Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 47


__ADS_3

"Mas Rangga?"


Diah terkejut, pagi-pagi sekali, ia sudah melihat Rangga di depan gerbang rumahnya.


"Anakmu, masih tidur?"


Diah mengangguk,


"Kamu nggak masak?"


"Enggak, hari ini kami hanya pesan Abang penjual soto. Aku lagi nunggu yang anter datang." Jelas Diah menengok-menengok ujung gang dengan pandangan matanya.


"Udah kelar beberes rumah?"


"Nanti ada yang inval datang."


Rangga mengangguk pelan, mencari alasan agar bisa lebih dekat dengan Diah. Dia memang punya rencana untuk mengajak Diah bekerja dengannya. Ia hanya mencari celah untuk menyampaikan.


Disisi lain, Diah sudah merasa tak nyaman karena hanya berdua dengan Rangga di depan gerbang. Tidak enak jika sampai di lihat tetangga, apalagi, mereka tau jika ia adalah istri Ardi. Di tambah, Rangga pria muda yang tampan dan tinggi dengan finansial yang mumpuni. Sudah pasti Rangga adalah idola masa kini para ibu-ibu kompleks. Setelah suaminya tak lagi perjaka, menambah rasa khawatir di hati Diah.


"Lama banget sih Abang nya." Gumam Diah gelisah, terus mengedarkan pandangan mata ke ujung gang.


Rangga tau akan kegelisahan Diah, ia pun mencoba mencairkan suasana. "Ya ampun apa sih menariknya di ujung jalan sana? Ada emas ya di sana? Atau ada berlian? Sampai pria tampan ini dianggurin." Celetuk Rangga narsis.


Diah tersenyum kecil melihat ke arah Rangga. "Nungguin Abang soto, mas Rangga." Sahut Diah,"masuk sana gih? Ngapain juga di sini?"


"Nungguin Abang soto juga."


Diah mengernyitkan dahinya, "mas Rangga juga pesen Soto?"


"Enggak, liat kamu sampai nunggu kek gini jadi kupikir sotonya pasti enak. Pingin coba." Jawab Rangga enteng.


Diah menyentak nafas sabar. Lalu melihat ke ujung gang lagi.


"Diah,"


"Iya mas Rangga?" Sahut Diah tanpa menoleh,


"Aku punya kerjaan, kalau kamu berkenan bekerjalah padaku."


Diah membisu, namun ia menoleh ke arah Rangga. Tak begitu mengerti maksud pria di sampingnya.


"Enggak fulltime kok, cuma tiga sampai lima jam aja."


Alis Diah bertaut, "kerja apaan, kok cuma bentar?"


Melihat Diah ternyata cukup tertarik, Rangga menarik sudut bibirnya ke atas. "Hanya menyeleksi beberapa berkas dan naskah. Tidak butuh waktu lama, kamu juga bisa membawa Dila."


Diah terdiam menyimak,


"Kalau kamu tertarik, datanglah ke ruko Arya. Di sana sedang membutuhkan karyawan seleksi." Rangga melanjutkan.

__ADS_1


"Makasih infonya, mas Rangga, nanti Diah ijin dulu sama mas Ardi." Ucap Diah mengakhiri percakapan mereka karena melihat Abang pengantar pesanan soto sudah tiba.


Diah menerima seplastik besar soto dan menyerahkan uang pembayaran. Lalu ia bergegas masuk setelah mengangguk pelan pada Rangga. Pria itu masih menatap jejak Diah meski gerbang telah menutup sempurna. Rangga menghela nafasnya, "semoga Diah mau,"


Rangga mengayunkan kakinya kembali ke rumah di sebrang jalan. Dalam hati ia merasa janggal Diah tiba-tiba memanggil Ardi dengan sebutan mas.


"Kenapa diah tidak menyebut tuan lagi? Tidak mungkin dia lancang memanggil tuannya mas," Rangga bergumam pada dirinya sendiri, lalu ia tersenyum kecut, "jangan bilang Ardi yang memintanya,"


Rangga menggeleng, "jangan bilang dia tertarik pada Diah,"


***


"Kamu mau bekerja?" Tanya Ardi mengulang perkataan Diah saat istrinya itu mengantarkan kopi ke ruang kerjanya. Ardi mendongak menatap manik mata Diah yang kini berdiri beberapa meter dari tempatnya duduk di belakang meja.


Diah mengangguk pelan.


"Kenapa tiba-tiba ingin bekerja? Apa uang dariku kurang?"


Diah menggeleng,


"Terus?"


"Ummm, aku ingin menghasilkan uangku sendiri, dan aku ingin bersosialisasi."


"Begitu? Bagaimana dengan Dila?"


Diah tau akan kekhawatiran Ardi. Ia yakin Ardi sangat cemas dengan Dila jika dia bekerja, seperti yang pernah Ardi khawatir dulu. Diah menunduk, ia sudah memiliki jawaban, hanya tak berani untuk mengatakan pada Ardi.


"UM, sebenarnya, ini hanya parttime, hanya tiga sampai lima jam kerja, tergantung banyaknya berkas dan naskah yang masuk. Mereka juga mengijinkan ku membawa Dila serta."


Ardi mengernyit, "pekerjaan macam apa itu?"


"Ini bukan penipuan, aku sudah mengeceknya di ruko Arya depan perumahan."


"Ruko Arya?"


"Jika kamu tidak mengijinkan, aku tidak akan pergi. Di rumah juga tidak apa-apa." Ucap Diah lirih dan menundukkan kepalanya.


Ardi tau istrinya sangat ingin bekerja. Dia tersenyum kecil, "baiklah,"


Seketika Diah mengangkat kepalanya, "asalkan Dila tidak terlantar," sambung Ardi, ia berniat menyelidiki nya sendiri nanti,


"Dan...."


Diah menatap Ardi penuh harap, menanti apa kalimat Ardi selanjutnya. Pria itu melambaikan tangan agar Diah mendekat, segera sang istri melangkah meski sedikit ragu mengitari meja dan berdiri di sisi Ardi duduk. Ardi memutar kursinya sampai berhadapan dengan Diah. Ia menunjuk pipi dengan telunjuk. Sebagai wanita dewasa tentu Diah mengerti maksudnya. Wajah Diah sedikit bersemu dan tersenyum kecil. Lalu mencondongkan tubuh ke arah Ardi dan menempelkan bibirnya di pipi sang suami.


Ardi sekuat tenaga menahan senyumnya, meski itu sangat sulit. Telunjuknya menunjuk sisi pipi yang lainnya. Diah pun menurut, mencium pipi Ardi yang belum tersentuh bibirnya.


"Sudah," Diah meninggikan badannya. Hal itu, justru membuat Ardi menarik tangan Diah sampai terduduk di pangkuan. Tentu saja Diah terkejut.


"Dila sedang apa?" Tatapan mata Ardi bertumbu pada wajah sang istri.

__ADS_1


"Dila tidur." Jawab Diah tersipu, untuk pertama kalinya ia duduk di pangkuan Ardi dengan hati yang saling bertaut.


"Temani aku bekerja."


Wajah Diah memerah, ia sudah tak sanggup menahan ketersipuannya. Meski tanpa jawaban, Ardi tau Diah tak keberatan. Ia menyentuh dagu Diah yang menunduk, agar menatap wajahnya. Tangan hangat Ardi berpindah ke pipi Diah yang terus merasakan wajahnya makin memanas. Diah tak tau sudah Semerah apa wajahnya kini. Ia terlalu malu membayangkan.


Bibir Ardi sedikit berjarak, menarik nafas dari sana untuk menenangkan perasaanya sendiri. Perlahan wajah tampan itu mendekat, semakin dekat semakin dekat dan bibir dua anak manusia itu sudah menyatu. Bertaut menjadi satu, membaurkan rasa kopi dan manis. Tangan Ardi mengurut punggung Diah, dan menekan agar semakin dekat dengan tubuhnya.


Waktu berselang, sudah hampir satu Minggu lamanya Rangga menunggu. Namun tak ada kabar Diah sudah masuk ke office yang dia tempatkan di ruko Arya. Rangga menjadi gelisah,


"Kenapa Diah belum juga datang? Apa Diah berubah pikiran atau..." Rangga terus menerka-nerka, "Ardi tak mengijinkan?" Ia bergumam dengan rasa kesal jika sampai Ardi tak mengijinkan.


"Aku harus bertemu dengannya." Gumam Rangga memutuskan.


Pria muda nan tampan itu berjalan cepat keluar dari ruangan. Ia terus melangkah panjang agar bisa cepat sampai ke kantor Ardi.


"Pak Rangga?"


Rangga menoleh, melihat sekertaris nya memanggil, "mau kemana?"


"Aku ada urusan sebentar, aku harus pergi."


"Pak Rangga, sebentar lagi ada rapat dewan direksi." Sang sekertaris mengingatkan, Rangga berdecak kesal. Dan akhirnya ia mengurungkan niat untuk keluar dari kantornya sendiri. Ada hal yang lebih penting dari pada sekedar urusan pribadi.


Di lain hari, Rangga melihat Diah. Sebuah kebetulan yang sangat dia nantikan. Rangga berlari kecil mesejajari langkah Diah yang baru saja berbelanja dari warung.


"Hei!" Sapanya.


Diah menoleh ke arah suara Rangga berasal,"Mas Rangga."


"Bagaimana dengan pekerjaannya? Kamu jadi ambil?" Tanya Rangga berbasa basi.


Diah mengeleng,


"Kenapa?" Rangga mencoba mengorek penyebab Diah tak jadi bekerja, padahal ia sngat yakin Diah tertarik waktu itu."Apa Ardi tidak mengijinkan?"


Diah menggeleng, "tidak, tapi, aku rasa, tidak adil jika aku bekerja. Dila akan sangat kekurangan perhatianku..."


"Kamu... Boleh membawa Dila."


Diah mengulas senyuman, "tidak, jika Dila ikut hanya akan bikin kacau saja."


"Di sana juga ada tempat bermain untuk anak-anak agar tidak bosan." Rangga masih berusaha membujuk.


Diah mengeleng,"terima kasih karena sudah menawari, mas." Ucapnya berhenti tepat di depan gerbang rumah. Lalu ia tersenyum dan menunduk pada Rangga untuk pamit.


Rangga hanya membalas dengan senyum kecut sembari matanya tak lepas menatap Diah yang perlahan menghilang di balik gerbang.


"Bagaimana caraku untuk bisa lebih dekat padamu?" Rangga bergumam. Lalu melangkah dengan lemas menuju rumahnya. Rangga menyenderkan tubuhnya di sofa ruang utama. Ia masih belum mau menyerah untuk mendekati Diah. Di atas meja berbahan kaca di depan dirinya duduk, Rangga melihat sebuah undangan pesta perayaan salah satu rekan bisnisnya. Pria itu mengambil undangan dan melihatnya, sudut bibirnya terangkat. Terlintas dalam benaknya akan ucapan Diah beberapa Minggu yang lalu,


("Terima kasih untuk bantuannya, aku tak bisa membalas kebaikan mas Rangga. Tapi, jika mas Rangga butuh bantuan, aku akan berusaha membantu sebisa ku.") Ucapan tulus Diah inilah yang terngiang di kepalanya. Ia punya cara untuk menarik Diah.

__ADS_1


__ADS_2