Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 57


__ADS_3

Rangga menyenderkan punggungnya di sofa ruang keluarga. Pria berkemeja hitam itu baru saja pulang dari rumah duka di depan rumahnya. Ia merasa cukup pening dan berduka atas meninggalnya ibu mertua Diah. Melihat bagaimana Diah sangat tegar di samping suami dan memangku anaknya dengan mata yang sembab. Menambah rasa simpati pada wanita berkulit gelap itu.


Rangga masih terpikir tentang siapa gadis yang membantunya kala itu. Ia masih berpikir jika itu Diah. Hanya, Diah tak mau mengakuinya karena suatu hal. Mungkin agar ia berhenti mengejar, atau mungkin untuk menghormati suaminya. Entahlah, Rangga tak ingin memikirkan nya saat ini.


Rangga memijit pelipisnya yang berdenyut, lalu merasa sekelebat sosok melewati tanpa suara. Seketika, Rangga membuka mata. Lalu menoleh.


"Kamu siapa?"


Sosok itu berhenti, dan melihat kearah Rangga. Membungkuk sebentar lalu menjawab, "Saya? Saya pekerja di sini, mas Rangga."


"Kamu tau siapa aku," Rangga menautkan kedua alisnya.


"Iya tentu saja, mas Rangga kan majikan saya. Juga."


"Kapan kamu mulai bekerja? Baru ya? Aku belum pernah melihatmu."


"Sudah satu tahun, mas Rangga."


"Kok aku baru lihat?" Rangga sangsi.


"Uuumm, mungkin...." Pelayan itu melihat keatas seolah sedang berpikir."karena saya memiliki kekuatan seperti Sasuke. Hahahaha,"


Rangga menatap sang pelayan yang tengah tertawa garing itu dengan datar dan jengah. Lalu ia menirukan tawa si pelayan,"ha-ha-ha,"


Tawa sang pelayan berhenti seketika mendengar tawa Rangga yang dibuat-buat itu. Lalu menggulung bibirnya rapat dan dalam.


"Ambilkan aku minum."


"Baik, mas Rangga." Ucap nya langsung berjalan dengan cepat,


Rangga menghela nafasnya sambil menggeleng. Merasa aneh kenapa mamanya sampai merekrut pelayan itu. Terdengar suara sendal yang beradu dengan lantai seperti orang sedang berlari. Tentu itu membuat Rangga merasa heran dan semakin aneh. Si pelayan itu muncul dengan nafas terenggah. Ia membungkuk dan menumpu tangan pada kedua lutut.


"Mas Rangga, mas Rangga,"


"Iya, iya,"


"Mas Rangga,"


"Iya,"


Pelayan itu sudah mau membuka mulutnya lagi untuk menyebut nama Rangga. Dengan cepat tangan Rangga terangkat agar diam. Gadis itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangan sembari menegakkan punggung.


"Tiga kali," ucap Rangga tangan yang terangkat itu ia lipat kelingking dan jempolnya, sampai menyisakan tiga jari yang masih tegak."tiga kali kamu sebut namaku. Kau tau filem: Sebut Namaku Tiga Kali?"


Pelayan itu mengangguk cepat, sorot matanya tampak sangat tegang menanti kalimat Rangga berikut nya. Jantungnya pun ikut berlomba-lomba melompat keluar.


"Kamu menyamakan aku dengan sosok di film itu." Ucap Rangga ringan. Lalu kembali menyenderkan tubuh ke kursi."kenapa berlarian?"

__ADS_1


"Eemmmm, mas Rangga mau minum apa?"


Rangga melirik pada gadis yang sangat membuat dirinya gemas itu, gemas kesal ya, bukan gemas lucu.


"Kamu berlari dari dapur kemari sampai nafasmu tersengal hanya untuk bertanya itu?"


"Iya, nanti salah ambil minum jadi bolak balik kan repot."


Rangga menepok jidat nya. "Air putih dingin."


"Oke."


Rangga menatap punggung gadis yang baru saja pergi itu, lalu menggeleng pelan.


"Benar-benar kurang, dimana mama dapat gadis kurang seperti itu?" Gumam Rangga tak habis pikir.


Beberapa saat kemudian,


"Ini air putih dinginnya, mas Rangga."


"Makasih..." Rangga kehilangan satu hal, ia menyeruput air putihnya, "siapa namamu?" Lanjutnya meletakkan gelas di meja.


"Embun, tuan."


"Embun saja?"


"Hanya Embun, ya?"


"Enggak, masih ada nama belakangnya."


"Apa nama belakangnya?"


"Uummm," Embun terlihat ragu, lalu menghela nafas susah,"pagi,"


"Iya, ini sudah siang,"


"Maksud saya, Embun Pagi." Ucap Embun mengkoreksi dengan wajah yang malu-malu.


"Jadi nama panjangmu Embun Pagi?"


Si Embun mengangguk samar dan bibirnya sedikit maju ke depan.


"Ya sudah, terima kasih ya, pagi."


Seketika si Embun mengangkat kepala, yang awalnya malu-malu kini berubah kesal. "Mas Rangga, kenapa menyebutku pagi?"


"Kenapa? Itu kan namamu."

__ADS_1


"Semua orang memanggilku Embun." Si pelayan mengkoreksi dengan nada yang semakin kesal.


"Pagi!"


Si Embun pagi mendengar namanya di sebut. Karena hari sudah siang, jelas mereka memanggilnya.


"Iya, Buk!" Seru si Embun berlari cepat ke lantai atas di mana suara itu berasal.


Rangga hanya tersenyum geli, ternyata bukan dia saja yang memanggil pelayan unik itu dengan sebutan 'Pagi'.


Hari berikutnya, Rangga baru saja pulang dari joging. Pria itu hanya mengenakan celana training dan kaus tanpa lengan yang sedikit kebesaran. Namun tetap terlihat menawan dengan otot lengan yang terlihat menonjol. Ia berjalan memasuki gerbang, di halaman ia melihat Si Embun pagi sedang menyiram tanaman milik mamanya. Ia teringat dengan ulah iseng dari pak Aryo beberapa hari yang lalu. Entah apa yang merasuki Rangga sampai berpikir untuk mengisengi si Embun Pagi juga.


Rangga berjalan berjingkat, lalu menginjak selang yang terhubung. Seperti sebelumnya, si Embun Pagi merasa heran dengan air yang tiba-tiba macet. Rangga terlihat menahan tawa memikirkan kebodohan yang akan Embun lakukan nanti.


Embun memang mengarahkan ujung selang wajahnya, Rangga dengan cepat mengangkat kakinya. Tanpa di duga, Embun mengecek saluran selang dan mengarahkan ujung selang itu belakang. Sehingga tepat mengenai wajah Rangga sendiri. Pria itu kaget bukan main,


"Maaf mas, nggak sengaja, tadi air tiba-tiba macet." Sesal Embun tapi ia sedikit pun tidak menurunkan selangnya dari menyemprot wajah Rangga sampai pria itu menyingkir dari sana.


"Lihat nih, jadi basah! Kamu minta maaf tapi nyemprotin terus ke wajahku," sewot Rangga, ia memang basah kuyup sekarang.


"Maaf mas," sesal Embun lagi.


"Rangga, kamu juga yang salah, ngapain juga jahil. Pake injek-injek selang?!" Omel sang mama dari arah depan teras. Rupa-rupanya, sang mama juga ada di sana merapikan bonsainya. Tangan wanita itu memegang gunting dan ujung batang daun yang sudah di potong.


"Mas Rangga iseng, tadi?"


"Hhheeeiiisss sudahlah," gumam Rangga yang malu karena ketahuan.


"Hahaha, kualat itu mas. Hahahaha."


Pria itu berjalan masuk ke dalam rumah dengan muka merah. Mamanya hanya bisa geleng-geleng.


"Di ketawain sama mahluk kurang se-ons, bikin.... Hiiihh," gerutu Rangga.


Di sisi lain, rumah Ardi masih di selimuti oleh duka. Namun mereka tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya. Sesuai apa yang sang mama pesankan, untuk menjaga cucu dan menantunya. Ardi benar-benar menjaga dan mencoba memberi kebahagiaan bagi dua wanita yang ia cintai itu.


"Mas kerja dulu ya?" Pamit Ardi saat Diah beserta anaknya mengantar sampai depan pintu rumah.


"Hati-hati di jalan mas," ucap Diah memejamkan matanya merasai kecupan hangat di kening. Ardi juga seperti betah berlama-lama menghirup aroma kening Diah. Sampai dengan barat hati ia lepaskan karena harus segera bekerja.


"Tolong jaga Dila, jika terjadi sesuatu dan Klian butuh apapun..hubungi mas," pesan Ardi.


Diah mengangguk.


Ardi tersenyum, lalu ia menggendong anak gadisnya sebentar. Menciumi Dila dengan kecupan di seluruh wajah. "Jangan rewel ya sayang."


Dila hanya menjawab dengan celotehan yang tak jelas. Itu saja sudah jadi kebahagiaan bagi kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2