
"Tuan,"
Ardi menoleh, melihat Diah berdiri di ujung dapur. "Bentar ya, bentar lagi Mateng mie nya. Dila sudah tidur?"
"Sudah," Diah menjawab sambil berjalan mendekat. Melihat ke panci di atas kompor.
"Ini pertama kalinya, aku masak. Cuma ngikuti petunjuk di bungkus mie." Ujar Ardi gugup, karena Diah melongok masakannya.
Diah mengukir senyuman, yang tentu saja membuat jantung Ardi berdetak tak menentu. "Ini sudah bisa di angkat."
Ardi tersentak, "baiklah," bergegas ia mematikan kompor dan menyentuh pegangan panci. Tapi, dengan cepat ia tarik kembali dan mundur."panas." Pekiknya, karena terlalu gugup Ardi sampai lupa jika panci itu panas.
Diah terkikik melihat tuannya, lalu ia mengambil sarung tangan tebal yang terkait di tembok belakang kompor. Diah memakainya dan mengangkat panci itu. Menuang mie ke dalam mangkuk yang sudah Ardi isi dengan bumbu.
"Tuan mau?"
"Untukmu saja."
Diah tersenyum kecil, lalu mulai mencampur mie dan bumbunya. Aroma sedap dari mie yang bercampur dengan bumbu menguar menggelitik hidung Ardi. Pria itu menelan ludahnya, tergoda juga ia ingin mencicipi, tapi, malu jika harus meminta. Akhirnya ia hanya bisa meneguk ludah sendiri.
Suara perut Ardi berbunyi, seketika membuat suasana menjadi sangat hening dan canggung. Pria bertubuh proporsional itu menggaruk belakang kepalanya. Kenapa perutnya justru berbunyi di waktu yang sangat tepat.
"Tuan mau? Saya belum memakannya."
"Kamu juga lapar,"
"Saya bisa membuat sendiri."
Ardi menahan tangan Diah, jantung nya berdetak sangat kencang hanya untuk mengeluarkan kalimat ajakan makan sepiring berdua. Ada rasa khawatir, Diah akan menolaknya. Tapi, bukankah ia terlalu sering di tolak? Kenapa takut dengan penolakan Diah yang kesekian kalinya? Bukankah ia ingin menjadi lebih keras kepala untuk meluluhkan hati Diah?
"Bolehkah, makan berdua?" Tanya Ardi ragu,
Diah tertegun, menatap wajah pria yang kini menjadi suaminya itu. Dalam hatinya, ia mulai sedikit membuka. Mungkin benar, Ardi bersungguh-sungguh untuk membuatnya jatuh cinta. Tapi, ia sendiri udah jatuh, hanya takut dan tak ingin terluka lagi.
"Bolehkah?"
Diah masih membisu,
"Diah?"
Diah mengangguk samar dalam keheningannya, mungkin tak masalah jika hanya makan berdua. Hanya, dia harus terus membentengi diri agar tak jatuh cinta lagi pada pria yang menjadi suaminya itu.
Mendapat anggukan dari sang istri, Ardi tersenyum lega. Benar, ia memang harus lebih menebalkan mukanya untuk meluluhkan hati Diah yang sempat terluka oleh sikapnya di masa lalu.
__ADS_1
"Terima kasih, istriku."
Akhirnya, pasangan suami istri yang telah menikah selama hampir dua tahun itu makan sepiring berdua. Mungkin untuk yang pertama kalinya.
"Ternyata, mie buatanku enak juga."
"Ini mie instan tuan, semua rasanya sama." Diah menggulum bibir agar tak tersenyum.
"Enggaklah, Diah. Kalau kebanyakan air juga jadi hambar. Kalau kelamaan masak pasti mie nya jadi lembek." Ardi berkelit, sambil menjejalkan lagi mie ke dalam mulutnya.
Memang benar apa yang Ardi katakan, Diah pun tersenyum memaklumi, karena ini pertama kalinya Ardi masak. Dan itu diperuntukkan Diah. "Terserah tuan saja."
"Diah,"
"Iya, tuan?"
"Bisakah, kamu tidak memanggilku tuan?"
"Tapi..."
"Aku suamimu Diah," Ardi memotong.
"Tapi kita ..."
"Beri aku kesempatan," pinta Ardi menatap manik mata Diah yang menatapnya dalam."Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku."
"Karena kita memiliki Dila. Kita memiliki darah yang sama, hati kita bisa saling terpaut, hanya tidak menyadarinya."
Diah terdiam, ia sangat tau, ia memiliki hutang darah pada Ardi. "Darah mu di tubuhku ..."
"Aku tidak memintanya kembali, Diah. Aku juga tidak memintanya kembali dalam bentuk hati yang mencintai." Potong Ardi lagi membungkam Diah seketika. Pria tampan itu menatap Diah, dengan pancaran cinta yang dia punya. Berharap akan sampai ke hati wanita yang hatinya telah beku oleh rasa sakit.
"Aku hanya meminta di beri kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta. Hanya itu..."
Diah menghela nafasnya, walau bagaimanapun, apa yang Ardi ucapkan benar. Mereka memiliki Dila, walau mungkin awal pembuatannya tidak disertai cinta. Setidaknya, Dila sudah tercipta, yang akan menjadi jalan pembuktian cinta Ardi padanya.
"Baiklah,"
Sudut bibir Ardi tertarik ke atas, membentuk senyum yang sangat lebar hingga gigi-gigi putihnya terlihat berderet.
"Terima kasih, bisakah, kamu berhenti memanggilku tuan? Panggil aku mas,"
Diah tak mengiyakan, juga tidak menolak. Hanya melempar sebuah senyuman, lalu ia menyendok lagi mie yang mulai dingin. Menyuap ke dalam mulut dan mengunyahnya. Ardi pun mengikuti jejak sang istri, memakan mie dalam keheningan setelah percakapan yang cukup menguras hati.
__ADS_1
***
Sore ini, Diah baru saja selesai mandi. Ia memasuki kamarnya, pandangan matanya langsung tertuju pada tempat tidur yang kosong. Diah sedikit panik, berpikir mungkinkah anaknya tertidur cukup aktif sampai berguling-guling dan jatuh. Diah melongok ke bawah, melihat kolong bawah tempat tidurnya. Namun, ia tak mendapati Dila di manapun.
Dengan jantung yang berdebar keras dan pikiran yang kacau, Diah bergegas keluar matanya berkeliaran kesana kemari. Sampai di ruang keluarga, ia menangkap sosok seorang pria yang terlelap memangku putri tercinta. Mungkin Dila menangis saat ia mandi, dan Ardi mengendong untuk menenangkan. Tapi, kini justru ikut terlelap Karena lelah.
"Aaahh,," Diah menghela nafas lega. Entah apa yang membuat Diah sangat takut kehilangan Dila. Padahal ia sempat berniat meninggalkannya dengan Ardi nanti.
Diah berjalan mendekat, menatap wajah ayah dan anak itu. Ia tersenyum memandang gaya tidur keduanya sama.
"Mereka terlihat mirip, mungkin karena ayah dan anak, darah kalian mengalir di tubuh Dila." Suara Bu Dewi yang tiba-tiba terdengar membuat Diah terperangah, menatap wanita tua yang berjalan mendekat dengan sangat pelan.
Diah tersenyum dan menghampiri Bu Dewi lalu membantunya berjalan dan duduk di sofa ruang keluarga.
"Ardi itu mencintaimu, Diah. Dia hanya tak bisa mengungkapkannya. Ia seperti papa nya dulu, sekalipun tak pernah mengatakan kata cinta pada mama. Jujur saja, dulu mama pun merasa ragu. Tapi, sikap papa Ardilah yang membuktikan cintanya." Ungkap Bu Dewi memandang anak dan cucu yang terlelap di hadapannya.
"Tolong, maafkan Ardi, Diah. Beri dia kesempatan untuk membuktikan cintanya padamu."
Diah tak menanggapi, ia memilih diam dan merenung. Rasa takut akan terluka membuat Diah terus membentangi diri meski ia pun menyimpan rasa cinta untuk suaminya.
Ardi menggeliat, wajahnya yang masih terasa mengantuk, seketika membuka mata saat melihat dua wanita yang di cintai nya duduk bersisihan tak jauh darinya duduk.
"Mama?" Ardi masih ingat dan sadar jika di dekapannya ada Dila yang tertidur. Dengan sigap Ardi mengukuhkan dekapannya agar Dila tak jatuh.
Ardi berganti menatap sang istri, "tadi, Dila menangis. Di kamar kamu juga nggak ada. Karena itu aku membawanya keluar, Dila akhirnya tenang. Tapi melihat wajah tidurnya yang tenang ini membuatku ikut tertidur juga." Tutur Ardi menjelaskan dengan sedikit rasa malu karena sudah tertidur.
Diah menarik sudut bibirnya ke atas. Benar dugaannya, Ardi kelelahan sampai tertidur. "Aku meninggalkan nya untuk mandi tadi."
Diah bergerak ke depan untuk mengambil Dila dari gendongan Ardi. Namun, pria itu menolak seraya berkata, "bolehkan sebentar lagi? Aku masih kangen." Mata Ardi berfokus pada wajah imut anak gadisnya.
"Ya sudah," ucap Diah pasrah, "mau kubuatkan kopi?"
Malam telah tiba, tiba juga untuk Ardi kembali menggelar tikar di sisi ranjang Diah dan sang anak gadis tidur.
"Tuan,"
Ardi sudah pasrah dengan panggilan 'tuan' untuknya. Ia tak ingin memaksa Diah jika istrinya itu merasa tak nyaman. Ia akan bersabar sampai Diah bersedia memanggilnya mas.
"Jangan menggelar tikar lagi, di bawah dingin."
Ardi menghela nafasnya dalam diam. Ia tau, ucapan Diah berikutnya adalah kalimat untuk mengusir dari kamarnya.
"Naiklah ke atas. Jika tuan tidak keberatan berhimpitan dengan kami."
__ADS_1
Senyum Ardi terbit, pria itu menggulung lagi tikarnya. Lalu merangkak ke atas ranjang. "Terima kasih istriku."
Perlahan, hati Diah mulai terbuka untuknya.