
"Terima kasih banyak atas tawaran Nyonya sebelumnya. Tapi maaf, saya tidak memiliki rencana untuk kembali ke kota. Saya sudah nyaman berada di desa ini. Saya ingin menetap di sini."
Diah menolak tawaran Bu Dewi. Berulang kali Bu Dewi mencoba membujuk Diah, tapi gadis itu tetap saja memberikan penolakan pada Bu Dewi.
"Kamu benar-benar tidak ingin kembali ke kota? Atau kamu tidak ingin kembali ke rumahku? Kamu masih kesal padaku dan Ardi?" tanya Bu Dewi dengan wajah memelas.
Diah melempar senyum pada Bu Dewi. "Saya tidak kesal sedikitpun , saya tidak dendam pada Nyonya dan Tuan. Saya hanya merasa kalau memang saya tidak cocok bekerja di kota. Lebih baik saya bekerja di sini."
Bu Dewi terdiam. Wanita paruh baya itu sudah kehilangan akal untuk membujuk Diah agar mau kembali ke kota bersama dengan dirinya.
Tak lama kemudian, Ardi pun tiba di desa kecil di mana Bu Dewi berada. Diah dan Bu Dewi pun segera keluar menyambut kedatangan Ardi yang sudah tiba untuk menjemput Bu Dewi pulang.
"Mama!" Ardi berlari kecil ke arah sang ibu dan memeluk erat ibunya yang menghilang selama beberapa hari terakhir.
__ADS_1
"Syukurlah Mama baik-baik saja! Maafkan Ardi, Ma! Ini semua karena Ardi! Maafkan Ardi!" ucap Ardi dengan air mata berlinang saat memeluk sang ibu.
"Terima kasih banyak, Diah! Terima kasih banyak kamu sudah merawat Mama saya selama di sini," ujar Ardi pada Diah.
Bu Dewi pun membalas pelukan putranya tak kalah erat. Ibu dan anak itu pun saling berpelukan dalam suasana haru biru setelah beberapa hari mereka terpisah karena ulah Mila.
"Ardi! Syukurlah kamu juga baik-baik saja. Mila tidak melakukan sesuatu hal yang buruk padamu, kan?" tanya Bu Dewi.
"Aku baik-baik saja. Aku janji aku akan memberikan balasan yang setimpal pada Mila," sahut Ardi.
"Untung saja ada Diah yang menyelamatkan Mama. Mama benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan dia di sini," ujar Bu Dewi benar-benar berterima kasih pada Diah yang sudah menyelamatkan hidupnya.
"Aku berutang banyak padamu, Diah. Rasanya ucapan terima kasih saja tidak akan pernah cukup," ujar Ardi pada Diah.
__ADS_1
"Tuan tidak perlu sungkan. Bukan hanya saya yang membantu Nyonya, tapi seluruh warga desa juga ikut membantu Nyonya," tukas Diah.
Mereka pun berbincang, hingga tiba saatnya bagi Bu Dewi dan Ardi untuk kembali ke kota. Untuk yang terakhir kalinya, Bu Dewi masih ingin mencoba membujuk Diah untuk ikut dirinya pulang ke kota.
"Kamu benar-benar gadis yang baik, Diah. Andai saja aku mempunyai menantu baik dirimu," ujar Bu Dewi pada Diah.
Mendadak terbersit keinginan Bu Dewi untuk benar-benar menjadikan Diah sebagai menantu. Mengingat hubungan Ardi dan Mila yang juga sudah kandas, Bu Dewi takut jika putranya akan kembali memilih wanita yang salah. Selagi ada gadis baik yang dikenal oleh Bu Dewi, wanita paruh baya itu tentu tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan menantu idaman yang baik hati.
"Diah, kamu belum menikah, kan?Ardi juga belum menikah. Kita semua juga sudah saling mengenal baik selama ini. Apa kamu tidak mempunyai keinginan untuk menikah dalam waktu dekat?" tanya Bu Dewi pada Diah.
"Ardi, kalau Mama meminta kamu untuk menikah dengan Diah ... kamu mau, kan?" tanya Bu Dewi beralih pada sang putra.
Nampaknya Bu Dewi ingin membawa Diah kembali ke kota bukan hanya sebagai pengasuh, tetapi memboyong gadis itu sebagai menantu.
__ADS_1
****