
Ardi mendorong tubuh Diah sampai terpentok ranjang berukuran king size, tanpa melepas pangutannya. Menahan punggung dan tubuh wanitanya agar Diah selalu dalam dekapannya. Ardi terus mencumbui Diah dengan rakus. Sampai tubuh itu limbung karena kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atas ranjang.
"Balas ciumanku Diah, kau istriku!" Racau Ardi semakin menuntut lebih. Jelas saja Diah tak bisa mengimbangi karena perasaannya yang kacau ditambah lagi, Ardi terus mendominasi dirinya.
Tangan Ardi terus bergerilya di sepanjang kaki Diah tanpa ia melepas ciumannya. Mencoba menyibakkan gaun yang panjang menutupi kaki sang istri. Ardi menjadi semakin tak sabar, ia menarik gaun bagian bawah sampai robek. Ya, Ardi merobek gaun Diah yang kini menatap sedih pada pria yang mencoba menggagahi dirinya. Ardi meninggikan tubuh, melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya.
Ingin menangis, tapi air mata Diah tak kunjung menetes. Wanita itu hanya menatap sendu pada Ardi yang di liputi oleh rasa marah dan cemburu. Dengan pandangan dinginnya, Ardi melepas sendiri pakaiannya, dan melempar sembarang dengan kasar. Ia kembali melummat bibir Diah tanpa perduli dengan wajah sang istri yang hampir menangis. Ataupun bagaimana perasaan Diah. Sampai ia melakukan menyatuan dengan paksaan. Walaupun Diah tidak melawan ataupun menolak. Ia juga tak menikmati.
***
Malam itu, Rangga terduduk dengan lesu dipesta yang belum berakhir itu. Ia masih tak menyangka jika Diah adalah istri Ardi. Pikiran Rangga terus mencari, dimana? Dan kenapa ia sampai berpikir jika Diah adalah seorang pembantu. Beberapa kali berkelebat kalimat dan wajah Diah dalam otaknya.
("Tuan,") suara Diah bergema di kepalanya, itu saat pertama kalinya ia bertemu dan berbincang dengan Diah. Saat itulah, Rangga berpikir jika Diah adalah pembantu. Pria itu tertawa getir. "Kenapa harus menyebut suamimu tuan, Diah?" Gumamnya pelan.
Lalu ingatan lain muncul, ("Mas Rangga! Ini tidak seperti yang mas Rangga pikirkan. Aku tidak bekerja dirumah itu, mereka juga sudah sangat baik padaku sejak aku menginjakkan kaki di sana. Tolong jangan salah paham, terimakasih karena sudah memberi kami tumpangan. Kami berhenti di gang depan saja.") Rangga tersenyum kecut, "benar, dia memang sudah mengatakannya. Tapi, kenapa aku masih juga berpikir jika Diah adalah pembantu di sana, hahaha."
("Makasih infonya, mas Rangga, nanti Diah ijin dulu sama mas Ardi.") Semua kalimat Diah terus berseliweran di kepala nya.
__ADS_1
("Aku tanya dulu sama mas Ardi...")
"Hahahaha," Rangga menertawai dirinya sendiri, ia bangkit dan mengambil gelas berisi minuman yang memabukkan. Lalu ia meminumnya sampai habis, begitu terus berulang kali. Dan terakhir kalinya, ia membanting gelas terakhir yang ia minum. Dada pria tampan itu naik turun oleh amarah yang mengendap di sana. Ia marah bukan pada Diah atau pun pada Ardi. Melainkan pada dirinya sendiri, karena sudah berprasangka tanpa mencari tau kebenaran nya.
***
Ardi membuka matanya, pria itu tidur tengkurap. Tangannya meraba sisi bagian ranjang. Mencari tubuh wanita yang seharusnya tidur di sisinya. Mata Ardi melebar karena mendapati ruang itu kosong. Dengan cepat Ardi bangun menyibak selimut dan menyingkirkan apapun yang ada di atas ranjang. Hanya ada dirinya di sana.
"Diah,"
Dada Ardi berdetak sangat kencang. Rasa takut mulai menjalari sekujur tubuhnya. Pikiran Diah yang pergi dan menjauh dari hidupnya terus menguasai. Terlintas bagaimana ia sangat marah dan cemburu melihat kedekatan Diah dan Rangga. Juga saat ia menyeret paksa Diah memasuki kamar hotel.
Tubuh Ardi menjadi sangat lemas, ia bahkan sampai terduduk di lantai. Pikirannya sekali lagi teringat dengan bagaimana dirinya menggagahi sang istri. Saat tangannya merobek gaun Diah dan tatapan sedih wanita itu.
"Diah,,"
Dengan cepat Ardi memakai celana, dan asal memakai kemeja tanpa mengancingkan nya. Ia bahkan tak memakai alas kakinya. Pria itu berlari keluar dari kamar dengan kaki telanjang. Menyusuri lorong untuk mencari sang istri. Dengan nafas terenggah, Ardi berdiri di depan hotel, pandangan matanya mengedar di setiap sudut tempat yang bisa ia jangkau.
__ADS_1
"Diah,, maafkan aku..." Ungkap Ardi lirih, hatinya di liputi rasa menyesal yang dalam. Kenapa ia harus menyakiti istrinya? Kenapa ia harus lepas kontrol diri hanya karena rasa cemburu?
"Diah, maafkan aku... Ku mohon jangan pergi..."
Pria itu mengacak rambut dengan frustasi. Ia tak menemukan Diah, rasa menyesal terus berkecamuk di dada dan kepalanya.
"Diah!!" Panggil pria itu membuat beberapa orang menoleh padanya.
Dengan langkah gontai, Ardi kembali ke kamar nya. Ardi tampak sangat lesu, dan wajahnya bersedih penuh sesal. Mata Diah yang sendu dan memohon padanya saat ia melampiaskan hasrat nya membuat Ardi makin tenggelam dalam sesal. Mata Ardi terpantik gaun milik Diah yang teronggok di lantai. Gaun yang sudah terkoyak kasar dan tak bisa lagi di gunakan. Ardi memungut dan menggenggam erat gaun itu.
Seketika, Ardi menyadari, jika gaun wanita itu masih di sana, lalu kemana Diah mungkin akan pergi? Tak mungkin jika Diah pergi dengan tanpa busana atau pun hanya memakai bathrobe dari kamar mandi.
Ardi melangkah pelan, ia mengecek pakaian yang Lucky siapkan di kamar. Semua masih utuh dan tak tersentuh. Pria itu lalu melangkah dengan jantung bergedup kencang, tangan Ardi terangkat menyentuh handel, lalu mendorongnya.
Di dalam sana, Diah tampak terlonjak kaget melihat Ardi ada di depan pintu. Tanpa kata, Ardi langsung memeluk tubuh sang istri yang masih memakai bathrobe. Memeluk tubuh itu dengan sangat erat, ia tak ingin kehilangan Diah. Ia takut, jika itu sampai terjadi hanya karena amarah yang menguasai diri. Ardi tak mengatakan apapun, tapi tubuh pria itu berguncang pelan dan menangis.
Diah tak mengerti dengan suaminya itu, sebelum nya, ardi sangat kasar dan memaksanya melayani. Tapi, kini pria itu justru menangis dan memeluk dengan erat. Secara naluri, Diah menepuk punggung Ardi agar pria itu merasa tenang. Ia juga memeluk balik pria yang menangis itu.
__ADS_1
"Apa yang kamu tangisi, tuan?" Ucap Diah lirih,
Ardi melonggarkan pelukannya, menatap Diah dan menggeleng. "Maafkan aku, aku sudah sangat jahat padamu. Maaf, maaf, sayang...."