Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 44


__ADS_3

Malam itu Diah baru saja selesai menyusui anaknya, membelakangi Ardi yang sibuk dengan pekerjaan yang sengaja ia bawa pulang. Pria itu duduk dengan beralaskan tikar di samping tempat tidur Diah. Ia seperti terbiasa duduk dan menikmati lesehan di sana. Diah menoleh ke belakang, melihat sang suami masih sibuk dengan laptopnya. Ia bangkit dan berjalan keluar kamar. Ardi tau istrinya meninggalkan kamar, ia melirik pintu yang baru saja menutup itu.


Ardi menghela nafas panjang, memang hubungannya dengan Diah sudah berjalan cukup pesat sekarang. Sudah tidur satu ranjang, sudah berkencan, bahkan sudah lebih intens dalam berbincang. Tidak seperti dulu yang hanya seperlunya. Ardi memejamkan matanya menyender pada nakas di sisi ranjang.


Indra penciumannya membaui aroma kopi yang menguar tiba-tiba. Ardi membuka matanya, di ujung sana, Diah mendekat dengan secangkir kopi. Sudut bibir Ardi terangkat dengan sendirinya tanpa bisa ia lawan.


"Kopinya, tuan." Diah menyodorkan kopi hitam ke arah Ardi. Dan ikut duduk lesehan di sana.


"Mas," tutur Ardi membetulkan sebutan untuk dirinya. Sembari ia menerima kopi dari sang istri. Ardi mendekatkan mulut cangkir ke bibirnya, aroma kopi langsung menyerang Indra penciumannya, aroma pahit yang kental dan sedikit sentuhan manis membuatnya langsung memandang pembuatnya. Mirip seperti diah. Ardi meniup sesaat kopi itu, dan menyeruputnya hingga menimbulkan suara.


"Enak, seperti biasa." Ucapnya memuji menatap wajah Diah yang sedikit bersemu.


"Jangan terlalu malam tidur, kami duluan." Diah beranjak dari hadapan Ardi. Lalu menaiki tempat tidur.


"Diah,"


Diah menoleh, lalu berbaring di sisi Dila yang terlelap. Kali ini Diah tidur miring menghadap ke arah Ardi dan Dila.


"Malam berikutnya, kita ke atas ya?"


Diah terdiam sejenak, lalu mengangguk samar, "baiklah."


Mendapat jawaban positif dari Diah, hati Ardi jadi bungah. Jika seperti ini terus, ia yakin, Diah akan memaafkan dirinya dan menerima cintanya. Hanya dengan membayangkannya saja, Ardi sudah tersenyum.


***


"Diah,"


"Mas Rangga?"


Diah memandang pria yang memakai singlet putih dan celana training itu, mempercepat langkahnya dan mesejajari langkah Diah. Ya, dia adalah Rangga, tetangga baru Diah. Dengan penampilan seperti itu, sudah cukup membuat para wanita menjerit-jerit. Hanya dengan singlet saja sudah tampak tubuhnya yang atletis. Rangga bertubuh tinggi dan putih, sangat kontras dengan Diah yang cenderung berkulit sawo matang.


"Dari mana?"


"Dari warung mas, belanja."


"Oohh, mau masak apa?"


"Iih, mas Rangga kepo deh, ntar minta lagi ke rumah."

__ADS_1


"Hahahaha, boleh?" Rangga tergelak mendengar jawaban Diah, "kalau boleh nanti aku bertamu. Bu Dewi galak nggak?"


"Enggak, mereka semua baik kok."


"Oohh, bagus kalau begitu, berarti kamu nggak dapat kekerasan. Dan kamu nggak butuh aku buat dampingin kamu ke pengacara." Celetok Rangga tersenyum misterius.


"Mas, aku masuk dulu ya, udah sampai dpan rumah." Diah memutus percakapan, walau bagaimana pun ia merasa tak cukup pantas berjalan dengan Rangga yang tampan dan memiliki strata sosial yang sangat berbeda dengannya. Meski ia kini telah diangkat derajatnya oleh Ardi menjadi seorang istri. Namun, tetap aja, ia tak pernah merasa pantas di lingkungan orang-orang berada.


"Sampai ketemu lagi Diah."


Diah mengangguk dan melempar senyum kaku. Hanya sebagai tanda penghormatan pada orang lain. Diah menghela nafas lega begitu memasuki dapur. Hari ini memang dia yang belanja karena mbok Tini ijin untuk pulang kampung sebentar. Sebenarnya, Bu Dewi sudah menyewa inval, tapi, hingga pagi ini belum juga nampak kan hidungnya.


Diah yang memang tak pernah merasa menjadi seorang nyonya, tetap lakukan tugas nya seperti saat dulu bekerja. Meski dulu ia hanya fokus saja pada Bu Dewi, ia tetap membersikan rumah dan memasak membantu mbok Tini.


Diah mengeluarkan semua belanjanya, hari ini ia berencana memasak sup iga jamur dan tempe goreng, dengan sambal bajak sebagai pelengkapnya. Ia mulai mencuci iga hingga bersih, lalu merebusnya di atas kompor. Sembari menunggu iga masak, Diah memotong beberapa jenis sayur hijau, mencucinya, berikutnya, ia menghaluskan bumbu. Dua jenis sekaligus, satu untuk marinasi tempe dan separuh lagi Diah tambah beberapa bumbu pelengkap untuk sup.


"Loh, kok cuma sendiri, yah? Inval mama mana?" Tanya Bu Dewi yang memasuki dapur, karena mencium aroma sup yang menguar dan menggoda hidungnya. Ia cukup terkejut karena melihat Diah di dapur seorang diri.


Diah tersenyum yang menambah manis wajahnya,"Belum datang, ma,"


"Gimana sih, Ardi nyari inval? Jam segini kok belum datang." Gerutu Bu Dewi mengomel, lalu duduk di sisi Diah yang sedang memotong tempe.


"Sup iga jamur, tempe sama sambel, ma."


"Pantesan, baunya kok wangi banget, makanya mama langsung kemari. Mama bisa bantu apa nih?"tanya mama, "apa yang belum selesai."


"Udah semua kok ma, tinggal cemplung-cemplung aja."


"Keknya, belum bikin sambel nih, sini biar mama yang kopek-kopek bawang sama cabenya."


Diah tersenyum lagi, lalu mengeluarkan bawang dan cabe tak lupa dengan wadahnya juga. Diah menyodorkan ke arah sang mama mertua.


"Dila masih tidur, yah?"


"Iya ma, makanya Diah bisa kerjain ini semua."


"Tumben, biasanya jam segini udah wangi dia." Tukas Bu Dewi sembari memgopek bawang.


Diah menarik sudut bibirnya ke atas, "mungkin karena tidur sama ayahnya, ma."

__ADS_1


"Oohh," Bu Dewi tersenyum geli.


Tak lama terdengar suara tangissan Dila, di susul Ardi yang muncul ke dapur dengan menggendong putrinya, "yah, Dila keknya minta *****." Ucap Ardi mencoba menenangkan Dila dalam pelukannya.


"Kasih yang di kulkas aja, tuan." Sahut Diah, "sebentar,"


"Nggak usah, sama kamu aja, lebih cepet." Ardi menolak dan langsung membawa Dila mendekat ke arah Diah.


"Tapi, masih masak,"


"Biar aku aja yang masak, kamu kasih Dila *****."


Diah menatap Ardi tak enak, tapi melihat Dila sudah menangis, Diah tak tega juga. Akhirnya Diah menyusui anaknya di dapur. Sedangkan Ardi mengganti tugas Diah yang sedang menggoreng tempe.


"Tinggal goreng tempe ya?" Ardi memastikan,


"Enggak, masih sama bikin sambel juga." Sahut Diah.


"Ini Di, masih mama racik sambelnya." Mama menanggapi. Ia beralih menatap Diah,"Dila bawa ke kamar aja, Yah. Kasihan kalau dia bersin-bersin nanti pas goreng cabe."sambung Bu Dewi menyarankan.


Merasa tak enak hati, tapi, apa yang mertuanya bilang tak ada salahnya. Akhirnya, Diah mengangguk,"maaf ya ma," lalu ia berganti memandang Ardi yang membelakanginya karena sedang mengoreng tempe."maaf tuan,"


Diah beranjak dari duduknya dan berjalan dengan masih menyusui Dila. Berpindah ke ruang keluarga.


"Invalmu gimana sih, di? Kok belum datang, nggak niat banget." Bu Dewi mengomel.


"Iya, nanti Ardi cari yang profesional."


Sarapan sudah siap, Ardi juga sudah tampan dan wangi dengan setelah baju kerjanya. Pria itu tersenyum begitu keluar dari rumah dan mendapati Diah sedang bermain dan bercengkrama dengan Dila yang sedang di jemur di bawah mentari pagi.


"Dedek sayang, ayah kerja dulu ya, doakan semoga kerjaan ayah lancar,biar bisa bahagiain dila dan bunda."


"Nenek gimana?" Ujar Bu Dewi ikut menimpali tentu dengan kekehan. Yang kini duduk di teras sedikit jauh dari Diah yang memangku Dila untuk berjemur di halaman.


"Iya, nenek juga." Seru Ardi tersenyum melihat sang mama tak mau kalah.


"Aku kerja dulu ya," pamit Ardi pada istrinya. Pria itu menyempatkan diri untuk mencium kening Diah, sebelum menyodorkan tangannya.


Diah tersenyum dengan semu merah di wajahnya, lalu menyambut tangan sang suami dan mencium dengan takzim.

__ADS_1


Pintu gerbang di buka, mobil Ardi baru saja meninggalkan halaman rumah. Dari seberang, mobil Rangga juga baru saja keluar, melihat Diah di halaman sedang memangku Dila, tersenyum dengan sangat manis. Meski itu tak ditujukan untuknya, entah kenapa Rangga merasa senang.


__ADS_2