
Diah memandang gedung dan jalanan, menatap para pelancong dari dalam dan luar negri. Mobil yang Ardi kendarai memasuki sebuah resort. Setelah malakukan registrasi ulang mereka berjalan menuju kamar. Diah hanya mengikuti langkah Ardi tanpa kata. Ia tak menyangka sama sekali jika akan sampai di tahap ini, berlibur hanya berdua dengan Ardi. Walaupun begitu, Diah tak ingin berharap banyak. Toh, mereka melakukan semua itu karena desakan dari Bu Dewi. Bukan atas keinginan dari Ardi sendiri. Jadi, Diah harus menekan perasaannya dan lebih sadar diri.
"Mandilah dulu." Perintah Ardi menjatuhkan bobotnya di ranjang kamar. Tidur terlentang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa pegal.
Tanpa banyak bicara, Diah mengambil pakaian nya dan berjalan memasuki kamar mandi. Seusai membersihkan diri, Diah memakai semua pakaian nya di kamar mandi. Ia tak mungkin mengumbar tubuhnya di depan Ardi meski mereka sudah menikah. Tetap saja ia merasa canggung dan tak ingin dianggap menggoda majikannya.
"Tuan, saya sudah selesai." Ucap Diah lirih berdiri di sisi ranjang.
Ardi membuka matanya, melirik pada wanita yang sudah memakai pakaian lengkap itu. Ada setitik rasa kecewa karena Diah tak membalut tubuhnya dengan handuk, atau setidaknya memakai jubah mandi. Jika selembar handuk saja berlebihan. Kenapa Diah sedikit pun tak mengerti dan berniat untuk memanfaatkan keadaan untuk menggoda nya.
Dengan sangat malas, Ardi bangun dan langsung menuju kamar mandi. Diah menghela nafasnya, hanya berdua bersama Ardi membuatnya kesulitan untuk bernafas.
"Kenapa tuan seperti nya sangat marah, haahh,, wajar saja jika dia kesal. Liburan ini bukanlah keinginannya. Aku harus lebih berhati-hati agar tidak membuat tuan marah." Gumam Diah yang tak mengerti isi hati Ardi yang mulai mengharapkan hal lainnya.
Ardi keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk di pinggangnya. Mata Diah membola karena memang ini pertama kalinya melihat Ardi bertelanjang dada. Dengan wajah yang memerah karena malu, Diah membuang mukanya kesamping.
"Saya, keluar dulu untuk mencari udara segar, tuan." Pamit Diah berjalan cepat keluar kamar.
Ardi melirik istrinya yang kabur. Ya, baginya, Diah sedang kabur. Dia sudah sengaja memamerkan tubuhnya, tapi gadis itu malah kabur.
"Apa aku sudah kehilangan pesonaku? Atau dia yang tidak suka?" Gumam Ardi kesal.
__ADS_1
Seusai makan, mereka berjalan-jalan melihat laut, dan tempat wisata lainnya. Karena memang Diah tak banyak bicara jika bersama Ardi. Ardi pun tak mencoba mengajak Diah bicara. Pria itu sangat menikmati momen bersama istrinya, meskipun hanya dalam diam.
Diah, menggelar beberapa selimut di lantai sebagai alasnya tidur. Ia cukup tau diri jika semua itu dilakukan hanya untuk menyenangkan Bu Dewi.
"Untuk apa itu?"
"Tidur, tuan."
"Siapa?"
"Iya?"
"Siapa yang tidur di sana?"
"Tidur di atas. Ranjang ini cukup luas untuk kita berdua."
Diah terperangah, mendengar penuturan Ardi. Sampai Diah hanya diam membeku di tempatnya.
"Kalau kamu tidur di bawah, nanti kamu sakit. Mama bisa marah padaku jika itu terjadi, dia akan menuduhku menganiaya mu selama di sini." Jelas Ardi lagi-lagi tak mau jujur dan lebih menjadikan ibu sebagai alasan.
Mendengar penjelasan Ardi, Diahpun menelannya mentah-mentah. Memang, Diah akui, Ardi begitu menyayangi dan berbakti mamanya. Itulah yang membuat Diah lambat laun menyimpan rasa di dadanya. Rasa yang awalnya hanya kekaguman tumbuh menjadi rasa cinta. Malam itu, akhirnya, Diah tidur satu ranjang bersama Ardi.
__ADS_1
("Bagaimana liburannya?") Tanya Bu Dewi yang menghubungi Diah melalui video Call.
"Kami menikmatinya, ma."
("Bagus kalau begitu, mama senang. Apa kamu sudah memakainya?") Tanya Bu Dewi dengan wajah genit dan sebelah mata yang berkedip-kedip.
Wajah Diah sedikit bersemu merah, ia ingat Bu Dewi sempat memberinya hadiah sebelum mereka berangkat berbulan madu. Saat Diah membukanya, Diah sangat terkejut. Dalam kotak hadiah itu terdapat beberapa g-string dan lingerie. Tentu Diah hanya menyimpannya. Ia tak mungkin menggunakan, meski itu pemberian dari ibu mertuanya.
"Belum."
("Kenapa? Ardi pasti suka kalau kamu pakai.")
"Pakai apa ma?" Tiba-tiba, Ardi sudah duduk di sisi Diah hingga Diah terlonjak kaget.
"Ti-tidak ada." Jawab Diah gugup, melihat Ardi yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan hanya menggunakan handuk saja sebagai penutup bagian vitalnya. Diah mencoba mengatur degub jantungnya yang tak karuan.
("Itu, Di, hadiah dari mama.")
"Emang mama ngasih apa?"
("Lingerie sama g-string. Kalian kan bulan madu, setidaknya harus pake baju tempur dengan benar dong. Mama bilang kamu pasti suka. Kamu aja deh yang bilang, Diah nggak pede itu, malu pasti.")
__ADS_1
Bagaimana reaksi Diah? Tak perlu di tanya lagi, dia sudah kepalang malu hingga wajahnya memerah bak kepiting rebus.