Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 15


__ADS_3

Bab 15


Mila membuka pintu kamarnya dengan senyum girang. Wanita itu tak merasa bersalah sedikitpun setelah menculik dan membuang wanita lumpuh yang tidak lain ialah ibu dari kekasihnya sendiri.


"Sekarang tidak akan ada lagi penghalang bagiku dan Ardi!" cetus Mila kegirangan.


"Diah sudah tidak ada! Tante Dewi juga sudah berhasil aku singkirkan! Sekarang aku bisa mengejar Ardi dengan bebas!"


Mila pun mulai menyusun rencana baru untuk menjerat Ardi dan menikahi Ardi. Mila tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini untuk mendapatkan Ardi.


"Semoga saja Tante Dewi tidak pernah kembali!" ucap Mila penuh harap.


Dua orang yang menghalangi hubungannya dengan Ardi kini telah menghilang. Mila bisa bebas melakukan apapun pada Ardi dan mencari cara agar ia bisa segera menikahi kekasihnya itu.


"Ardi, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku! Tidak akan ada lagi orang yang menghalangi kita, Sayang!" gumam Mila sembari menatap foto dirinya bersama dengan Ardi di layar ponselnya.


"Sebaiknya aku segera mengajak Ardi untuk menikah!"


Mila memainkan ponselnya dan sibuk mencari-cari cincin pernikahan mahal yang ingin ia miliki. Sesegera mungkin wanita itu harus membujuk Ardi untuk menikahinya. Tapi Mila sangat yakin, Bu Dewi pasti tidak akan bisa kembali ke kota. Mila telah meninggalkan Dewi di pinggiran kota, tepatnya di sebuah hutan di pinggir jurang yang jauh dari pemukiman. Ia juga tidak meninggalkan apa pun pada Bu Dewi dengan kondisi lumpuh. Mila yakin Bu Dewi tidak akan bertahan lama hidup di tempat antah berantah itu.


"Cincin ini sangat bagus!" seru Mila sembari memandangi cincin cantik dan mahal yang ingin ia beli sebagai cincin pernikahannya.


Mila pun segera mengirimkan pesan pada Ardi dan mencoba untuk mengajak kekasihnya itu untuk berbaikan. Mila bahkan juga mengirimkan foto cincin yang ia mau pada Ardi sebagai kode kalau dirinya menginginkan cincin tersebut.


[Sayang, aku minta maaf. Aku sadar aku salah, aku sudah membuat keributan di rumahmu. Tolong maafkan aku, ya?]


[Cincin ini sangat bagus. Sudah lama kita menjalin hubungan, apa kamu tidak mempunyai rencana untuk meresmikan hubungan kita dalam waktu dekat?]


Ardi hanya membaca pesan dari sang kekasih tanpa ingin membalasnya. Memang sebenarnya kesalahan terletak pada Ardi yang sengaja mengabaikan Mila, tapi untuk saat ini Ardi tidak memiliki waktu untuk mengurus Mila.

__ADS_1


Pikiran Ardi sudah terpaku pada Diah. Dan pria itu sudah membulatkan tekad untuk menemukan Diah demi sang ibu.


"Maaf, Mila. Aku harus mengurus Mama terlebih dulu."


***


Bu Dewi membuka mata dan mendapati dirinya yang masih tergeletak di rerumputan. Manik mata wanita paruh baya itu menyorot ke arah jurang yang berada tak jauh darinya.


Posisi Bu Dewi masih berada di tempat di mana Mila membuang dirinya beberapa jam yang lalu. Wanita itu sudah lelah berteriak dan meminta tolong. Bu Dewi sudah kelaparan dan kehausan di tempat yang tidak didatangi oleh satu orang pun itu.


"Apa aku akan mati di sini?" gumam Bu Dewi hanya bisa pasrah.


Bagaimana tidak? Wanita paruh baya itu tergeletak di tanah tanpa alat bantu gerak. Tidak ada makanan dan minuman yang bisa mengisi perut Bu Dewi. Ditambah lagi, wanita itu juga tidak bisa bergerak ke mana pun.


"Ardi! Ardi tolong Mama, Nak!" Bu Dewi hanya bisa menangis di tempat asing tersebut.


Dada Bu Dewi sesak memikirkan bagaimana nasib putranya kini yang telah ia tinggalkan. Sudah pasti Mila akan kembali mendekati Ardi, terlebih lagi saat ini sudah tidak ada Bu Dewi di sana.


"Semoga kamu cepat sadar kalau Mila adalah wanita yang salah!" cetus Bu Dewi.


Wanita paruh baya yaitu duduk di rerumputan dengan tatapan kosong. Sudah berjam-jam lamanya Bu Dewi terdampar di tempat asing itu seorang diri. Wanita itu mulai kehausan. k


Kerongkongannya sudah mengering. Perut Bu Dewi pun juga mulai keroncongan. Entah sampai kapan Bu Dewi bisa menahan diri tanpa air dan makanan.


"Kenapa tempat ini sepi sekali?" Bu Dewi mulai putus asa. Mungkin memang hidup Bu Dewi akan berakhir di sana.


Bu Dewi tak yakin dirinya akan selamat dengan kondisinya saat ini. Mungkin saja wanita paruh baya itu akan mati kelaparan di tempat tersebut tanpa ditemukan oleh siapa pun.


"Tolong! Siapa pun tolong aku!" Bu Dewi masih mencoba berteriak dengan sisa tenaga yang ia miliki. Wanita itu terus celingukan, berharap ada orang yang lewat dan melihat dirinya yang terdampar di tempat itu.

__ADS_1


Wajah wanita paruh baya itu mulai pucat. Air matanya pun sudah mengering. Bu dewi sudah tak sanggup lagi menangis dan berteriak. Ibunda dari Ardi itu benar-benar sudah kehilangan harapan.


"Tolong aku! Tolong biarkan aku melihat putraku untuk yang terakhir kalinya," ujar Bu Dewi dengan suara lemah dan parau.


Langit mulai gelap. JIka tidak ada orang yang lewat sampai malam nanti, terpaksa Bu Dewi harus tidur di rerumputan bertemankan angin malam yang dingin dalam kondisi kelaparan dan kehausan.


"Ardi, maafkan Mama! Maafkan Mama yang sudah membuat kamu kerepotan selama ini! Semoga kamu bisa hidup bahagia tanpa Mama, Nak!" gumam Bu Dewi.


"Ardi! jaga diri kamu baik-baik!" Bu Dewi mulai memejamkan mata. Wanita itu terbaring lemah di tanah yang dingin tanpa bisa bergerak ke mana pun.


Beruntungnya, sebelum matahari terbenam, terdapat seorang peternak yang tak sengaja melewati tempat Bu Dewi tergeletak. Peternak itu nampak terkejut bukan main saat melihat sosok Bu Dewi yang sudah tidak sadarkan diri di pinggir jurang dengan keadaan wajah yang sudah pucat.


"Siapa ini? Kenapa bisa ada orang tergeletak di sini?" ujar peternak itu agak panik saat melihat tubuh manusia di tempat sepi itu.


Peternak itu pun mendekat ke arah Bu Dewi dan mencoba memeriksa keadaan bu Dewi. "Orang ini masih hidup, kan? atau dia sudah mati?"


Khawatir ia menemukan mayat, pria itu pun segera memanggil beberapa temannya yang yang berada tak jauh darinya untuk memeriksa Bu Dewi. Meskipun berwajah pucat, tapi Bu Dewi masih bisa bernapas dengan baik dan detak jantung Bu Dewi masih terdengar normal.


"Apa ini mayat?" tanya beberapa teman peternak itu ikut heboh dan panik saat melihat Bu Dewi yang pingsan.


"Orang yang masih hidup!" cetus seorang peternak saat memeriksa keadaan Bu Dewi.


"Apa orang ini tersesat? Kenapa bisa ada orang di pinggir jurang ini?"


"Sebaiknya kita segera kita bawa ke desa!" sahut peternak yang lain.


Meskipun agak terlambat, akhirnya Bu Dewi pun mendapatkan bantuan. Setidaknya Bu Dewi tidak akan mati sia-sia di tempat asing tersebut. Bu Dewi masih diberikan kesempatan untuk bertahan hidup dengan bantuan dari peternak yang menemukan dirinya dan merawat Bu Dewi di desa yang tidak jauh dari jurang tersebut.


****

__ADS_1


__ADS_2