
Ardi tak dapat tidur sepanjang malam dan masih terus berusaha mencari Bu Dewi sampai ketemu. Sampai saat ini pria itu belum tahu bagaimana kabar ibunya.
"Mama di mana? Mama baik-baik saja, kan?" guman Ardi dengan wajah frustasi.
Pria itu terus menatap layar ponselnya dan menunggu panggilan telepon dari orang-orang suruhannya. Sayangnya, Ardi terus-menerus mendapatkan kabar mengecewakan dari orang-orang yang sudah ia tunggu.
Di desa terpencil nan jauh di sana, Diah juga tak ingin berdiam diri dan membuat Ardi tersiksa dalam perasaan cemas. Gadis itu pun berusaha menghubungi Ardi dan mencoba memberikan kabar mengenai kondisi Bu Dewi saat ini yang masih tinggal di kampung terpencil tempatnya berada.
"Tuan Ardi saat ini pasti sangat mencemaskan Nyonya," gumam Diah.
Gadis itu pun berusaha mencari pinjaman ponsel untuk menghubungi Ardi. Beruntungnya salah seorang warga berbaik hati meminjamkan ponsel pada Diah, hingga akhirnya gadis itu berhasil menghubungi Ardi.
"Halo? Siapa ini?" tanya Ardi di seberang sana melalui panggilan telepon.
"Selamat pagi, Tuan. Maaf saya mengganggu waktunya sebentar," ujar Diah dengan sopan pada Ardi.
Ardi termangu. Suara gadis yang terdengar di ponselnya terasa sangat familiar di telinga Ardi.
"Ini saya ... Diah!" ungkap Diah.
"Diah?" tanya Ardi dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Maaf sebelumnya, saya baru sempat menghubungi Tuan. Saya ingin memberi kabar mengenai Nyonya," ungkap Diah.
Ardi segera bangkit dan bangkunya dengan semangat. "Mama? Kenapa dengan Mama? Memangnya kamu tahu apa yang terjadi dengan Mama?"
"Nyonya saat ini bersama saya, Tuan!" sahut Diah.
"APA? B-bagaimana bisa?" Ardi cukup terkejut sekaligus lega begitu mendengar perkataan Diah.
"Betul, Tuan. Ceritanya panjang. Saat ini kondisi Nyonya baik. Nyonya aman bersama saya. Tuan bisa menjemputnya kemari. Saya akan memberikan alamatnya," ujar Diah.
Tanpa pikir panjang, Ardi pun segera meminta alamatnya dan bergegas menuju ke tempat di mana ibunya berada. Pria itu mengendarai mobilnya dengan girang dan kelegaan luar biasa.
Usai memberikan kabar pada Ardi, Mila pun bergegas memberitahu Bu Dewi, kalau ia akan segera dijemput oleh Ardi untuk pulang ke kota.
"Nyonya, ingin saya buatkan teh hangat lagi?" tawar Diah pada Bu Dewi.
"Tidak perlu, Diah. Terima kasih!"
"Saya sudah menghubungi Tuan Ardi. Sebentar lagi Tuan Ardi akan menjemput Nyonya," ungkap Diah pada Bu Dewi
Bu Dewi tak menyangka jika Diah sudah terlebih dahulu menghubungi Ardi tanpa Bu Dewi tahu. "Ardi akan menjemputku kemari?"
__ADS_1
Diah mengangguk sembari mengulas senyum. "Nyonya ingin bersiap-siap sekarang? Tuan sudah berangkat kemarin sekarang," tukas Diah.
"Kamu juga bisa bersiap-siap sekarang, Diah," ujar Bu Dewi.
Diah mengerutkan dahi. "Bersiap-siap untuk apa Nyonya?" tanya Diah.
"Kamu mau kembali ke kota lagi, kan?" Bu Dewi pun mengutarakan niatnya yang menginginkan Diah kembali ke kota bersama dengan dirinya.
"Tolong kembali lagi ke kota, Diah. Selama beberapa hari ini aku dan Ardi mencari kamu. Kami ingin kamu kembali ke kota, kembali ke rumah kami," sambung Bu Dewi.
Diah terdiam. Semenjak gadis itu memutuskan untuk keluar dari rumah Bu Dewi, tak pernah sedikitpun Diah berpikir untuk kembali lagi ke rumah mantan majikannya itu.
"Aku benar-benar minta maaf mengenai perhiasan. Aku tahu kamu tidak mungkin melakukan hal itu, Diah!" ujar Bu Dewi. "Mila yang sudah menjebak kamu. Mila yang sudah berulah. Aku sudah tahu semuanya."
"Mila lagi?"
"Aku lupa belum memberitahumu. Mila sendiri yang mengatakannya padaku kalau Mila yang telah merekayasa mengenai pencurian perhiasan itu dan menuduh kamu yang mencurinya," terang Bu Dewi. "Aku sudah tahu semuanya. Tolong kamu lupakan mengenai kejadian perhiasan itu. Tolong kembali ke kota bersama denganku," ajak Bu Dewi pada Diah.
"Syukurlah kalau Nyonya sudah tahu yang sebenarnya. Saya memang tidak bisa memberikan bukti apa pun, tapi saya benar-benar tidak mencuri perhiasan Nyonya ataupun barang lainnya di rumahnya. Saya juga minta maaf karena saya sudah pergi tanpa berpamitan langsung pada Nyonya," ucap Diah.
"Jadi, apa kamu mau kembali bersama kami ke kota, Diah?"
__ADS_1