali, Bu Diah."
Mata Diah mengedar ke sekeliling ruangan. Melihat Bu Dewi yang tersenyum lega dan berurai air mata, mbok Tini yang sedang menggendong seorang bayi kecil, dua dokter dan perawat. Dan terakhir, pandangan mata Diah jatuh pada sosok suaminya. Diah menutup matanya, perasaannya sangat tak tenang, tapi juga merasa lega. Melihat kembali wajah suaminya, Diah menitikkan air mata. Lalu kembali terlelap.
"Ke-kenapa istri saya tidur lagi dok?"
"Biarkan Bu Diah beristirahat dulu, saat ini ia masih dalam pemulihan. Setidaknya, Bu Diah sudah sadar." Terang sang dokter."Nanti bila Bu Diah bangun lagi, beri sedikit minuman hangat. Jangan di beri makanan dulu, nanti kami akan menyiapkan makanan khusus untuknya."
"Baik, terima kasih dok."
Ardi menatap Diah yang kembali memejamkan mata. Ada rasa sedih dan nyeri yang hinggap di hatinya.
Malam itu, Diah membuka mata, melihat langit-langit kamar rumah sakit. Aroma anti septik yang menjadi khas rumah sakit tercium oleh hidungnya. Diah merasa tangannya begitu hangat, pandangan mata Diah jatuh pada sosok pria yang tidur dengan kepala yang tersandar pada sisi brankar dan mengenggam tangannya.
"Apa dia menggenggam tangan ku sepanjang malam?" Gumam Diah. Sorot mata berubah sendu. Mencob untuk bangun dan duduk bersandar, namun rasa nyeri di perutnya membuat Diah mengurungkan.
"Diah, kamu sudah sadar?" Suara mbok Tini sedikit mengejutkannya.
__ADS_1
"Anakku..." Lirih Diah.
"Sekecil sedang tidur di sana." Tunjuk mbok Tini pada box bayi tak jauh dari Diah terbaring. Diah mencoba menarik tangan yang Ardi genggam. Gerakan tangannya membuat pria itu semakin menguatkan genggaman dan perlahan mata Ardi terbuka. Dengan segera Ardi mengangkat kepalanya, melihat Diah sudah membuka mata, Ardi sangat bersyukur.
"Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Kamu butuh sesuatu?"
Diah segera menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman sang suami. Dan memindahkan nya ke sisi tubuhnya. Kecanggungan terasa mengitari mereka. Beradu tatap dengan Ardi membuat Diah merasa tak nyaman. Dan memilih mengalihkan pandangan, Diah mencoba untuk bangun duduk sekali lagi. Melihat gerakan Diah, Ardi segera membantu dengan sedikit menegakkan punggungan brankar.
"Apa segini cukup? Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?" Kalimat tanya yang bernada khawatir itu membuat Diah semakin tak nyaman. Tapi, ia memilih tak menjawab semua pertanyaan Ardi, dan menganggap pria itu tak ada.
"Mbok, aku ingin melihat anakku."
Mbok Tini mengangkat bayi yang masih terlelap di box lalu membawanya dekat pada sang ibu. Diah tersenyum memandang anak gadis nya yang baru ia lihat malam ini. Mencium wajah mungil yang menggemaskan, sampai anak gadisnya itu menggeliat.
"Dia cantik sekali."
"Iya, mirip mamanya," celetuk Ardi mencoba mencairkan ketegangan antara dirinya dan Diah.
"Kamu butuh apa? Biar ku ambilkan."
Diah tak menggubris dan mencoba mengambil botol di atas lemari penyimpanan.
"Minum? Kamu mau minum?" Ardi mengambil botol ukuran sedang itu dan mengambil sedotan, membuka segel botol lalu memasukan sedotan ke dalamnya. Ardi mengulurkan botol ke arah Diah. Diah menyenderkan lagi punggung nya, dan mengatur nafas tanpa menerima botol dari Ardi. wanita itu masih menggendong anaknya dalam pelukan.
"Mbok, boleh aku minta air?"
Ardi tersenyum kecut, ia tau diabaikan oleh istrinya. Namun, ia tetap berpikiran positif dan memaklumi sikap Diah. Melihat sikap Diah padanya, ia benar-benar tau apa itu diabaikan. Mbok Tini menatap Diah, lalu menatap tuannya dengan pandangan kasihan. Dengan gerakan lambat, Ardi menyerahkan botol yang ia bawa pada mbok Tini.
"Saya keluar cari kopi dulu, mbok. Tolong jaga Diah dan putri kami sebentar." Ucap Ardi lirih, mencoba menyembunyikan rasa sakit di dadanya.
__ADS_1
"Iya, tuan."
Ardi berganti menatap Diah yang sedikitpun tak menatapnya. Wanita itu memilih menatap bayi yang sedang terlelap dalam pelukannya. Perlahan tangan Ardi bergerak hendak menyentuh kepala istrinya. Namun, segera ia urungkan, tersenyum tipis pada mbok Tini dan pergi meninggalkan ruangan Diah di rawat.
Diah menghela nafas lega begitu Ardi pergi. Mbok Tini mendekat dan membantu Diah minum dengan memegang botol, karena wanita itu masih menggendong sang bayi.
"Sudah?"
"Makasih, mbok."
"Dedeknya biar istirahat dulu ya," bujuk mbok Tini mengambil alih si adek setelah meletakkan botol minum Diah."kamu istirahat juga."
"Makasih, mbok."
Mbok Tini menatap Diah sejenak, sedikit melirik pintu masuk yang beberapa saat lalu Ardi lewati untuk keluar. Mbok Tini menghela nafas berat.
"Nggak sepatutnya kamu begitu pada tuan Ardi, Diah." Mbok Tini mulai menyuarakan keberatan nya akan sikap Diah pada Ardi."Tuan Ardi itu suamimu. Dia sudah menjagamu dari pagi sampai ketemu pagi lagi. Tuan Ardi juga sudah mendonorkan banyak darahnya buatmu. Dia sangat mencemaskan mu sampai lupa makan." ungkap Mbok Tini lagi,
"Mbok dengar kalian mau bercerai, di pikirkan lagi, yah. Kasihan dedeknya kalau kalian bercerai. Nyonya sudah cerita sama mbok. Mbok tau kamu pasti tertekan sama sikap tuan Ardi, tapi dia sebenarnya baik Diah. Dia sayang sama kamu. selama mbok kerja ikut nyonyah Dewi, nggak pernah sekalipun mbok lihat tuan Ardi menangis. Tapi, kemarin.... haaahh... Dia benar-benar takut kehilangan kamu, yah."
Mbok Tini terdiam menjeda sesaat ucapan nya. Menatap Diah yang memilih diam, mbok Tini menghela nafas lagi.
"Kamu itu sebenarnya, cinta nggak to sama Tuan Ardi?"
Diah bungkam,
"Tuan Ardi itu benar-benar perduli sama kamu, Diah. Jangan keras kepala..."
"Mbok, kepalaku pusing, aku mau tidur." Potong Diah merasa jengah, mbok Tini terus berbicara seolah mengerti keadaan yang sebenarnya tanpa tau apa yang sudah ia lalu selama ini.
__ADS_1
Mbok Tini menghela nafasnya sekali lagi. "Ya sudah, istirahatlah."
Beberapa hari berlalu, Diah dan sang bayi akhirnya pulang. Meski masih di abaikan oleh Diah, Ardi tetap bersikap sebaik mungkin pada istrinya. Mencoba memaklumi sikap dari Diah. Ia sangat mengerti kenapa Diah sampai berlaku seperti ini. Semua atas timbal balik dari sikapnya di masa lalu yang sudah membuat Diah kecewa dan membeku. Kali ini, Ardi akan mengesampingkan semua perasaannya. Memperjuangkan hati Diah agar rumah tangga mereka tak berakhir.