Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 25


__ADS_3

Seorang wanita berpakaian serba hitam nampak berlalu-lalang di sekitar rumah Bu Dewi. Wanita itu terus mengawasi Diah dan Bu Dewi yang saat ini tengah beraktivitas di luar rumah. Dengan sorot mata penuh kebencian, wanita itu terus menggerutu dan mengumpat saat melihat kebahagiaan Bu Dewi bersama dengan gadis yang tidak ia suka.


"Sialan! Jadi benar Ardi sudah menikah dengan Diah?" gumam wanita itu yang ternyata tidak lain ialah Mila.


Setelah berbulan-bulan diburu oleh polisi dan orang-orang suruhan Ardi, Mila pun berhasil kembali ke kota dan berencana akan membuat ulah kembali di rumah Bu Dewi selama wanita itu belum tertangkap. Wanita itu pun kembali berkeliaran di kota dengan menyamar dan berusaha keras menyembunyikan wajahnya dari orang-orang.


"Enak sekali mereka! Aku harus hidup terlontang-lantung dan menjadi buronan selama beberapa bulan, tapi mereka asyik tertawa dan menikmati hidup bahagia tanpa beban!" gerutu Mila tidak terima melihat kebahagiaan keluarga mantan kekasihnya.


Hati dan pikiran wanita itu semakin penuh dengan dendam dan amarah. Bahkan sudah beberapa hari terakhir ini Mila sengaja memantau rumah Bu Dewi dan berencana mencelakai wanita paruh baya yang pernah menentang hubungannya dengan Ardi itu.


"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas penderitaanku! Jika aku menderita, kalian juga harus menderita!" gumam Mila.


Saat ini wanita itu tengah mencari celah. Sepertinya Mila sudah merencanakan matang-matang apa yang akan ia lakukan pada Bu Dewi nantinya. Melihat Bu Dewi yang belum sepenuhnya pulih, wanita itu pun bisa membuat Bu Dewi terluka dengan mudah. Dan seperti biasa, wanita itu akan mencari kambing hitam yang tidak lain ialah Diah. Wanita itu bisa membalaskan dendam pada perlakuan buruk Bu Dewi sekaligus menghancurkan hubungan antara Ardi dengan Diah. Benar-benar rencana yang sempurna. Pikir Mila.


"Awas kalian! Aku tidak akan berhenti mengganggu kalian sampai kalian benar-benar menderita!"


Sudah tiga hari lamanya Mila mengawasi rumah Bu Dewi. Akhirnya, pada hari ini wanita itu pun berhasil melihat celah untuk mencelakai wanita yang masih dalam masa perawatan itu.


"Mama bisa sendiri, kan?" tanya Diah agak cemas saat melepaskan Bu Dewi berlatih berjalan sendiri dengan tongkat sedikit demi sedikit.


Saat ini menantu dan ibu mertua itu tengah bersantai di halaman rumah sembari menikmati sejuknya udara pagi bersama dengan banyak tanaman hias. Diah nampak sibuk mengurusi tanaman, sementara Bu Dewi berusaha belajar berjalan seorang diri dengan mengenakan tongkat.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Diah! Mama pasti bisa!" ujar Bu Dewi penuh percaya diri.


"Hati-hati, Ma! Pelan-pelan saja!" cetus Diah pada sang ibu mertua.


Menantu dan ibu mertua itu pun saling bercengkrama dan bercanda ria di halaman rumah mereka yang asri. Mila yang melihat dengan jelas interaksi antara Bu Dewi dan Diah pun makin dibuat terbakar api cemburu dan rasa iri yang meluap-luap.


"Sialan! Seharusnya akulah yang lebih pantas menjadi menantu Tante Dewi! Seharusnya akulah yang bersanding dengan Ardi saat ini! Seharusnya akulah yang menjadi menantu di rumah itu!" geram Mila sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.


"Memang apa bagusnya mantan pengasuh itu? Jelas-jelas akulah yang lebih pantas untuk bersanding dengan Ardi!" ujar Mila. "Mereka pasti sudah gila! Bisa-bisanya mereka mencampakan aku hanya demi mantan pengasuh gadis kampung seperti Diah!"


Mila masih tak terima pria yang ia cintai dan ingin ia dapatkan, kini sudah menikah dengan gadis yang tidak ia suka. Menurut Mila, Diah bukan gadis dengan level sepadan yang bisa bersaing dengannya.


Melihat keakraban Bu Dewi dan Diah, hanya membuat wanita itu semakin kesal. Keinginan Mila untuk mencelakai Bu Dewi pun semakin besar. Niat wanita itu yang ingin menghancurkan hubungan Ardi dan Diah pun juga ikut membesar.


"Setelah ini, jangan harap kalian bisa tertawa seperti ini lagi!" gerutu Mila.


"Mama ingin aku ambilkan minum?" tawar Diah pada Bu Dewi.


Bu Dewi mengulas senyum. "Kalau tidak repot, boleh meminta minuman dingin saja?" pinta Bu Dewi.


"Tentu saja tidak repot, Ma. Mama tunggu di sini sebentar, ya! Aku akan ambilkan," sahut Diah, kemudian melangkah menuju rumah untuk mengambilkan minuman ibu mertuanya.

__ADS_1


Melihat Bu dewi yang berada di halaman rumah seorang diri, Mila pun merasa mendapatkan kesempatan emas. Wanita itu pun bergegas keluar dari tempat persembunyian, dan segera menghampiri Bu Dewi untuk memberi pelajaran dan membalaskan dendam pada wanita paruh baya itu.


"Lama tidak bertemu, Tante!" sapa Mila begitu ia muncul di depan mata Bu Dewi.


Bu Dewi benar-benar terkejut dirinya bisa kembali berjumpa dengan wanita licik yang pernah membahayakan nyawanya. Mila yang kini tengah menjadi buronan, nyatanya masih berani keluyuran kesana kemari bahkan kembali menghampiri korban tanpa rasa takut.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bu Dewi dengan manik mata membelalak lebar.


"Tante tidak rindu padaku?" Mila memperlihatkan senyum sinis. Bu Dewi mulai panik dan ketakutan saat melihat Mila yang mulai mendekat ke arahnya.


"Berani sekali kamu menampakan wajah di sini!"


"Aku datang kemari hanya ingin menyapa mantan calon ibu mertuaku. Aku juga ingin berterima kasih atas kado yang telah Tante berikan padaku. Karena Tante, aku dikejar banyak orang selama berbulan-bulan," ujar Mila.


Tubuh Bu Dewi mulai gemetaran. Wanita paruh baya itu lekas panik dan berusaha mencari pertolongan sebelum Mila berbuat nekat.


"Pergi kamu dari sini! Tolong! Ada orang gila di sini! tolong!" Bu Dewi berteriak sekuat tenaga untuk mencari pertolongan.


"Sebelum Tante mendapatkan pertolongan, Tante sudah akan habis di tanganku!"


****

__ADS_1


__ADS_2