
"Alhamdulillah, selamat ya, Diah, Ardi. Akhirnya, mama bisa segera gendong cucu." Ucap Bu Dewi girang begitu mendengar kabar dari Ardi setelah anak dan menantunya mengecek di dokter obgyn.
"Makasih, ma." Jawab Diah melirik Ardi. Suaminya itu hanya berwajah datar, sedikitpun tak terlihat bahagia seperti dirinya ataupun Bu Dewi. Diah lagi-lagi harus menahan diri, harus sadar diri siapa dirinya. Tak mungkin seorang seperti Ardi akan senang memiliki anak dengannya.
Meski Ardi menjadi calon ayah yang selalu siaga. Setiap bulan membawa Diah periksa rutin ke dokter kandungan. Pria itu tetap terlihat datar dan biasa saja. Acara empat bulanan juga di gelar, lagi-lagi Bu Dewi yang tampak sibuk dan antusias. Padahal wanita paruh baya itu, untuk berjalan saja kesulitan. Tapi, Bu Dewi terlihat sangat bersemangat, sementara Ardi, sikapnya tetap seperti biasa. Datar dan biasa saja.
"Kamu mau makan apa?" Pesan teks yang Diah terima di gawainya sore itu. Senyum tersungging di wajahnya, tentu saja dia bahagia, karena itu pesan teks dari Ardi. Tapi, senyum itu langsung pudar. Diah sangat sadar pasti Bu Dewi yang meminta Ardi melakukan nya.
"Tidak usah tuan. Mbok Tini sudah masak banyak. Mubazir." Balas Diah, meskipun saat ini dia sangat ingin makan batagor. Tapi, Diah harus menahannya. Pesan terkirim, dan langsung dibaca oleh Ardi. Tak lama, Ardi menelpon. Membuat Diah makin gugup saja. Apalagi, Ardi menelpon dengan video. Tombol hijau di geser,
"Adek bayi nya mau makan apa?" Tanya Ardi dari seberang sana.
"Kalau mamanya nggak mau, adek bayinya mau pesan apa? Ayah lagi mau otewe pulang." Lanjut Ardi lagi.
Diah terdiam, melihat Ardi yang terlihat sibuk mengemasi barang-barang di meja kerjanya. Tak ada jawaban, Ardi mengambil gawainya agar lebih dekat dan menatap wajah Diah intens. Diah tersipu malu di tatap seintens itu oleh Ardi meski hanya lewat udara.
"Mamanya nggak mau nitip?"
Diah menggeleng pelan.
"Coba lihat perutnya, aku mau ngomong sama adek bayi."
Tanpa kata, Diah mengarahkan kamera keperutnya.
"Adek, anak ayah, mau makan apa? Bentar lagi, ayah pulang, biar ayah beliin sekalian." Ucap Ardi lembut, seolah ia sedang berbicara pada anaknya. Diah tersenyum mendengar nya, hal ini terasa begitu manis. Akan lebih manis dan lengkap jika ayah dan ibunya saling mencintai, tapi sepertinya, cinta itu hanya hadir di dalam diri diah saja. Itu yang Diah pikirkan. Baginya, Ardi melakukan semua demi Bu Dewi, bakti seorang anak untuk ibunya. Bukan karena cinta untuk Diah.
"Kesayangan ayah, pengen apa?"
"Batagor." Suara Diah menirukan gaya bicara bayi.
__ADS_1
Ardi mengerutkan keningnya, "apa?"
"Batagor." Diah merasa malu mengatakannya, tapi dia benar-benar sangat menginginkan batagor, dan akhirnya, dia sampaikan juga pada Ardi. Meski menggunakan jabang bayi di dalam perutnya.
"Oh, anak gadis ayah pengen batagor? Iya nanti ayah belikan. Pedes nggak?"
"Pedes." Jawab Diah lagi menirukan gaya bicara bayi.
"Eeh, enggak boleh, adek bayi nggak boleh makan yang pedes-pedes."
"Pengennya batagor pedes." Rengek Diah,
"Setengah pedes aja ya. Yang penting ada clekit-clekit nya."
Setelah pembicaraan tentang batagor mencapai kesepakatan, Diah menutup telponnya. Di balik tembok, mbok Tini dan Bu Dewi terkikik menguping sedari tadi.
***
"Jujur tentang apa, ma?" Tanya Ardi sok bodoh.
"Ya perasaan kamu itulah."
"Perasaan yang mana?"
"Tuh kan, kamunya malah berlagak bodoh. Mama tau, selama ini kamu terus pakai mama buat modusin Diah."
"Modusin gimana sih, ma." Ujar Ardi sedikit terkekeh geli.
Bu Dewi mulai jengah, "bunga, bulan madu, batagor, es, Dufan, empat bulanan kemarin, sampai nyisirin rambut juga.."
__ADS_1
Ardi terperangah, "mama kok tau?"
"Taulah, aku ini mamamu Ardi. Jangan begoin mama." Geram Bu Dewi menjewer telinga Ardi.
"Iya ma, tau, tau, Ardi janji deh bakal bersikap baik sama Diah." Tepat, saat kalimat ini terlontar dari mulut Ardi, Diah tanpa sengaja menguping. Diah saat itu hendak ke dapur untuk mengambil air minum, dengan wajah sedih, Diah mengurungkan niatnya dan kembali lagi ke kamar. Ia tau sudah mendengar pembicaraan yang tak boleh ia dengar.
"Janji bakal jujur dengan perasaan Ardi pada Diah. Bakal menyayangi sepenuh hati wanita yang sudah merawat mama. Karena Ardi juga mencintai nya, ma." Sayangnya, kalimat penting ini tidak sempat Diah dengar.
***
Diah menatap pria yang kini berjongkok di depannya, dan sedang mengelus perut yang buncit. Mencium perut di balik daster yang Diah kenakan. Malam itu, Diah sedang menonton tivi di ruang keluarga, dan Ardi menemani. Sementara Bu Dewi sudah beristirahat karena seharian tadi kontrol di rumah sakit.
"Tuan."
"Bisakah kamu tidak memanggilku tuan?" Ardi masih sibuk mengelus perut Diah sambil sesekali menciumnya. Diah bungkam, ia ingat apa yang Ardi ucapkan beberapa malam sebelumnya. Dan itu membuat Diah merasa sesak, Ardi memang lebih perhatian padanya, lebih sering menelpon Diah untuk sekedar menengok sang bayi yang masih berada di dalam perut. Dan juga sering membawa makanan saat pulang untuk istrinya. Tapi anggapan Diah, itu semua karena Bu Dewi, karena dorongan dari wanita tua yang baik dan menyayanginya. Karena bakti Ardi pada orang tua yang tinggal satu-satunya itu. Bukan karena rasa cinta suami pada istrinya.
Ardi mendongak karena Diah tak kunjung menjawab dan hanya diam. "Sebentar lagi anak ini akan lahir, sangat lucu jika kamu masih memanggilku tuan."
Diah bungkam, masih tak mau mengeluarkan suara. Diah sudah terlanjur mendengar Ardi berjanji untuk memperlakukan dirinya dengan sangat baik pada ibunya.
"Bagaimana kalau papa, atau ayah?" Tanya Ardi meminta pendapat, tanpa melepaskan tangan dari perut Diah.
"Ayah saja." Ucap Ardi, lalu kembali melihat perut Diah. Mengusap dan mengecup perut buncit itu."Panggil ayah."
Tak mendapat jawaban sedari tadi, Ardi bangkit dan duduk di sisi Diah. Menatap lekat sang istri yang memilih menunduk. Ardi menyentuh dagu Diah, mengangkat wajahnya agar bisa melihat dengan jelas. Ardi mendekatkan wajahnya, dan menggulum bibir ranum sang istri.
"Diah, malam ini, ijinkan aku memberimu nafkah batin."
***
__ADS_1