Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 39


__ADS_3

Malam itu, Ardi masih menggelar tikar nya dilantai kamar Diah. Ardi tetap tak mau pindah sebelum Diah ikut pindah ke kamarnya.


"Mari kita saling berkeras hati Diah, dan lihat siapa yang menang." Batin Ardi membaringkan tubuh di atas tikar.


Diah sendiri memilih diam dan tak merespon Ardi. Diah tau Ardi melakukan ini semata-mata untuk Dila. Diah sendiri merasa sangat bersalah pada Dila putrinya. Dila masih sangat kecil, ia bahkan belum genap sebulan. Semalaman itu Diah terus memikirkan nya. Mencoba mengikis keegoisan untuk Dila, meski hatinya terus terluka.


Diah terbangun dari tidurnya malam itu, karena mendengar suara tangisan Dila. Namun, tak ada Dila di sisinya, suara tangis itu berasal dari ujung ranjangnya. Diah melihat tak jauh dari sisi ranjang, punggung Ardi yang sedang berdiri dan menenangkan sang putri dalam dekapannya.


Malam itu, Ardi bahkan tak berusaha membangunkan dirinya untuk memberi Dila asi. Justru memilih menenangkan sendiri anaknya, tanpa mengganggu tidur sang istri. Hal itu sedikit membuat Diah tersentuh.


"Tuan." Panggil Diah lirih.


Ardi menoleh,


"Biar saya memberinya asi. Dila pasti lapar." Ucap Diah mengisyaratkan untuk mengambil alih Dila ke dalam dekapanya. Tanpa kata, Ardi menyerahkan Dila dengan hati-hati dan membiarkan Diah memberi asi.


"Benar, dia memang lapar." Gumam Ardi menatap sang putri yang kini sedang dalam pelukan ibunya. Tangan mungil nya memijit payu dara sang ibu, dan menyusu dengan rakusnya. Gadis kecil itu kadang sampai tersedak.


"Pelan-pelan sayang, Ayah nggak minta. Semua buat Dila. Humm?" Oceh Ardi memandangi anaknya dengan gemas.


Diah memilih diam, menyusui anaknya duduk di pinggiran tempat tidur. Sedangkan Ardi berjongkok di depannya. Tangan Ardi mengelus kepala mungil Dila, sembari memandang gadis itu dengan sayang.


"Jangan berpisah Diah. Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta kepada ku. Bertahanlah denganku..." Ardi berganti memandang wajah Diah istrinya."Beri aku waktu untuk membuatmu jatuh cinta. Aku akan menerima apapun untuk menebus kesalahanku yang telah menyakiti mu. Tolong, jangan bercerai." Ucap Ardi memohon.


Diah menatap Ardi, merasa senang ucapan suaminya itu, tapi, ia juga sadar, ia tak tau apakah Ardi mencintainya atau tidak. Atau semua demi Dila dan Bu Dewi lagi. Diah terdiam, saling beradu tatap dengan Ardi dalam waktu yang cukup lama dan intens.


***


"Tuan,"

__ADS_1


Ardi yang sudah siap menggelar tikar dan bantalnya menoleh ke arah Diah malam itu. Malam yang kesekian kalinya Ardi tidur beralaskan tikar seperti Diah dulu. Rasa dingin dan kerasnya lantai sampai tubuh Ardi terasa pegal, menyadarkannya akan sesuatu. Diah, wanita kuat yang tetap tegar meski mendapat perlakuan tak mengenakan darinya.


"Kembali lah ke kamar tuan."


"Apa kamu juga akan kembali ke sana?"


Dia bungkam lalu menggeleng pelan. Ardi melekukan sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman. Dan mulai membaringkan tubuhnya di atas tikar. Itu saja, sudah menjadi jawabab yang cukup untuk Diah. Ardi tak akan pergi sebelum dirinya kembali ke kamar tuannya.


Diah abaikan saja, mencoba menjadi wanita berhati keras dan tega. Malam semakin larut, Diah terbangun oleh suara petir yang menyambar. Dadanya berdegup kencang mendengar suara gemuruh di luar sana. Hujan yang jatuh bagai lautan yang di tumpahkan begitu saja ke daratan. Hawa dingin terasa sangat menusuk kulitnya meski ia berbalut selimut. Diah melirik anaknya, membetulkan selimut yang tersibak oleh gerak tubuh sang bayi. Diah mengukir senyum di wajahnya mellihat Dila yang tidur dengan tenang. Seketika Diah teringat akan suaminya tidur di atas lantai beralaskan tikar. Sudah bisa Diah bayangkan sedingin apa di sana.


Diah bergegas menggeser tubuhnya melewati Dila. Melihat ke sisi lain tempat tidurnya. Diah melongok ke bawah, melihat Ardi meringkuk di bawah sana berbungkus selimut. Membuat Diah tak tega. Seorang tuan muda rela meringkuk melawan dingin di atas lantai demi meluluhkan hatinya.


Diah menghela nafasnya, ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Diah teringat bagaimana rasanya saat ia di posisi itu. Menatap wajah Ardi yang terlelap, Diah yakin Ardi pastilah sangat kedinginan.


Diah menjulurkan tangannya, mengoncang lengan Ardi agar bangun. Pria tampan itu sedikit membuka matanya yang terasa sangat berat melihat pada Diah.


Ardi langsung bangun dan membuka matanya. "Ada apa Diah? Kamu butuh sesuatu? Apa Dila rewel?" Cecar Ardi.


Mata pria itu melihat Dila yang terlelap di bawah selimut yang hangat. Lalu melihat ke arah Diah yang menatapnya. Jika Dila terlelap, itu artinya Diah yang membutuhkan sesuatu. Begitu batin Ardi.


"Kamu haus? Lapar? Mau aku ambilkan sesuatu?" Tanyanya menatap Diah.


Diah menggeleng pelan. "Pindahlah ke kamar tuan. Di luar hujan lebat, dan sekarang hawanya sangat dingin."


Ardi diam menatap Diah, 'ternyata ia mau mengusirku dari kamarnya.' gumam Ardi dalam hati. Lalu ia kembali merebahkan diri di atas tikar nya, membungkus diri dengan selimut.


"Tuan." Diah tak habis pikir dengan Ardi yang kini meringkuk dan memejamkan mata.


"Heemm..."

__ADS_1


"Pindahlah ke kamar tuan."


Ardi membuka matanya menatap manik mata Diah."Apa kamu juga akan pindah?"


Diah bungkam, ia tau pembicaraan hanya akan berputar di sana. Tak mendapatkan jawaban dari Diah, Ardi kembali memejamkan matanya. Kini kedua anak manusia itu sama-sama keras.


"Tuan,"


Ardi diam,


"Pindahlah ke ranjang."


Ardi membuka matanya, menatap manik mata Diah. Memastikan permintaan Diah kali ini berbeda dari sebelumnya. Diah tak ingin berkeras hati dengan membiarkan sang suami tidur di lantai yang dingin di kala hujan dan hawa yang sangat menusuk kulit.


"Naiklah kemari." Diah menuruni tempat tidurnya, dan berdiri di sisi Ardi yang masih berbaring meringkuk menatapnya.


"Kamu bagaimana?" Tanya Ardi yang sangat tau bagaimana Diah akan bertindak kemudian.


"Biar saya yang tidur di lantai."


Ardi menyentak nafasnya kuat, sebagai tanda dirinya tak setuju. Pria itu semakin merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya, dan memejamkan mata lagi.


"Tuan..."


"Tidur! Besok aku harus bangun pagi. Ada meeting di kantor, tidak boleh terlambat."


Diah menatap Ardi sendu. Ardi benar-benar keras kepala sekarang. Diah bahkan tak bisa mengusir pria itu dari kamarnya, ataupun memintanya menurut dan tidur di atas tilam. Membiarkan Ardi tidur di atas lantai di hawa yang sedingin ini juga Diah tak tega.


"Naiklah tuan, kita bisa berbagi ranjang bertiga."

__ADS_1


__ADS_2