
Sepanjang malam, Ardi tidak dapat tidur karena memikirkan sang kekasih hati. Pria itu masih syok dan terkejut saat mendapatkan fakta mengenai kekasihnya.
"Mila, apa yang sudah kamu lakukan?" gumam Ardi tak habis pikir dengan tingkah Mila yang sampai berani melayangkan fitnah pada Diah hingga membuat hubungan mereka renggang.
"Apa Mila mempunyai dendam khusus pada Diah? Tapi apa? Bukankah ini pertama kalinya Mila berjumpa dengan Diah? Kenapa Mila melakukan hal seperti itu? Kenapa dia tega mengadu domba Mama dan Diah sampai mempermalukan Diah seperti ini?"
Ardi benar-benar menyesal. Ia hampir saja percaya kalau Diah benar-benar mencuri perhiasan ibunya. Ardi juga membiarkan begitu saja Diah yang pergi tanpa pamit.
"Diah pasti sangat kecewa sudah dituduh yang tidak-tidak karena ulah Mila. Aku berhutang banyak maaf pada Diah," gumam Ardi penuh sesal.
Tak cukup melihat tingkah Mila saat mengambil perhiasan Bu Dewi dan memfitnah Diah, dan Ardi pun juga menelusuri jejak Mila untuk mencari tahu sikap dan sifat asli wanita itu di belakang Ardi. Kini Ardi sudah tahu bagaimana tabiat buruk kekasih yang begitu ia cintai.
Selama ini Ardi sudah buta. Selama ini Ardi tertipu dengan dua topeng yang ditunjukkan oleh Mila.
"Mila, aku tidak menyangka ternyata kamu bersikap seperti ini di belakangku." Ardi sukses dibuat galau oleh Mila. Sikap Mila sangat bertolak belakang saat di depannya dan saat dirinya tak ada. Namun, ia sudah terlanjur menjatuhkan hati pada gadis itu. Hingga sebagian pandangannya menutup untuk melihat seberapa picik dan liciknya Mila. Meski Ardi telah melihat sikap Mila di belakang Ardi.
Ardi terus melamun sepanjang malam sembari terus menatap foto Mila di layar ponselnya. Hati pria itu masih menolak untuk percaya. Rasa kecewa mulai meluap di dada Ardi dan hampir menenggelamkan kepercayaan pria itu pada sang kekasih hati yang ia puja selama ini.
Keesokan harinya, Ardi pun makin dibuat repot dengan sikap ibunya yang masih menuntut agar Diah segera kembali ke rumah. Bu Dewi sampai mogok makan demi menuntut agar Ardi segera mencari Diah dan membawa gadis itu kembali ke rumah mereka.
"Kenapa, Mbok?" tanya Ardi pada Mbok Tini yang keluar dari kamar Bu Dewi dengan wajah masam.
Asisten rumah tangga di rumah Ardi itu membawa nampan berisi makanan dan minuman yang masih utuh. Bu Dewi tak mau menyentuh makanannya sedikitpun sebelum Diah kembali ke rumah.
"Ini, Tuan ... Nyonya tidak mau makan," terang Mbok Tini. "Saya sudah mencoba membujuk Nyonya sejak tadi, tapi Nyonya tetap tidak mau. Nyonya terus mengomel sejak tadi, Tuan."
__ADS_1
Sudah dibuat pusing karena ulah Mila, kini Ardi juga harus dibuat penat oleh ibunya sendiri. Baru saja pria itu hendak berangkat ke kantor, terpaksa Ardi harus mengurus ibunya terlebih dahulu sebelum ia pergi meninggalkan rumah.
Karena Diah telah pergi, mau tak mau pembantu rumah tangga mereka yang harus membantu Bu Dewi untuk sementara waktu. Ardi juga tidak mungkin berada di rumah terus-terusan untuk merawat Bu Dewi. Ardi juga tak lagi mempunyai waktu untuk mencarikan pengasuh bagi ibunya yang rewel dan pemilih itu.
"Kenapa Mama tidak makan?" tanya Ardi mencoba membujuk sang ibu.
Bu Dewi membuang muka di depan putranya. "Mama mau Diah kembali sekarang juga! Kapan kamu akan mulai mencari Diah? Kapan kamu akan menjemput Diah kembali?"
Kepala Ardi hampir dibuat pecah. Masih ada banyak hal yang harus ia urus, tapi ibunya kini menuntut dirinya harus segera membawa Diah kembali.
"Sabar dulu, Ma. Masih ada banyak hal yang harus Ardi kerjakan. Kita cari pengasuh baru dulu, ya?"
"Mama tidak mau! Mama cuma mau Diah kembali!" tegas Bu Dewi.
Ardi pun merebut nampan makanan yang dibawa oleh Mbok Tini. Bagaimanapun juga, Ardi tidak bisa membiarkan ibunya kelaparan, terlebih lagi tidak ada orang yang mengasuh Bu Dewi selama Ardi tidak ada.
"Sampai kapan? Kamu tahu alamat Diah, kan? Kamu pasti menyimpan salinan kartu identitas milik Diah, kan? Kamu tinggal lihat alamatnya di sana dan kamu datangi Diah di alamat itu! Apa susahnya?" omel Bu Dewi pada sang putra.
Ardi menghela napas pasrah. Jika sudah mempunyai keinginan, Bu Dewi memang agak sulit untuk dibujuk.
"Ardi akan mencarinya nanti. Tapi sekarang Mama harus makan dulu!" pinta Ardi.
"Mama tidak akan makan sampai Diah kembali!" Nampaknya Bu dewi sudah membulatkan tekad untuk mogok makan sampai pengasuhnya itu kembali ke rumah mereka.
Bu Dewi tak mau Ardi terus-menerus mengulur waktu dan menunda-nunda untuk mencari Diah. "Cari Diah sekarang juga dan bawa Diah kemari!"
__ADS_1
Di saat pria itu tengah sibuk berbicara dengan sang ibu, ponsel Ardi pun ikut membuat keributan. Pria itu menerima banyak pesan dan panggilan dari Mila.
Lengkap sudah kepusingan Ardi. Pria itu harus mengurus ibunya yang rewel, pria itu juga harus mencari Diah sesegera mungkin, dan pria itu masih harus mengurus kekasihnya yang mempunyai tabiat buruk buruk.
"Kamu sudah tidak sayang lagi pada Mama? Kamu tidak kasihan pada Mama yang tidak bisa merawat? Kamu yakin kamu bisa menemukan perawat seperti Diah di luar sana?" tanya Bu Dewi pada sang putra. "Mama yakin kamu tidak akan bisa menemukan perawat seperti Diah lagi di luar sana!"
Kalau saja Mila tidak berbuat ulah tempo hari, Ardi pasti tidak akan dibuat pusing sampai seperti ini. Dari banyaknya urusan yang harus ia kerjakan, tentu saja Ardi harus memprioritaskan ibunya yang saat ini masih menuntut dirinya untuk membawa dia pulang.
"Baiklah, Ma! Ardi akan mencari Diah. Hari ini juga Ardi akan mencari Diah sampai dapat! Tapi Mama harus makan, ya?"
Ya, Ardi memilih untuk mencari Diah terlebih dahulu. Setelah ia selesai mengurus ibunya, Ardi pun segera mencari keberadaan Diah melalui alamat yang ia punya. "Doakan Ardi, semoga Ardi bisa cepat membawa Diah kembali, ya?" pamit Ardi pada sang ibu.
Ardi pun memulai perjalanannya untuk mencari Diah. Demi sang ibu, pria itu bersedia mengejar Diah hingga ke ujung dunia dan membawa dia kembali ke rumahnya untuk merawat ibunya.
"Kira-kira Diah tinggal di alamat ini atau tidak, ya?" gumam Ardi sembari menatap salinan kartu identitas milik Diah yang masih ia simpan.
Pria itu pun mulai menghubungi beberapa orang untuk dimintai bantuan dalam pencarian Diah. Dengan berpegang informasi yang minim, Ardi berharap ia bisa menjumpai Diah di alamat yang ia temukan saat ini.
"Semoga Diah ada di sana!" gumam Ardi penuh harap.
Sementara di tempat lain, Mila tengah dibuat jengkel karena wanita itu diabaikan dengan sengaja oleh Ardi selama beberapa hari terakhir. Ya, setelah Ardi tahu jika Mila memfitnah Diah, setelah Diah pergi meninggalkan rumah, Ardi lebih fokus mengurus ibunya hingga pria itu mengabaikan kekasihnya yang terus mencoba menghubungi dirinya.
Entah sudah berapa pesan dan panggilan dari Mila yang diabaikan oleh Ardi. "Ardi pergi ke mana? Kenapa dari kemarin Ardi tidak dapat dihubungi?" gerutu Mila mulai dibuat jengkel oleh Ardi yang tidak juga memberikan balasan maupun mengangkat telepon darinya.
Ardi yang terus mendengar ponselnya berbunyi, hanya melirik sekilas ke arah telepon genggam miliknya tanpa berniat memberikan balasan untuk sang kekasih. "Maaf, Mila. Aku butuh waktu. Saat ini kamu tidak akan lagi menjadi prioritasku."
__ADS_1
****