Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 54


__ADS_3

Pagi ini matahari bersinar cukup menyilaukan. Cahayanya perlahan menembus jendala kaca di kamar Rangga. Pria tampan itu mengerjap,lalu membuka mata perlahan. Dengan mata yang terasa berat dan kepala yang pening, Rangga mengedar pandangan ke seisi ruangan.


Rasanya, dunia sangat lah tak adil padanya, saat ia berhasil menemukan wanita yang ia cari. Wanita itu justru sudah menikah dengan rekan bisnisnya. Rasa kesal dan marah kini meliputi hati pria itu. Rangga bangkit dari pembaringan, dengan lesu dan lemas pria itu melangkah ke arah pintu balkon kamarnya.


Rangga menyibak gorden tipis berwarna biru laut, lalu membuka pintu kaca dengan menggeser ke samping. Kaki Rangga melangkah menapaki lantai balkon yang dingin tersiram embun pagi. Pria yang kini masih memakai kemeja tanpa menggantinya sejak ia pulang dari pesta semalam itu mengedarkan pandangan ke halaman depan yang di penuhi tanaman berdaun lebar kesayangan mamanya. Mama Rangga memang pengoleksi Tamanan.


Pria tampan itu menumpukan tangannya di pagar pembatas balkon melihat taman yang hijau dengan sedikit bunga di bagian sudunya. Dari balkon ia dapat melihat keseluruhan taman, bahkan pelayan berbaju coklat yang menyiram bunga dengan selang pun dapat ia lihat. Rangga menghela nafasnya, lalu melempar pandangan jauh keluar gerbang. Ia melihat mobil Ardi memasuki rumah. Rangga tersenyum kecut mengingat kejadian semalam. Hampir saja ia memperkenalkan Diah sebagai kekasihnya. Ia akan sangat malu jika sampai semua rekan bisnisnya tau jika Diah istri Ardi.


Cukup lama Rangga terdiam di balkon kamarnya. Melihat taman dan segala aktivitas di bawah sana, termasuk saat pak Aryo supir mamanya menginjak selang yang pelayan berbaju coklat itu gunakan. Air tak lagi mengalir, pelayan itu tampak bingung karena air tak keluar. Lucunya, dia justru mengarahkan lobang di wajahnya sendiri. Saat itu pak Aryo langsung melepas injakan pada selang lalu air itu terlontar mengenai wajah pelayan wanita. Pak Aryo tertawa terbahak-bahak, sementara si pelayan berbalik dengan wajah basah dan cemberut.


"Pak Aryo!!!" Jeritnya.


Pak Aryo dengan tanpa rasa bersalah tertawa terpingkal dan memegangi perutnya yang buncit itu.


"Iiihhh, pak Aryo jahat!" Si pelayan menyemprot ke arah pak Aryo. Namun pak Aryo berlari menjauh dan tentu dengan tawa yang tak henti. Pelayan itu berlari mengejar berganti menyemprot pak Aryo dan bukan lagi taman.


Rangga tersenyum kecil. "Bodoh."


***


Lima hari kemudian, Pukul 11.30 siang.


Rangga menyenderkan punggungnya, pikirannya melayang entah kemana. Padahal saat ini ia sedang memimpin meeting dengan beberapa karyawannya. Salah seorang manager sedang mempresentasikan hasil kerjanya di podium. Beberapa kali melirik Rangga yang tak fokus dan menguap. Hal itu cukup memukul mental.


Rangga menghela nafasnya, lalu berdiri. "Hari ini cukup sekian. Kita bisa lanjut lain waktu." Ujarnya melihat arloji yang melingkar di lengannya."Ini sudah waktunya lunch. Mari makan siang." Tutupnya tanpa memperhatikan ekspresi karyawan nya yang berdiri di podium terlihat kecewa, namun tak bisa berbuat apa-apa.


Rangga melangkah keluar dari ruang meeting, sang asisten menemaninya melangkah. Lalu mereka berjalan memasuki lift, sekertarisnya menekan tombol ke arah lobi.


"Pak Rangga, ada salah satu teman anda yang menunggu di lobi."


"Teman apa?" Tanya Rangga datar.


"Katanya dia tetangga anda, namanya Diah."


Jantung Rangga serasa berhenti berdetak, ketika nama itu di sebut. Susah payah Rangga mencoba melupakan Diah. Dan wanita itu datang tiba-tiba ke kantornya. Ada apa?


"Dimana dia sekarang?"

__ADS_1


Sekertaris nya menautkan alis,"seperti yang saya bilang tadi. Di lobi."


"Baiklah."


Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Rangga berjalan ke arah lobi, lebih tepatnya ke ruang tunggu yang di sediakan di dekat lobi.


Mata Rangga dan Diah bertubrukan. Diah segera bangkit dari duduknya, tanpa melepas pandangan dari Rangga.


***


"Apa Ardi tidak marah kamu menemuiku sekarang?" Tanya Rangga mengaduk-aduk cangkir kopi nya dengan sendok.


"Mas Ardi yang mengantarku kemari."


"Kenapa dia tidak ikut menemuiku?"


"Dia hanya ingin memberi waktu untukku bicara denganmu."


"Aaahh, kamu baik-baik saja? Dia terlihat marah waktu itu."


"Iya,"


"Mas Rangga," panggil Diah memotong dengan cepat.


"Iya?"


"Maafkan aku, karena telah membuat mu salah paham. Aku tidak bermaksud begitu. Hubunganku dengan mas Ardi memang sangat rumit. Dulunya, aku hanyalah perawat Bu Dewi, tapi, beliau membuatku jadi mantu. Aku juga tak mengerti, hubunganku dengan mas Ardi akan berkembang seperti ini." Jelas Diah.


"Tidak apa-apa, jangan terlalu di pikirkan. Aku akan meminta maaf secara personal pada Ardi nanti." Sela Rangga.


"Maaf, mas Rangga."


"Sudah kubilang jangan terlalu di pikirkan."


"Maaf, aku hanya ingin meluruskan ini."


Rangga menanggapi dengan secuil senyuman di bibirnya. Ia memindai wajah Diah, wanita berkulit sawo matang itu kini terlihat lebih bersinar dengan aura kebahagiaan yang di pancarkan. Rangga tau, itu karena Ardi. Rangga menatap Diah dalam, lalu ia teringat dengan gadis di masa lalunya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah lupa dengan ku?" Celetuk Rangga tiba-tiba karena keheningan mulai membuat Diah tak nyaman.


Diah mengangkat kepalanya menatap Rangga bingung.


"Dulu kita pernah bertemu, saat itu aku masih SMP dan kamu, masih cukup kecil. Di gunung di Jawa tengah, aku pernah tersesat dan kamu menolongku."


Diah masih tampak bingung dengan penuturan Rangga, namun, ia tak mengatakan apapun dan hanya menyimak saja.


"Kamu tak ingat? Kamu memberiku sepotong roti dan air yang kamu ambil dari aliran air di gunung itu."


Diah menggeleng,


"Kamu tidak ingat? Kamu juga membawaku yang terkilir ke pemukiman warga. Aku tak menanyakan namamu tapi aku masih sangat ingat dengan wajahmu."


Diah masih menggeleng, "aku belum pernah mendaki ataupun tinggal di dekat kaki gunung manapun."


"Benarkah?" Rangga terlihat sangsi.


Diah mengangguk, "mungkin kamu salah mengenali orang."


Rangga melepas sebuah kalung berbandul yang ia kenakan. Lalu mengulurkan pada Diah agar wanita itu melihatnya dan mengingat benda yang pernah di gunakan untuk mengikat kain yang membalut kakinya yang terkilir.


"Kalung apa ini?"


"Itu bukan milikmu?"


Diah menggeleng dan terlihat bingung.


"Coba ingat-ingat lagi."


Diah terdiam memandang kalung berserta bandulnya itu. Lalu menyentuh bandul berbentuk kotak itu. Ia membuka bandul kotak yang di dalamnya berisi foto. Foto wajah wanita berumur 25tahunan dan disisi yang lain foto seorang pria. Kedua foto itu sudah sedikit kabur dan tak begitu jelas karena termakan usia.


Diah mengembalikan karena merasa tak kenal dengan foto itu.


"Maaf mas Rangga, aku tidak tau." Ucapnya kemudian pamit,


Rangga menyenderkan punggungnya, menatap pada kalung itu cukup lama.

__ADS_1


"Jika bukan Diah, lalu siapa?" Gumamnya lirih.


__ADS_2