
"Yah, ini bagus untuk mu,"
Ardi menempelkan baju terusan berlengan pendek di tubuh depan Diah. Warna nya yang pastel kalem sangat cocok dengan perangai Diah yang juga kalem.
"Blouse ini juga bagus," Ardi menawari lagi.
Ada rasa tak enak karena Ardi terus menawarkan beberapa baju untuknya. Diah juga melihat harga di tag cukup mahal bagi seorang pekerja seperti Diah.
"Tidak usah tuan, ini mahal."
Ardi melihat tag nya. "Enggak. Cobalah,"
"Tidak usah, ini sudah cukup." Diah menolak secara halus.
"Diah, selama kita menikah, aku belum pernah membelikan mu baju, tas, ataupun sepatu. Anggap kali ini sebagai pengganti selama dua tahun kita mengarungi rumah tangga. Anggap saja kamu menabung selama dua tahun ini. Dan sekarang saat nya Kamu mengambil tabunganmu." Tutur Ardi tersenyum menatap istrinya yang terus berwajah gelisah.
"Tapi, ini sudah banyak, kita sudah membeli tas tadi."
"Kamu cuma milih satu. Setidaknya, untuk baju, kamu ambil tiga potong." Ardi masih mencoba membujuk Diah agar mau.
Diah menghela nafasnya, ia merasa sayang untuk membeli baju mahal. "Mungkin sebaiknya kita beli di pasar saja, tuan."
"Tidak, di pasar punya kwalitas yang berbeda dengan yang di sini." Ujar Ardi menjelaskan,"lagi pula, mereka punya nama." Sambung Ardi melihat setiap sudut toko itu.
Setelah melalui banyak perbicangan yang tarik ulur, akhirnya Diah mengambil tiga potong baju yang Ardi sodorkan. Pria itu tampak sangat senang, Ardi mengajak ke toko selanjutnya. Toko sendal dan sepatu.
"Tuan, ini berlebihan." Ucap Diah saat menjajal sendal yang Ardi pilihkan.
"Kamu tidak suka? Kita bisa pilih yang lain."
"Bukan, tapi, ini terlalu banyak. Tas, baju, bahkan sekarang sendal."
__ADS_1
"Nanti kita masih mencari kosmetik. Semalam aku lihat bedakmu sudah habis."
"Masih kok."
Ardi menatap Diah, semalam Ardi memang tak sengaja melihat rak kosmetik Diah, hanya ada satu batang liptik yang sudah rata, dan satu bedak. Itupun sudah habis dan di isi ulang dengan bedak tabur. Hati Ardi tentu saja merasa sangat miris. Kenapa ia begitu tak memperhatikan istrinya. Selama ini hanya sibuk membeli bunga, memberi makanan, dan beberapa lembar uang. Sekalipun, ia tak pernah melihat, pakaian apa yang Diah punya? Berapa jumlahnya? Atau, bagaimana Diah menggunakan kosmetiknya? Ardi merasa susah menjadi seorang suami yang zalim pada istrinya. Dan kini, ia ingin memperbaikinya. Menyenangkan Diah dengan memenuhi kebutuhannya.
Ardi mengambil satu sendal, yang empuk dan nyaman. Tidak flat, tapi juga tidak berhak tinggi. Ardi berjongkok di depan Diah duduk mencoba salah satu sepatu yang Ardi sodorkan tadi.
"Apa ini nyaman di kakimu?" Tanyanya melihat Diah melepas sepatu dari kakinya.
Diah hanya bungkam, tanpa jawaban. Ardi bahkan menanyakan kenyamanan tentang sandal. Ardi memasangkan sendal di kaki Diah.
"Coba yang ini." Ujarnya, "cobalah berjalan,"
Diah menurut, ia berjalan beberapa langkah, lalu kembali lagi dan duduk. Ardi masih berjongkok di tempatnya,"bagaimana? Nyaman?"
Diah hanya memandang wajah Ardi dalam kebisuan.
Ardi menyodorkan lagi sepasang sendal ke depan kaki Diah. "Semoga, yang ini bisa membuatmu merasa nyaman dan tidak tersakiti lagi."
Diah terdiam dalam renungan, kalimat Ardi telah menembus hatinya. Perlahan, Diah memasukkan kakinya ke dalam sendal selop itu. "Ini nyaman."
Ardi menarik sudut bibirnya ke atas. Lalu ia berdiri, menuntun Diah untuk berdiri juga dengan menggenggam tangan wanita berkulit gelap itu. Perlahan, Diah melepas genggaman tangan Ardi dan melangkahkan kakinya, setapak demi setapak. Lalu ia berbalik dan duduk kembali,
"Ini nyaman, dan tidak menyakiti. Aku ambil yang ini."
"Alhamdulillah," ucap Ardi penuh syukur, lalu menunjuk sendal yang sebelumnya. "Bagaimana dengan yang ini?"
"Ini juga nyaman, tapi lain kali saja aku ambil."
"Sekarang saja, lain kali mungkin sudah di ambil orang."
__ADS_1
Berikutnya, Ardi dan Diah berburu kosmetik. Memilih skincare yang biasa Diah gunakan. Kali ini, Ardi tak ikut campur. Karena hanya Diah yang tau kosmetik apa yang cocok untuk kulitnya. Yang tidak akan membuat kulitnya iritasi. Setelah usai acara memilih kosmetik mereka menyempatkan untuk makan malam berdua. Hanya membeli bakso, namun, karena masih di area mal, tentu harganya akan sangat berbeda dengan bakso di pinggir jalan.
"Tuan, bakso di sini mahal sekali, kenapa kita tidak beli di pinggir jalan saja. Di sana satu porsi bakso tidak sampai 20rb." Bisik Diah begitu pelayan resto pergi.
"Makan saja, kita tidak setiap hari makan di sini." Ucap Ardi tanpa mengurangi wajah ramahnya pada sang istri.
Diah tak membantah, benar, tak ada salahnya sekali-kali makan di tempat seperti ini. Anggap saja sedang naik kelas. Begitu pikiran Diah.
Ardi mengambil saus lalu menuangkan ke dalam baksonya. Selanjutnya, ia menambahkan sambal. Ia melirik sekilas Diah yang sedang mengeluarkan hape jadulnya. Lalu menghubungi seseorang, Ardi yakin itu pastilah untuk Dila yang mereka tinggal di rumah.
Ardi melihat ponsel jadul di pipi kiri Diah. Ya, ponsel jadul, walaupun sudah di lengkapi kamera, namun harga ponsel itu tak lebih dari 500rb. Miris sekali, kenapa mereka terlalu banyak perbedaan padahal sepasang suami istri. Dan betapa Ardi merasa telah jauh menzolimi istrinya. Pria itu bertekad untuk membelikan Diah ponsel baru setelah ini.
"Mbok Tini? Bagaimana keadaan Dila?"
Ah, Diah menghubungi mbok Tini rupanya. Dengan cepat Ardi mengambil gawainya, lalu menghubungi sang mama. Melakukan panggilan video, setelah tersambung, Ardi langsung menghadapkan layar ke arah Diah.
"Tuh, bunda Diah lagi makan." Ujarnya, "Diah, tutup saja telpon ke mbok Tini."
Di sebrang sana juga terdengar kalimat menyetujui usul Ardi. Diah pun memutuskan sambungan telpon jadulnya, dan beralih pada ponsel pintar milik Ardi. Demi kenyamanan, Ardi pun berpindah duduk dari hadapan Diah, ke kursi di samping sang istri.
("Bagaimana belanjanya? Dapat banyak buruan?")
"Diahnya nggak mau, ma. Jadi cuma dapat dikit." Ardi menjawabnya.
("Duuh, Diah, kalau mama sehat dan bisa jalan normal mama pasti ajak kamu jalan-jalan. Tapi, mama aja kesusahan mau jalan, nanti malah nyusahin kamu.")
Diah melempar senyum, "nanti pasti sembuh, optimis."
("Iya Diah, mama optimis kok. Tuh, bunda dek, lihat, bunda makin cantik ya?") Bu Dewi duduk memangku Dila mengangkat tangan Dila untuk melambai.
"Dila udah makan belum? Bunda lagi makan nih sama Ayah, tuh makan bakso." Diah menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu berbisik,"tapi mahal."
__ADS_1
Ardi yang sudah mengambil duduk di samping Diah tersenyum sendiri mendengar sang istri sedikit julid. Mendengarkan Diah yang terdengar sangat gembira berbicara dengan Dila, membuat Ardi berharap. Berharap agar hubungan mereka semakin membaik.