Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 36


__ADS_3

Mendengar suara Bu Dewi yang histeris dan panik, Ardi berlari keluar. Matanya melebar mendapati sang mama bersimpuh di ujung teras. Pikiran Ardi menjadi kacau. Ia bergegas mendekat, khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada mamanya.


"Mama!"


Bu Dewi menoleh dengan cucuran air mata yang deras di pipinya."Ardi, istrimu pendarahan."


Mata Ardi melebar, melihat Diah yang kesakitan memegangi perutnya. Ardi panik dan ketakutan. Dengan cepat Ardi membopong tubuh Diah. Membawanya ke dalam mobil, sedangkan Bu Dewi mengikuti di belakang.


"Mama, tunggu sini aja ya? Biar Ardi yang bawa Diah ke rumah sakit."


"Nggak mau! Mama mau ikut."


Ardi berdecak kesal, pikirannya udah kacau, hatinya makin kalut karena dua wanita yang paling dia sayangi. Yang satu sedang kesakitan, dan satu lagi sangat mencemaskan Diah, tapi tak mungkin Ardi bawa serta mengingat Bu Dewi belum bisa berjalan dengan cepat di saat kondisi genting seperti ini.


"Mama, Diah harus di bawa ke rumah sakit. Mama tunggu dirumah bersama mbok Tini ya. Nanti Ardi kabari. Ardi nggak bisa bawa mama juga." Ucap Ardi memberi pengertian pada mamanya.


Suara teriakan Diah yang menahan sakit terdengar, Ardi makin panik dan kalut. Melihat sang anak yang sudah begitu kacau menjambak rambutnya dengan frustasi, Bu Dewi pun mengalah untuk tak ikut.


"Cepat bawa Diah kerumah sakit. Kabari mama ya."


Wajah Ardi tampak sangat lega. Setelah mengucap salam. Ardi bergegas membawa Diah kerumah sakit.


"Nyonya, ada appa?" Mbok Tini baru keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang sedikit basah.


"Diah, mbok Tini. Diah pendarahan." Tangis Bu Dewi tersedu memeluk asisten rumah tangga nya.


"Innalilahi, yang sabar, nyah. Diah orang nya kuat kok. Pasti nggak apa-apa, diah dan bayinya pasti selamat. Percaya dan berdoa sama Alloh ya, nyah."


Bu Dewi menatap pembantunya itu dengan air mata berderai. Benar kata mbok Tini. Ia harus percaya dan berdoa. Bu Dewi pun meminta mbok Tini untuk membantunya masuk kedalam rumah. Bu Dewi melaksanakan sholat magrib karena memang sudah waktunya. Bermunajat pada sang pencipta agar menantu dan cucunya di beri keselamatan.


Di sisi lain, Diah sudah terbaring di brangkar rumah sakit. Beberapa suster berlarian mendorong brangkar ke ruang bersalin. Ardi ikut berlari disisi brangkar. Menggenggam tangan Diah dan terus berdoa untuk keselamatan.

__ADS_1


Dokter yang memeriksa Diah meminta Ardi untuk menunggu diluar sementara Diah dalam penanganan. Ardi berjalan mondar mandir tak tenang. Mengusap wajah dan rambutnya ke belakang. Pria itu terus meruntuki dirinya sendiri, merasa sangat marah karena hal ini sampai terjadi. Ardi tak ingin kehilangan Diah, juga bayi dalam kandungannya.


Sementara itu, Bu Dewi dirumah merasa tak tenang, menanti Ardi yang tak kunjung menghubunginya membuat Bu Dewi makin gelisah.


"Mbok! Mbok Tini!"


"Iya, nyah." Sahut mbok Tini datang dengan tergopoh-gopoh.


"Mbok, minta salah satu security depan buat antar ke rumah sakit. Aku nggak tenang, mbok. Aku khawatir sama Diah dan anaknya."


"Baik, nyah."


"Kamu juga ikut ya, mbok."


"Iya, nyah."


Setelah mengemasi barang-barang miliknya, dan juga milik Diah. Bu Dewi dan mbok Tini bergegas ke rumah sakit dengan diantar oleh salah satu security rumah. Tak lupa pakaian untuk berjaga jika harus menginap di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Bu Dewi bertanya pada bagian registrasi di UGD.


"Ibu Diah sudah dibawa ke ruang bersalin. Ibu bisa masuk saja melalui pintu di sebelah. Lulus, sampai mentok dan belok kanan. Nanti ada plat ruang bersalin, tinggal ikuti saja arahnya." Ucap sang petugas menjelaskan.


"Baik pak, terima kasih."


"Sama-sama, Bu."


Dengan langkah tergesa yang lambat, Bu Dewi berjalan di bantu oleh mbok Tini dan security yang membawa dua tas milik Diah dan sang majikan. Bu Dewi terus berdoa dan memohon keselamatan bagi Diah serta calon cucunya. Bu Dewi akhirnya sampai di ujung lorong. Melihat Ardi duduk menyembunyikan wajah diantara kedua telapak tangannya. Bu Dewi memanggil nama anaknya.


"Ardi!"


Ardi mengangkat kepalanya dan menoleh, melihat sang mama berjalan mendekat dengan langkah lambat yang di bantu mbok Tini. Ardi bergegas menghampiri.

__ADS_1


"Mama... Kenapa mama kemari?"


"Mama khawatir nak. Bagaimana Diah?"


Wajah Ardi yang tampak lelah, sedih, dan cemas tak bisa ia sembunyikan dari mamanya."Masih, dalam penanganan ma."


Bu Dewi merasa sangat sedih, dan juga iba. Melihat Ardi sedemikian kacaunya. Bu Dewi memeluk Ardi, dan Ardi sendiri menyembunyikan kepalanya di bahu sang mama. Perlahan, tubuh Ardi berguncang.


"Diah pasti baik-baik saja, Di." Ucap Bu Dewi mengusap kepala anak lelaki nya. Untuk pertama kalinya, diusia Ardi yang sedewasa ini, Bu Dewi melihat anak lelaki nya itu menangis. Bu Dewi mengusap punggung anaknya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara lirih bayi yang menangis. Ardi menatap sang mama, begitupun dengan Bu Dewi.


"Alhamdulillah, " suara mbok Tini dan pak security bersamaan.


Wajah lega dan penuh syukur tampak menghiasi wajah keriput Bu Dewi dan juga anak lelakinya yang tampan itu.


"Alhamdulillah..." Ucap keduanya bersamaan di iringi tangis bahagia. Ardi memeluk mamanya penuh syukur. Anaknya telah lahir, tak lama pintu ruang bersalin terbuka, dokter dan beberapa suster keluar,


"Keluarga ibu Diah."


Dengan cepat Ardi mendekat, "saya suaminya dok."


"Selamat ya pak, anaknya perempuan, cantik, sehat dan sempurna." Ucap sang dokter. "Bayinya sedang di bersihkan oleh salah satu perawatan kami."


"Alhamdulillah," kalimat penuh syukur itu berulang kali di gaungkan oleh bu Tini dan juga sang mama. Ardi hany bisa bersyukur melalui hatinya.


"Bagaimana dengan istri saya, dok?"


"Ibu Diah mengalami pendarahan hebat. Kita harus menyiapkan pendonor, dan kami membutuhkan beberapa persetujuan dari anda, pak." ucap sang dokter, lalu berganti menatap perwat di sisinya, "golongan darah Bu Diah adalah O. Tolong, cek stok di rumah sakit dan bank darah." Ucap dokter memberikan instruksi pada beberapa nert dan suster.


"Baik, dok."


"Tapi, apa masih sempat ke bank darah dok. Bukankah saat ini mendesak?" Tanya salah satu suster. Ardi dan Bu Dewi seketika berubah menjadi tegang.

__ADS_1


"Kita lakukan yang terbaik untuk segala kemungkinan, sus."


"Ambil saja darahku. Ambil darahku, dok." Ucap Ardi yang sedari tadi menyimak pembicaraan antara dokter dan perawat. Ardi sangat tau situasi Diah buruk. Ia tak ingin kehilangan istrinya."Golongan darahku O."


__ADS_2