Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 24


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Diah sudah membuka mata dan mulai bangkit dari tikar yang setiap hari menjadi alas tidurnya. Gadis itu masih bertahan tidur di lantai hanya dengan beralaskan tikar, sementara suaminya masih tetap menikmati tidur nyenyak di atas ranjang.


Diah segera mengawali paginya. Gadis itu masih tetap bersemangat menjalani hari, meskipun Diah melewati pernikahan yang menyiksa.


"Tuan, pakaiannya sudah aku siapkan. Sudah aku setrika juga. Kopi tuan ada di meja makan," ujar Diah pada sang suami yang saat ini tengah bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerja.


Ardi hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu masih saja bersikap dingin pada istrinya, setelah dua bulan lamanya mereka membangun bahtera rumah tangga bersama.


Diah hanya bisa memaklumi sikap Ardi. Selama dua bulan ini, gadis itu hanya bisa bersabar saat menerima perlakuan dingin Ardi pada dirinya.


"Sarapan sudah siap, Ma!" ujar Diah pada sang ibu mertua.


Bu Dewi menyambut senyuman dari menantunya dengan wajah riang. "Bagaimana kondisi Mama hari ini? Sudah lebih baik?" sapa Ardi pada sang ibu di pagi hari.


"Diah, ini kopi Mas, ya? Terima kasih, ya?" ucap Ardi pada Diah sembari melempar senyum pada gadis itu.


Hari Bu Dewi pun makin sempurna saat ia melihat menantu dan putranya yang terlihat akur. Namun, tentu saja ini hanyalah sebuah pertunjukan. Ardi memang sengaja bersikap manis di depan Diah dan ingin menunjukkan kehidupan pernikahan yang harmonis di depan ibunya. Tapi saat pria itu hanya bersama Diah berdua saja di dalam kamar, sikap Ardi pun akan berubah drastis. Pria itu akan berubah menjadi dingin dan ketus pada Diah.


"Aku ambilkan sarapan ya, Mas?" tawar Diah juga ikut mengembangkan senyum pada sang suami.


"Diah, setelah ini kamu temani Mama jalan-jalan, ya?" ajak Bu Dewi pada sang menantu.


"Iya, Ma!"

__ADS_1


Setelah menikah dengan Ardi dan menjadi menantu di keluarga itu, Diah masih tetap menjalankan tugasnya untuk merawat Bu Dewi seperti biasa layaknya pengasuh seperti sebelumnya. Namun, bedanya saat ini Diah sudah berstatus sebagai menantu, bukan lagi pekerja yang dibayar.


"Aku pergi dulu ya, Diah!" pamit Ardi pada Diah sembari melayangkan kecupan hangat ke kening Diah sebelum pergi ke tempat kerja.


Diah cukup sadar jika Ardi hanya membuat pertunjukan dan hanya ingin membuat ibunya senang. Tapi tetap saja hati Diah berdebar tak karuan setiap kali Adi tersenyum padanya bahkan mengecup keningnya.


Ya, bohong kalau Diah tidak jatuh hati pada suaminya. Walaupun sebenarnya Ardi hanya berpura-pura baik untuk menyenangkan sang ibu, tapi sikap pria itu sudah membuat Diah benar-benar jatuh hati.


"Hati-hati di jalan, Mas!" ujar Diah sembari melambaikan tangan pada sang suami.


"Kita jalan-jalan sekarang, Ma?" tanya Diah pada Bu Dewi.


"Sekarang saja, ya!"


Selama dirawat oleh Diah, kondisi Bu Dewi pun semakin membaik dan kemajuan yang ditunjukkan pun semakin pesat. Saat ini Bu dewi sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kursi roda. Bu dewi sudah bisa menggerakkan kakinya sedikit demi sedikit dan bahkan berjalan menggunakan bantuan tongkat.


"Hari ini cerah sekali, ya?" ucap Bu Dewi sembari menikmati sinar mentari pagi.


"Iya, Ma!"


"Bagaimana hubungan kamu dengan Ardi, Diah? Semakin hari kalian terlihat semakin romantis," goda Bu Dewi pada sang menantu.


Diah hanya bisa tersenyum. Andai saja diah bisa mengungkapkan kebenaran pada Bu Dewi. Namun, tentu saja gadis itu tidak tega merusak kebahagiaan mertuanya yang ia sayang itu.

__ADS_1


"Mas Ardi sangat perhatian padaku, Ma," ungkap Diah sedikit berdusta. Memang Ardi terkadang menunjukkan perhatian pada Diah, tapi hal itu hanya dilakukan saat mereka ada di depan Bu Dewi saja.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu bahagia menikah dengan Ardi, kan? Meskipun di awal pernikahan kalian belum saling memiliki perasaan sama lain, Mama yakin setelah kalian terbiasa bersama, nantinya rasa itu akan muncul dengan sendirinya," sahut Bu Dewi.


Diah hanya bisa mengangguk. Memang benar apa yang dikatakan Bu Dewi. Sudah terbiasa bersama dengan Ardi membuat Diah lambat laut menaruh hati pada pria itu. Tapi Diah cukup sadar diri, tak mungkin ia mengungkapkan perasaannya pada Ardi, meskipun pria itu sudah menjadi suaminya. Tak mungkin gadis itu mengharapkan cinta dari Ardi, meskipun pria itu sudah menjadi pasangan halalnya.


"Aku sudah cukup bahagia sekarang, Ma. Aku mempunyai Mas Ardi yang begitu perhatian padaku. Dan aku juga mempunyai Mama yang sangat baik padaku," ucap Diah penuh syukur. Walaupun memang kehidupan pernikahannya dengan Ardi i tidak seindah yang terlihat, tapi Diah tetap bersyukur gadis itu dapat menemukan keluarga baru dan tidak lagi hidup sebatang kara sebagai yatim piatu.


Sementara Diah masih menjalani rutinitas seperti biasa merawat Bu Dewi, Ardi juga masih menjalani aktivitas yang sama, yaitu mengawasi Diah dan Bu Dewi melalui CCTV.


Ya, Ardi masih sering memantau Diah dan ibunya dari jauh. Ardi cukup senang melihat kemajuan pesat yang ditunjukkan oleh ibunya berkat bantuan Diah. Meskipun pria itu sangat berterima kasih atas jasa-jasa Diah yang sudah merawat ibunya, tapi tetap saja berat bagi Ardi untuk membalas kebaikan Diah dengan memberikan rasa cinta di pernikahan mereka.


"Diah, sebenarnya kamu memang gadis yang baik. Tapi meskipun aku merasa berterima kasih padamu, bukan berarti aku harus membalasnya dengan rasa cinta, kan?" gumam Ardi.


Terkadang pria itu juga merasa bersalah dengan sikap dinginnya pada Diah. Ardi tidak bisa memberikan kehidupan pernikahan harmonis pada Diah. Bahkan untuk menaruh hati pada gadis itupun masih terasa berat bagi Ardi.


"Maafkan aku, Diah. Kamu masih akan tetap bertahan meskipun kita mempunyai pernikahan yang kacau, kan?" gumam Ardi.


Jika terus-menerus seperti ini, Ardi sendiri pun juga ragu untuk melanjutkan pernikahannya dengan Diah tanpa cinta. Terlebih lagi, sebenarnya Ardi juga tidak tega memperlakukan Diah dengan dingin dan tidak merawat dan menyayangi gadis itu sebagai istri.


"Sampai kapan kita akan terus menjalani pernikahan yang hambar seperti ini?" oceh Ardi.


"Semoga kamu masih bisa bertahan, Diah. demi Mama, tolong kamu bertahan sedikit lagi."

__ADS_1


Meskipun sebenarnya Ardi menaruh simpati dan empati pada Diah, tapi pria itu masih kesulitan untuk membuka hati dan menerima gadis itu sebagai istri seutuhnya.


****


__ADS_2