Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 45


__ADS_3

Ardi tak dapat menyembunyikan keterkejutan, melihat pria yang kini berdiri di hadapan nya. Orang yang menjadi salah satu rekan bisnisnya, adalah tetangga baru yang dulu sempat mengusik nya.


"Tidak menyangka, ternyata anda adalah Ardi tetangga depan rumah saya. Salam kenal." Ujar Rangga ramah mengulurkan tangannya.


Ardi tersenyum kecut, 'ah ternyata dia yang menggoda istriku.' batin Ardi, menyambut uluran tangan Rangga untuk bersalaman."Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Silahkan duduk." Sambung Ardi mempersilahkan tamunya untuk duduk di sebuah ruang meeting di restoran dekat kantornya.


Kedua pria pembisnis itu terlibat pembicaraan yang cukup intens dan serius dalam rencana menjalin kerja sama.


Waktu bergulir hingga matahari mulai tergelincir ke ufuk barat. Ardi masih harus lembur hingga malam. Pria itu mulai gelisah karena mungkin saja Diah menunggu nya di rumah. Ardi mengambil gawai nya di tengah kesibukan, ia berusaha menghubungi sang istri.


"Diah,"


("Iya tuan,")


"Aku pulang telat, masih ada beberapa kerjaan yang belum selesai. Tidak perlu menungguku. Malam ini, tidurlah di kamar atas."


("Baik.")


Ardi terdiam sesaat, ada hal yang ingin ia sampaikan pada istrinya. Namun hanya tertahan di tenggorokan. Kedua nya masih sama-sama terdiam dan tak ada yang mau mengakhir sambungan telpon.


("Tuan,")


"Heemmm?"


("Saya tutup telponnya.") Suara Diah terdengar lirih di seberang sana.


"Iya, assalamualaikum."


("Wa'alaikum salam.")


Gawai Ardi masih setia menempel di telinganya meski suara Diah tak lagi terdengar. Ardi menghela nafas beratnya, "aku merindukanmu."


Dengan lemas tangan Ardi beserta gawai bergerak turun ke bawah. Ardi terdiam dengan tatapan sendu, dan pikiran yang hanya terarah pada satu orang. Kenapa ia sangat kesulitan menyampaikan kata cinta untuk orang yang ia kasihi?


***


Di sisi lain, Diah berdiri di pinggir jalan. Seusai ia berbelanja di sebuah pasar. Karena mbok Tini yang biasa berbelanja dan mengurus dapur masih pulang kampung. Dan seorang inval hanya di serahi tugas bersih-bersih dan masak. Untuk berbelanja, memang Diah yang lakukan karena lebih percaya.


Sebenarnya salah satu security di depan gerbang rumah Ardi sudah mengantar Diah ke pasar. Namun ibu dari Dila itu ingin berjalan-jalan bersama anaknya dan menyuruh supir Ardi pulang. Diah membeli beberapa sayur, daging ayam dan juga ikan. Wanita berkulit sawo matang itu menggendong sang anak dengan gendongan M-shape. Hanya agar anak nya lebih nyaman saat mereka berjalan.


Kini ia bingung, hape nya mati, karena ia lupa mengisi daya. Dan tangannya penuh dengan belanjaan. Diah sudah menunggu angkot namun tak satupun mengarah ke perumahan yang Diah tinggali. Diah mencoba berjalan agak menjauh dari pasar untuk sekedar mencari ojek. Namun sebuah mobil kuning berhenti memotong jalannya.


"Sendirian?" Kepala Rangga tampak menyembul keluar begitu kaca di turunkan.

__ADS_1


Diah sedikit terkejut melihat pria tampan itu kini ada di sana. Rangga melirik tangan Diah yang penuh dengan kantong belanjaan dan menggendong sang anak. Hatinya jadi tergerak untuk menolong. Ia turun dari mobil dan mengambil alih belanjaan Diah.


"Udah selesai belanjanya? Mau pulang kan?"


Diah yang masih bungkam mengangguk,


"Ya sudah, ayo pulang bareng." Tawar Rangga memasukkan semua belanjaan Diah ke jog belakang lalu menuntun Diah untuk masuk ke kursi penumpang.


"Makasih mas, maaf ngerepotin." Ucap Diah merasa tak enak hati.


"Kita tetangga Diah, apalagi kamu bawa anakmu." Kata Rangga sembari menyetir. "Kenapa mereka membiarkanmu belanja seorang diri, bawa anak lagi?"


"Mbok Tini sedang pulang kampung, biasa nya juga dia yang belanja dan melakukan semuanya." Sahut Diah.


Rangga menghela nafas panjang, "tetep aja Diah,, kenapa nggak belanja di warung?"


"Warungnya tutup."


Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya, dan tak mengatakan apapun lagi. Ia hanya kesal, kenapa majikan Diah justru membiarkan seorang pekerja pergi tanpa supir ataupun pendamping ke pasar, membawa seorang bayi lagi. Ia hanya tak tau jika Diah adalah istri Ardi. Saat mendengar Diah menyebut Ardi 'tuan' tempo hari, Rangga berpikir jika Diah adalah pembantu di rumah itu.


Dalam keheningan diantara keduanya yang terasa kaku dan kikuk. Dila tiba-tiba menangis. Diah mencoba menenangkan anaknya, namun Dila masih saja menangis. Diah tau anak menginginkan asi. Tapi, Diah juga sadar ada Rangga di dalam mobil, Diah tak mungkin asal mengeluarkan asi di depan Rangga.


"Sepertinya, anakmu ingin *****."


"Susui saja, pakai ini untuk menutupi, kasian dia. Aku tidak akan mengintip ataupun berbuat kurang ajar padamu. Beri dia asi."


Diah masih terdiam, ini memang bukan hanya tentang asi dan rasa tak nyaman. Ada etika yang harus dijaga ketika di luar rumah. Salah satunya tidak menyusui anak di tempat umum atau di depan pria yang bukan suaminya.


"Dia sudah menangis Diah, susui saja, aku benar-benar tidak akan mengintip. Kasian jika harus menunggu sampai di rumah." Rangga sudah sangat tak sabar karena Diah tak kunjung memberi Dila asi dan sibuk menenangkan anaknya.


Dila benar-benar tak bisa di tenangkan, Dila juga terus menangis sampai tersengal. Akhirnya Diah menggunakan jaket Rangga untuk menutupi, ia juga bergerak sedikit miring membelakangi Rangga. Lalu ia mulai menyusui Dila. Seketika Dila terdiam, walau masih terdengar suara sesenggukan nafas ya, ia meminum asi dengan rakusnya.


Ada kelegaan yang Rangga rasakan. Ia menempati janjinya, tidak melirik Diah sedikit pun dan fokus menyetir.


"Keluarlah dari rumah itu Diah, dan bekerjalah di rumahku."


Mata Diah sedikit melebar, mulutnya juga terbuka mendengar permintaan Rangga yang tiba-tiba.


"Kenapa bisa mereka begitu tega pada kalian."


"Mas Rangga! Ini tidak seperti yang mas Rangga pikirkan. Aku tidak bekerja dirumah itu, mereka juga sudah sangat baik padaku sejak aku menginjakkan kaki di sana. Tolong jangan salah paham, terimakasih karena sudah memberi kami tumpangan. Kami berhenti di gang depan saja." Tukas Diah karena merasa Rangga seperti menyalahkan Bu Dewi. Dila menangis lagi, karena sempat terlepas dari menyusu ibunya. Dengan cepat Diah menenangkan dan kembali menyusui sang anak gadis.


Rangga menekan rasa kesal di dadanya. "Maaf,"

__ADS_1


Dila terlihat tenang, gadis itu perlahan mulai lelap. Diah bergegas menutup dadanya begitu terlepas dari mulut Dila. Ia merapikan pakaian dan membenahi posisi duduknya. Lalu mengembalikan jaket milik Rangga.


"Saya turun sampai di gang depan saja mas." Diah mengingatkan dan mulai merapikan tas bawaannya ke bahu.


"Rumah kita berseberangan, sampai depan rumah saja."


Diah seketika menoleh pada pria muda di sampingnya.


"Maaf, aku hanya kesal. Aku tau Bu Dewi orang yang baik. Maaf, jangan marah hanya karena aku lancang bertutur kata." Ucap Rangga menyesal.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak marah, hanya tidak ingin orang berpikiran buruk tentang Bu Dewi. Beliau orang baik, sangat baik. Beliau sudah melarang, tapi aku ingin berjalan-jalan ke pasar sekali-kali dengan anakku. Itu saja."


Rangga mengulas senyum.


"Terima kasih untuk bantuannya, aku tak bisa membalas kebaikan mas Rangga. Tapi, jika mas Rangga butuh bantuan, aku akan berusaha membantu sebisa ku." Ucap Diah tulus.


Rangga mengukir senyuman lagi. Lalu ia berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Bu Dewi. Dengan sigap Rangga keluar dan membukakan pintu untuk Diah. Ia juga mengambil kantong belanjaan di jog belakang.


Saat pintu gergang di buka, dan sekuriti menghampiri, barulah Rangga mengoper kantong belanjaan itu pada sang sekuriti.


"Terima kasih, mas Rangga."


"Sampaikan salam ku untuk Ardi dan Bu Dewi." Ucap Rangga sembari memasuki mobilnya. Lalu membelok tepat ke rumah di sebrang jalan.


Bu Dewi berdiri di teras, melihat Diah yang mengendong Dila yang lelap dalam dekapan ibunya.


"Siapa yang anter, Diah?" Tanya Bu Dewi.


"Mas Rangga, tetangga depan rumah. Kebetulan ketemu di pasar tadi." Jelas Diah jujur.


"Oohh,"


"Dia nitip salam buat mama sama tuan Ardi."


"Wa'alaikum salam." Sahut Bu Dewi melirik belanjaan yang di bawa sekuriti."kamu nggak kesusahan bawa itu yah? Tadi kenapa malah suruh pak Joko pulang? Kan bisa bawain belanjaanmu."


"Diah pingin jalan-jalan sama Dila, ma. Lagian, Diah juga nggak tau kalau bakal sebanyak ini belinya." Diah sedikit terkekeh, tapi juga merasa tak enak hati karena membuat Rangga berprasangka buruk pada mertuanya.


"Ya sudah, masuk. Kasian Dila, Baringin di kamar sana. Kamu juga istirahat," titah Bu Dewi lalu berganti menatap pak Joko, "bawa ke dapur ya pak Joko belanjaannya, biar yang inval yang beresin sisanya."


"Siap nyah."


Malam harinya, Ardi baru saja pulang kerja. Ia menyempatkan diri melongok kamar Diah, tujuannya, tentu untuk melihat apakah Diah masih tidur disana atau patuh dengan arahannya menempati kamar atas. Pintu Ardi dorongan perlahan, jantungnya berdegup kencang hingga pintu itu terbuka lebar.

__ADS_1


"Aaahh,,"


__ADS_2