
"Apa urusanmu sudah selesai?"
Diah mengangguk melihat suaminya berdiri di depan mobil yang terparkir. Pria itu mengulas senyum dan membawa kepala Diah dalam pelukannya. Memeluk tubuh sang istri yang baru aja bertemu dengan Rangga, hanya untuk menyampaikan maaf.
"Ayo pulang," aja Ardi melepas pelukannya, dan membukakan pintu untuk istrinya masuk ke dalam mobil.
"Aku bisa pulang sendiri, mas."
"Tidak, kamu punya suami. Biar aku mengantarmu pulang."
"Tapi, nanti kamu masih harus Kembali ke kantor."
"Tidak apa, aku sedang sedikit longgar, lagi pula, aku ada meeting di kafe dekat rumah. Skalian saja aku langsung kesana nanti."
Diah mengerling,"Benarkan?"
"Heemm,"
"Ya sudah, kamu tau bagaimana baiknya."
Percakapan itu terus berlangsung selama mereka dalam perjalanan. Dan masih berlanjut hingga mobil Ardi berhenti di depan gerbang rumah mereka.
"Aku turun di sini sana," pinta Diah melepas sabuk pengamannya.
"Baiklah,"
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut."
"Siap nyonya," angguk Ardi dengan senyum di wajahnya."Aku pergi setelah memastikan kamu masuk ke dalam."
Diah tak menjawab, dan hanya membalas senyuman sang suami. Lalu ia melangkah masuk melalui pintu orang gerbang di samping satpam. Sebelum pintu itu tertutup, Diah menyempatkan melambaikan tangan pada sang suami.
"Hati-hati, selamat bekerja."
Mobil Ardi pun bergerak perlahan meninggalkan Diah yang sudah menutup pintu gerbang.
Diah melangkah perlahan menapaki halaman rumah. Wanita itu tersenyum penuh arti setelah semua beban dan rasa bersalahnya lepas begitu ia meminta maaf pada Rangga. Karena lelaki baik itu sudah salah paham dan kini mungkin patah hati.
"Assalamualaikum," ucapnya menapaki teras dan melangkah masuk ke pintu utama. Tak ada sahutan, Diah pun melangkah masuk lebih jauh. Terdengar suara tangisan Dila di ruang keluarga. Gegas Diah mempercepat langkahnya untuk menghampiri. Dalam hati dan pikiran nya, Diah bertanya-tanya, apa yang membuat Dila menangis. Begitu sampai di ruang keluarga, Diah tercengang melihat anak gadisnya duduk di atas lantai. Di sisi perut Bu Dewi yang terbaring dan mata memejam.
Mulut Diah terbuka lebar. Ia bergegas mengambil Dila yang menangis dan menenangkannya. Diah memangku Dila, dan segera menyusui Dila di samping Bu Dewi. Sementara dia sudah cukup panik melihat sang mertua yang tergeletak.
__ADS_1
"Mama, mama," panggil Diah menguncang kaki Bu Dewi dengan sebelah tangan yang mengendong Dila sambil menyusui.
"Ma, mama, kenapa? Bangun, ma." Panggil Diah lagi dengan wajah yang sudah sangat cemas dan panik.
Kepala Diah terangkat melihat setiap sudut ruangan yang bisa ia jangkau dengan matanya. Mencari siapa saja yang mungkin bisa membantu.
"Mbok! Mbok Tini!" Panggil Diah semakin panik."Mbok Tini!"
Suara Diah sudah bergetar oleh karena rasa yang terus bersarang di dadanya. Takut, kesal, dan sedih bergumul di sana. "Mbok!"
Tak ada satupun yang datang. Diah memandang lagi mertuanya yang masih tergeletak, tubuhnya mencondong ke arah wajah Bu Dewi. Lalu tangan Diah yang bergetar bergerak sampai di bawah hidung sang mertua.
"Masih bernafas hangat."
Diah beranjak dari duduknya dengan mengendong Dila yang masih menyusu. Ia berjalan dengan langkah lebar menuju ruang depan. Membuka pintu utama dan berteriak dari sama.
"Pak! Pak Joko!" Seru Diah memanggil dari ambang pintu depan. "Pak Joko!"
Pria berusia 45tahunan itu melihat ke arah Diah dan bergegas mendekat begitu melihat Diah di ambang pintu dengan raut wajah panik.
"Gimana mbak Diah?"
"Nyonya pingsan?"
"Iya, ayo cepat pak." Diah berjalan dengan terburu masuk lebih dulu ke dalam rumah, dan langsung menuju ruang keluarga.
"Tadi mama aku guncang nggak bangun-bangun, pak. Gimana ini, mbok Tini juga nggak ada dari tadi ku panggil, pak."
"Mbok Tini lagi ke warung tadi katanya." Sahut pak Joko mendekat ke arah Bu Dewi. "Buk, Bu Dewi? Nyah?"
Diah berdiri di belakang pak Joko yang duduk bersimpuh di depan tubuh Bu Dewi yang tergeletak di lantai.
"Udah, di kasih minyak mbak?"
"Belum pak, ini tadi Dila nangis, jadi, Diah nenangin Dila dulu. Sambil Dila goncangin tubuh mama. Tapi, mama nggak bangun-bangun, pak."
"Aduh," pak Joko seperti kebingungan. "Kita angkat ke atas dulu mbak biar nggak di lantai. Kasihan, dingin." Sambung pak Joko menyarankan.
"Iya, tolong ya pak." Pinta Diah.
Tepat saat tubuh Bu Dewi diangkat, mbok Tini muncul dari ambang pintu dapur yang menghubung dari sisi lain ruang keluarga. "Nyonyah?" Serunya mendekat.
__ADS_1
"Kenapa ini mbak Diah?"
"Nggak tau mbok, tadi Diah pulang Dila nangis di samping mama yang tergeletak di lantai. Diah goncangin juga mama nggak bangun-bangun. Diah takut mama kenapa-kenapa, mbok." Aku Diah masih dengan wajah yang panik dan suara yang bergetar di akhir kalimat nya.
"Kita bawa ke rumah sakit saja, mbak Diah, takut stroke nyonyah kumat." Saran mbok Tini.
"Iya mbok, ayo mbok." Sahut Diah Menyetujui, ia masih mengendong Dila yang menyusu padanya.
"Mbak Diah tunggu di rumah saja, kasihan dila kalau di ajak ke rumah sakit. Biar simbok sama pak Joko yang antar."
"Tapi mbok..." Diah merasa keberatan, mata wnita itu sudah berair.
"Percaya sama simbok, kasihan Dila, dia terlalu kecil untuk di bawa ke rumah sakit. Bantu simbok nyiapin keperluan untuk administrasi dan surat-surat nya."
Diah mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Diah hanya bisa menatap mobil yang membawa sang mertua keluar dari halaman rumah. Diah lalu menghubungi Ardi. Walau bagaimanapun Ardi adalah anak Bu Dewi, apapun keadaan mereka berdua, harus saling mengetahui satu sama lain. Apalagi, Bu Dewi adalah orang tua yang tinggal satu-satunya untuk Ardi.
"Mas,"
("Iya sayang, kenapa?")
"Mama, mas," Diah sudah tak bisa lagi menahan tangisnya."mama nggak sadarkan diri, mas."
("Apa?")
"Mama sekarang di bawa pak Joko sama mbok Tini ke rumah sakit. Aku sama Dila di rumah, tapi aku cemas mas, gimana keadaan mama."
("Mas nyusul ke rumah sakit, kamu di rumah aja jaga Dila. Kasian kalau Dila di bawa ke rumah sakit, dia masih kecil daya tahan tubuhnya belum bagus seperti kita. Huumm?")
Diah menangis tersedu,"tapi mas..."
("Nanti mas kabari, mama di bawa ke RS mana?")
"RS tempat bisa, mas."
("Mas ke sana sekarang, doa in mama baik-baik aja, ya.")
"Iya, mas."
Diah duduk lemas di teras rumah. Menatap hampa pada halaman rumah. Dila yang sudah tenang dan tak menyusu lagi, hanya menatap sang bunda dengan mata bening yang tidak tau-tau. Diah menatap Dila, lalu tersenyum getir dan memeluk Dila dalam gendongan.
__ADS_1