Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
Bab 28


__ADS_3

Beberapa hari ini Ardi tak bisa tidur nyenyak, karena ada Diah yang tidur di samping nya. Bukan hal yang biasa bagi Ardi tidur satu ranjang yang sama dengan seorang wanita. Ardi terus membetulkan posisi tidur nya, berbalik ke Kanan dan ke kiri. Ia baru berhenti gelisah saat tubuhnya berhadapan dengan Diah. Gadis itu terlelap di depannya. Ardi memandang wajah imut dengan rambut hitam yang tergerai. Wajah alami seorang wanita desa yang bersih dan sehat. Meski kulitnya cenderung lebih gelap.


Mata Ardi terus menelusuri wajah wanita yang beberap bulan ini sudah halal untuk dia sentuh itu. Namun, ada keraguan di hati Ardi. Ragu untuk memulai lagi, ragu jika Diah tidaklah tulus meski selama ini Ardi terus memantau perilaku dan sikap lembutnya pada Sang ibu. Bu Dewi sendiri pun mengaminkan sikap tulus dan lembut Diah. Wanita yang Ardi sangat tau begitu keras pada orang baru, bisa menerima Diah seiring waktu. Lalu, kenapa dia tidak?


Ardi mengangkat tangannya, perlahan menyentuh wajah Diah. Menyentuh hidung yang Bangir, bulu mata yang lebat dan lentik alami. Berpindah ke pipi Diah yang sedikit tembem itu. Tangan hangat Ardi tetap bertahan di sama. Menikmati wajah tidur sang istri yang perlahan membuatnya terlena. Jempol Ardi perlahan bergerak menyentuh bibir Diah. Mengusap bibir tipis yang merah alami itu, perlahan dan lembut.


Tubuh Diah menggeliat, buru-buru Ardi menarik tangannya dan memejamkan mata. Jantungnya tiba-tiba aja berdegup kencang. Sangat kencang, sampai ia bisa mendengar sendiri debarannya. Ardi sangat berharap, Diah tak mendengarnya juga. Lama Ardi menutup matanya dengan perasaan yang tak karuan, ia merasa sesuatu baru saja enyah dari pembaringan. Lalu terdengar suara pintu kamar mandi di tutup. Ardi membuka matanya, mengatur nafasnya yang sempat tersengal dan degup jantung nya yang tiba-tiba bedebar tak semestinya.


"Ada apa dengan ku ini?" Gumamnya pada diri sendiri.


Ardi kembali menutup mata saat terdengar suara pintu kamar mandi di buka. Lama dalam kesunyian yang membuatnya makin kesulitan bernafas dan tak nyaman. Apa lagi, tak ia rasakan tubuh Diah menaiki ranjang. Ardi memberanikan diri membuka sebelah matanya. Sekedar mengintip apa yang Diah lakukan. Lucu bukan? Kenapa dia harus perduli? Kenapa dia harus merasa ingin tau? Padahal selama ini Ardi sungguh-sungguh tak tertarik sedikit pun pada Diah.


Saat mata itu terbuka, Ardi terperangah, mendapati sosok putih sedang berdiri membelakangi dirinya. Hampir saja dia melompat kaget dari tempat tidurnya karena menyangka itu adalah pochong. Untung saja, Ardi bisa segera menguasai diri dan sadari jika sosok itu adalah Diah.


Ardi Terus menatap punggung wanita yang sedang melakukan sholat malam itu. Mendengar suara lirih Diah membaca ayat-ayat cinta kepada Tuhannya. Hingga suara azan subuh berkumandang. Ardi segera menutup matanya lagi saat menyadari Diah bangkit dan mendekat ke arah tempat tidur.


"Tuan, sudah subuh."


Guncangan pelan Ardi rasakan di pundaknya. Ardi pura-pura menggeliat dan baru terbangun. Ia mengucek matanya dan seolah sedang berusaha membuka mata yang sangat berat.


"Tuan, sudah subuh."

__ADS_1


"Heemm..." Ardi beranjak dari tidurnya."Tunggu ya, aku mau ambil wudu dulu." Sambung Ardi bergegas ke kamar mandi.


Tinggallah Diah yang tertegun oleh kalimat Ardi barusan. Tunggu. Kata itu membuat Diah tak bisa berkata dan menggerakkan tubuhnya. Selama ini meski mereka tidur di kamar yang sama, berlagak seperti pasangan suami istri, sekalipun tak pernah sholat berjamaah. Diah menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran jika Ardi ingin sholat berjamaah dengan nya. Tidak mungkin, Diah harus sadar diri.


Diah mengambil sajadah dan sarung milik Ardi. Menyiapkannya di tempat biasa pria itu sholat, lalu Diah berdiri di atas sajadah nya. Melafalkan niat untuk sholat subuh kali ini. Tepat saat itu Ardi baru saja keluar dari kamar mandi. Melihat Diah seperti sudah bersiap untuk takbir, Ardi berdeham. Diah memandangnya heran.


"Apa jarak imam dan makmum sejauh ini?" Tanya Ardi mengambil sajadah dan juga sarungnya. Tanpa memperdulikan ekspresi Diah yang terkejut dengan pertanyaannya.


Ardi menggelar sajadahnya tepat di depan Diah sedikit kekiri. Lalu memakai sarung dan peci. Melafalkan niat subuh berjamaah, suara Diah yang sedikit segau terdengar lirih. Hingga takbir pertama Ardi suarakan. Untuk pertama kalinya, pasangan yang telah lama halal itu berjamaah subuh.


Seusai mengucap salam. Ardi menoleh, duduk menghadap sisi kanan. Tangannya terulur ke arah Diah, wanita itu menyambut tangan Ardi dan menciumnya dengan takzim. Ardi tersenyum, senyum damai yang menggetarkan hati Diah setelah sempat hatinya merasa bungah. Bahagia, serasa sangat lengkap untuknya kini. Meski hanya solat berjamaah dengan imamnya.


Di meja makan Bu Dewi melihat wajah cerah dan bahagia terpancar dari wajah anak dan menantunya. Bu Dewi tersenyum, melirik keduanya bergantian.


"Apaan sih ma," protes Ardi merasa malu sekaligus kesal. Ekor mata Ardi melirik Diah yang tersipu dalam diamnya.


"Oohh, kirain mama melewatkan hal baik pagi ini. Ya udah sih kalau enggak." Cetus Bu Dewi memindahkan telur balado ke piringnya."Oiya, kalian kan udah hampir enam bulan nih menikah, kapan mau kasih Mama cucu?"


Lagi-lagi, pertanyaan Bu Dewi membuat Ardi dan Diah tersedak secara bersamaan. Bu Dewi melirik anak dan menantunya bergantian, lalu mengulas senyum.


"Apa sih, ma."

__ADS_1


"Ya, wajarnya orang berumah tangga kan, memang punya keturunan. Kalian udah enam bulan nikah, paling nggak, tahun depan kasih dong mama cucu." Seloroh Bu Dewi lagi.


"Masalah itu, ya tergantung yang di atas ma, ngasihnya kapan." Kilah Ardi.


"Benar, benar Di. Tapi, apa kalian udah usaha?"


"Maksud mama?" Tanya Ardi pura-pura bodoh.


"Ya masak nggak tau, Di. Usaha bikin cucu buat mama. Kalian sampai sekarang nggak ada bulan madu mama lihat."


Diah tersedak. Hanya Diah, Ardi tidak. Mata Bu Dewi dan Ardi langsung terarah pada satu-satunya wanita yang masih perawan itu. Gimana mau bulan madu, jika di dalam kamar saja tak saling bicara?


"Kamu nggak papa, yah? Dari tadi kesedak terus?" Bu Dewi memandang Diah aneh.


Sementara Ardi yang duduk di sebelah Diah menepuk punggung Diah dan mengulurkan segelas air putih pada istrinya itu.


"Jadi gimana? Kapan mau bulan madu?" Tanya Bu Dewi mengulang. Suasana terasa hening, usai pertanyaan yang Bu Dewi lontarkan. Diah menanti jawaban apa yang akan Ardi ucapkan, begitupun dengan Bu Dewi.


"Ardi sibuk, ma."


Diah tau, ia memang berharap terlalu banyak. Diah meruntuki dirinya sendiri, kenapa dia harus melambung saat Ardi mengajaknya berjamaah subuh tadi pagi.

__ADS_1


"Lagi pula, aku nggak bisa ninggalin mama sendiri." Lanjut Ardi lagi.


"Kalian nggak usah khawatirkan mama. Mama baik-baik saja. Ada mbok Tini, dan bukankah kamu sudah menempatkan orang kepercayaan kamu buat jaga rumah ini? Mereka terlatih, Di. Jadi, kamu tenang aja. Pergilah bulan madu. Mama sudah pingin menggendong cucu."


__ADS_2