
"Tuan, ini kartu aksesnya."
Ardi menatap sebuah kartu akses ke suite room hotel yang sudah dia pesan sebelumnya pada sang asisten. Pria itu tersenyum kecut, dan mengambil alih dari tangan sekertaris yang tersodor ke arahnya.
Rencananya gagal, tapi tak mengapa. Ardi tetap menyimpan kartu itu ke saku jas-nya. "Ayo masuk," ajak Ardi melangkah masuk ke tempat acara. Pria tampan itu sudah berbincang dan bertegur sapa dengan beberapa rekan bisnisnya. Ia juga sempat minum dan juga makan kue. Tanpa ia sengaja, pandangan matanya menangkap sosok yang tidak terduga hadir di sana.
Mata Ardi melebar melihat di ujung sana wanita yang seharusnya pergi bersenang-senang bersama temannya, kini terlihat sangat cantik dengan dres berwarna biru laut yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Diah berdiri di sisi pria yang menjadi salah satu rekan bisnisnya, yang juga menjadi tetangga mereka. Rangga. Diah terlihat tersenyum pada beberapa orang yang sempat bertegur sapa dengan Rangga.
Rahang Ardi mengeras, tangan pria itu pun mengepal kuat di sisi tubuhnya. Pandangan mata terus terarah pada Diah dan Rangga. Terlintas dalam benaknya saat Diah meminta ijin dan dia merelakan rencana yang gagal hanya agar Diah bersenang-senang dengan temannya. Ardi tak menyangka jika teman yang Diah maksud adalah Rangga.
"Tuan," sang asisten terlihat heran Ardi tampak sangat marah memandang tanpa berkedip di satu titik. Ia pun mengarahkan pandangan ke sana."Dia.... Bukankah..." Sang sekertaris tak menyelesaikan kalimatnya, ia menoleh ke arah Ardi.
Ardi berjalan dengan amarah yang semakin meninggi. Ia berusaha mengontrolnya, meski ia tak tau sampai mana dia sanggup. Ardi sudah semakin dekat.
Di sisi lain, Diah merasa tak nyaman Rangga terus menggenggam tangannya. Diah terus berusaha menarik tangan dari genggaman, tapi Rangga justru semakin mengeratkan. Ia ingin menyampaikan keberatannya, namun pria itu masih saja terus berbincang dan menyapa teman-teman.
"Mas Rangga," panggil Diah setengah berbisik,
Rangga menoleh dan tersenyum sangat tampan, "iya?"
"Tolong lepaskan tanganku." Bisik Diah lagi, mencoba menarik tangannya dari genggaman Rangga yang semakin kuat.
"Tidak mau, nanti kamu kabur."
"Mas Rangga, aku..."
"EHEMM!"
__ADS_1
Suara deheman yang cukup keras, seketika membuat Diah dan Rangga menoleh ke arah suara berasal. Ardi menatap keduanya dengan pandangan dingin dan tajam. Diah sangat terkejut, ada rasa bersalah meski ia sudah meminta ijin pada suami. Sedikitpun ia tak menyangka akan bertemu dengan Ardi di pesta itu. Ia berusaha menarik lagi tangan. Akan tetapi, Rangga justru semakin mengeratkan genggaman dan menatap Ardi dengan pandangan menantang.
"Lepaskan aku mas Rangga." Pinta Diah lirih, matanya sudah berair memandang wajah Ardi yang terlihat sangat marah. Lagi-lagi, Rangga semakin mengeratkan genggaman nya. Ia ingin menunjukan pada Diah jika dia bersama wanita itu.
"Mas Rangga, lepaskan aku."
Rangga bergeming. Tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari Ardi.
"Kau tidak dengar dia memintamu melepaskan?" Suara tanya dari mulut Ardi semakin terdengar dingin dan berat.
"Itu karena kau membuatnya takut," tukas Rangga.
Ardi tersenyum kecut, pandanganya mengarah pada Diah. "Apa kau takut?"
Diah kini bahkan tak berani menatap Ardi. Ia merasa sangat takut dan tak enak hati. "Tolong lepaskan aku, mas Rangga," pinta Diah sekali lagi, suara Diah yang lirih dan bergetar membuat Rangga menoleh ke arahnya.
"Berdirilah di tempat dirimu seharusnya, Diah."
Diah menelan ludahnya kasar, tangannya gemetar mendengar suara Ardi yang sangat dingin itu. Diah melangkah perlahan ke arah Ardi dengan perasaan yang kacau. Rasa bersalah terus menaungi meski ia sebelumnya telah ijin pada sang suami.
Langkah Diah terhenti seketika saat tangannya terasa tertahan. Ia menoleh kearah Rangga, pria itulah yang menahan tangannya.
"Jangan berbuat terlalu arogan pada dia, meski Diah hanyalah pembantumu. Tapi..."
"Hahahaha," Ardi tergelak mendengar ucapan Rangga yang menyebut Diah pembantu nya. "Katakan Diah, siapa aku?"
Diah menatap Ardi, lalu berganti memandang Rangga. Hati dan perasaannya hanya di liputi oleh rasa tak enak yang menekan dadanya. Rangga tau Diah sangat gelisah, ia mencoba membuat Diah merasa aman dengan tatapan sayangnya.
__ADS_1
"Jangan takut, aku bersama mu." Ujarnya pelan dengan senyuman yang ia tujukan pada Diah.
"Aku pernah mengatakan padamu jika aku tidak bekerja di sana." Ucap Diah, "mas Ardi, adalah suamiku."
Seketika tangan Rangga terasa lemas. Ia melepaskan tangan Diah dari genggaman. Ia menatap Diah tak percaya.
"Kau sudah dengar? Diah istriku." Ucap Ardi puas,"jangan pernah mengganggu nya lagi." Sambung Ardi tegas dan dingin.
Ardi menarik lengan Diah hingga keluar dari balroom pesta. Wajah Ardi terlihat sekali sangat marah. Api cemburu terus membakar hati dan jiwanya, hingga panasnya melukai Diah.
Diah sendiri melihat kemarahan Ardi memilih diam. Ia sudah meminta ijin pada Ardi akan hal ini, tapi ia juga salah karena tak menyebutkan ia akan pergi dengan Rangga.
Ardi terus menarik Diah dengan amarah yang sudah di ubun-ubun. Diah sampai terseok-seok mengikuti langkah lebar suaminya. Hingga salah satu sepatu sampai lepas dan tertinggal di lorong hotel. di lorong, Ardi tiba-tiba berhenti, berbalik dan menatap Diah dengan sangat tajam menusuk. Tanpa mengatakan apapun, Ardi langsung meraih tengkuk Diah dan memeluk punggungnya. Bibir Ardi melummat bibir sang istri dengan amarah. Hingga sedikitpun tak tersalurkan rasa cinta yang dia punya.
Diah tak melawan, ia biarkan saja apa yang Ardi perbuat padanya. Ia memilih diam,karena ia sendiri tau bahwa ia salah.
"Kau istriku, Diah." Gumam Ardi tanpa melepas pangutannya."Kau istriku!"
Semakin lama ciuman Ardi semakin kasar. Bahkan bibir Diah sampai terluka karenanya. Suami Diah itu masih tak dapat mengendalikan diri, ia masih saja di liputi amarah. Ardi melepas pangutannya, menarik tangan Diah dan memasuki lift. Setelah menekan tombol lantai di mana Ardi sudah memesan kamar, pria itu melummat lagi bibir Diah penuh nafsu. Mendorong tubuh sang istri hingga terus terpentok.
Diah tau ia sudah membuat Ardi marah, tak ada yang bisa dia lakukan selain diam dalam kepasrahan. Ia terima saja perlakuan Ardi padanya. Hingga pintu lift terbuka, Ardi masih mencumbui bibir Diah. Ardi menarik paksa Diah keluar dari benda kotak itu, tanpa perlawanan, Diah hanya mengikuti dalam kebisuan. Satu sepatunya terlepas lagi. Ia kini hanya berjalan tanpa alas kaki dengan terseok-seok. Diah tidak memprotes ataupun melawan.
Sampai di depan pintu sebuah suite room yang Ardi pesan pada sekertaris nya. Ardi mendorong tubuh Diah sampai terpentok di pintu.
"Kau istriku Diah, kau istriku. Apa kau lupa jika kau adalah istri seorang Ardiyanto Pratama Nugroho?" Ardi yang sudah di kuasai rasa oleh amarah dan rasa cemburu di dalam dirinya. Tak sedikit pun memberi Diah kesempatan untuk menjelaskan. Ia terus melummat bibir Diah yang lebih memilih pasrah.
Ardi mengeluarkan kartu aksesnya dan membuka pintu. Mendorong pintu di belakang tubuh Diah tanpa melepas pangutannya. Ia benar-benar sudah di kuasai oleh amarah hingga lupa untuk membuat Diah jatuh cinta lagi padanya.
__ADS_1