Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 35


__ADS_3

Keesokan paginya, sarapan kali ini terasa hening dan hambar. Diah memang masih ikut sarapan bersama Bu Dewi dan Ardi. Setelah sarapan, Ardi berangkat ke kantor. Di sana Ardi sempat bertemu dengan salah satu klien sekaligus teman lama. Berbincang lama dan tentang banyak hal. Bahkan tentang hal pribadi.


"Marah itu hal yang biasa, bertengkar, lalu berbaikan, pergi, lalu mencari. Dan semua itu berakhir di ranjang kami." Ungkap Ehsan, teman sekaligus rekan bisnis Ardi terkekeh mengingat perjalanan cinta dengan istrinya."Kita hanya perlu saling terbuka, jika salah, minta maaflah. Jangan gengsi pada istri, namanya suami istri, luar dalam kita sudah lihat dan sama-sama tau. Namanya dua kepala dua kepribadian dalam satu atap, beda itu biasa. Bukankah karena beda kita bisa memiliki anak? Hahaha, kalau batang sama batang tentu nggak akan jadi." Kelakar Ehsan lagi, Ardi pun menangapi dengan senyuman kecil.


"Beli lah, bunga, coklat atau makanan kesukaan istrimu, lalu bawa dia ke peraduan, berbincang dari hati ke hati. Aku yakin, jika pikiran kalian sama-sama terbuka pasti badai ini akan segera berlalu."


Saran dari Ehsan, membuka mata Ardi. Benar, memang selama ini mereka sibuk dengan anggapan masing-masing, sibuk dengan pikiran dan perasaan yang di anggap benar tanpa memandang pasangan. Ardi menjadi bersemangat kembali. Ia ingin membujuk Diah untuk tetap dalam satu bahtera dengan nya. Bahtera yang saat ini sedang goyah, bukan karena badai. Tapi karena mereka memilih mendayung ke arah yang berbeda.


Sepulang kerja, Ardi menyempatkan diri mampir sebuah toko bunga. Membeli sebuket bunga mawar yang segar dan indah. Tak lupa Ardi juga membeli makanan kesukaan Diah. Dengan senyum yang mengembang, Ardi menyetir mobilnya ke arah jalan pulang.


Mobil hitam itu terparkir sempurna di carport. Dengan langkah riang, Ardi memasuki rumah. Tentu, bunga dan sekotak brownis sudah di tangan. Ardi langsung menuju kamar Diah. Pintu kamar itu sedikit terbuka, Ardi mengetuk sebelum mendorongnya hingga terbuka lebar.


"Diah..." Ardi melangkah memasuki kamar, langkah yang perlahan melambat melihat aktifitas Diah tengah menata pakaiannya di travel bag.


"Ada apa, tuan."


"Kenapa mengemasi barang?"


"Ini, saya akan keluar dari rumah malam ini."


"Apa?" Rasa kesal dan marah memenuhi ruang di dada Ardi. Baru saja ia berniat membujuk istrinya untuk rujuk, Diah malah sudah berkemas untuk pergi malam ini. Dengan wajah dingin, Ardi melempar buket bunga di tangan dan melemparkannya ke atas ranjang. Tepat di samping travel bag Diah yang masih terbuka dan terisi setengah.


Diah menatap bunga itu, lalu bertambah sekotak brownis dalam kresek putih yang terlempar dari arah suaminya. Diah lalu berganti menatap Ardi yang tampak kesal.


"Apa ini tuan?"

__ADS_1


"Menurutmu?"


Diah masih bertahan menatap Ardi yang makin terlihat marah.


"Berhentilah bersikap egois Diah, kau akan pergi saat anakku bahkan belum lahir. Di mana otak dan hatimu?"


Mata Diah berkaca, sakit mendengar ucapan yang terasa sangat menghujam hatinya.


"Apa kamu akan pergi membawa anakku juga?"


"Tuan... Saya akan kembali setelah anak ini lahir."


"Bohong!" Potong Ardi meninggikan suaranya. Diah pun dibuat sampai terkejut. Ardi berjalan mendekat, mencengkeram lengan Diah dan menatap dengan sangat tajam. "Jangan membodohiku, kau akan pergi bersamanya dan meninggalkan aku, kan?"


Tubuh Diah gemetar, tak pernah ia melihat Ardi semarah itu. Tidak, Diah pernah melihatnya, saat Ardi berbicara dengan Mila dulu. Kini Diah merasa lebih buruk, bahkan melebihi Mila. Diah semakin merasa takut, rasa sakit dari cengkraman tangan Ardi di lengannya membuat tubuh mungil itu semakin gemetar. Perlahan kristal bening meluncur dari pipinya.


Diah menatap manik mata Ardi dengan mata dan pipi yang basah. Mencari kesungguhan di hati suaminya yang tak pernah bisa ia lihat dan sentuh.


'Demi anak, kali ini demi anak. Jika dulu demi mama, sekarang demi dia yang belum lahir. Salahkan jika aku ingin menjadi prioritas nya? Salahkan jika aku mengharap, sekali saja, sekali saja merasa di harapkan, merasa di cintai, merasa di-demi-kan?' kata Diah dalam hatinya, 'tak bisakah, sekali saja, dia meminta untuk ku, hanya untukku, bukan demi Bu Dewi ataupun anak ini? Egoiskan aku jika mengharapkannya?'


Diah menarik tangannya hingga terlepas. Bergerak mundur dan melanjutkan mengemasi pakaiannya.


Kecewa, itu yang Ardi rasakan. Kenapa Diah begitu berkeras hati untuk pergi? Kenapa diah begitu munafik mengakui jika mencintai? Dada Ardi naik turun karena amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Ia tak memiliki kesabaran cukup untuk menghadapi Diah yang berkeras hati. Ardi menarik travel bag Diah, menghempasnya kelantai hingga baju dan barang-barang Diah pindah ke lantai.


Diah terkejut melihat barang yang sudah ia susun dan tata berantakan di lantai kamar. Wanita yang tengah hamil tua itu menangis, hingga tubuhnya berguncang.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Bu Dewi muncul dari luar kamar Diah, menatap kamar yang biasanya rapi, kini terlihat sangat berantakan. Bu Dewi mendengar keributan dan langsung berusaha berjalan dengan kemampuannya melangkah yang sangat lambat itu.


"Ardi?!"


Ardi menatap Diah sengit.


"Pergilah jika kau mau pergi! Bersikap keras dan egois, mungkin itu sudah sifat mu, untuk apa aku membujuk? Hanya membuang tenaga dan uang." Ucap Ardi menatap Diah dan berganti menatap bunga serta brownis yang belum tersentuh di atas ranjang.


Ardi melangkah pergi, matanya sempat melirik sang mama yang melihatnya prihatin dan iba. Diah menatap punggung suaminya makin menjauh dan hilang di balik pintu kamarnya. Tubuh Diah terasa sangat lemas dan lelah. Diah terduduk dilantai, menangis dan menatap pakaian nya yang teronggok di lantai.


"Diah," Bu Dewi melangkah mendekat dan mengusap punggung Diah menguatkan. "Maafkan mama, nak. Mama yang bersalah sampai kalian seperti ini. Maafkan mama." Ucap Bu Dewi ikut menangis dan memeluk Diah.


Diah berjalan keluar sambil menggeret koper. Bu Dewi mengikuti langkahnya dari belakang. Wanita tua itu masih terdengar menyedot ingus beberapa kali. Langkah Diah terhenti, di teras rumah Ardi duduk memandang keluar. Sedikitpun tak menoleh pada istrinya. Diah mengulurkan tangan untuk berpamitan. Namun, Ardi abai dan berdiri, melangkah masuk ke dalam rumah.


Sakit, sudah tentu Diah rasakan. Akan tetapi, wanita hamil itu tetap berusaha tegar dan kuat. Diah mencoba mengembangkan senyuman saat hatinya remuk dan patah. Menatap mertua terbaik yang sangat menyayanginya.


"Ma, Diah pergi pamit ya?"


Bu Dewi tak dapat berkata. Memeluk dan menyalami Diah ditengah tangisnya. Sesaat menantu dan mertua itu saling memeluk dalam tangis perpisahan. Diah melepas pelukan dan tersenyum.


"Terima kasih." Ucap Diah singkat. Lalu menarik kopernya. Di ujung teras, Diah merasakan nyeri di perutnya, tiba-tiba saja ia merasakan kontraksi. Semakin lama semakin sakit, Diah memegangi perutnya dan terduduk di lantai teras. Bu Dewi yang melihat ada yang tak beres pada menantunya itu bergegas mendekat.


"Diah, apa yang terjadi? Diah?"


Darah tampak merembes dari baju gamis yang Diah kenakan. Mata Bu Dewi melebar dan panik.

__ADS_1


"Ardi! Ardi!"


__ADS_2