
"Pikirkan baik-baik. Aku tak mau anakku kekurangan nutrisi dan pendidikan jika kau membawanya dengan finansial yang minim. Jika urusanmu sudah selesai, kau boleh pergi, aku sibuk." Ucap Ardi sambil mengecek ulang berkas di meja kerja nya.
Diah berjalan keluar dari ruang kerja Ardi dengan lemas. Sangat lemas karena membayangkan akan berpisah dengan anaknya. Jelas saja diah tak sanggup. Tapi pernyataan dari Ardi sangatlah masuk akal, bagaimana Diah akan mencukupi semuanya jika ia saja hanya sebatang kara dan tak memiliki pemasukan apapun. Apakah diah benar-benar akan tega? Membawa bayinya bekerja, ataupun meninggalkannya di rumah mantan suami. Kedua nya sama berat bagi Diah.
Ardi memijit pelipisnya yang terasa pusing, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Diah meminta cerai. Ardi terus berpikir apa salahnya? Apa yang membuat Diah tiba-tiba berubah? Cukup lama Ardi berpikir dan dia masih belum juga mendapat jawaban nya. Ardi merasa haus, ia berjalan keluar dari ruang kerjanya dan berjalan di dapur. Mengambil air minum dingin dan menenggaknya sampai habis.
"Diah menemui mama, dia bilang mau bercerai." Suara Bu Dewi yang tiba-tiba mengagetkan Ardi.
"Aku tau."
"Kalian sudah bicara? Apa keputusan mu? Apa kalian akaan bercerai?" Berondong Bu Dewi tak sabar.
"Aku sudah memberikan buku nikah yang dia minta."
"Jadi kamu setuju? Ardi! Apa kamu tidak ingin memperhankan pernikahan ini? Istrimu sudah salah berpikir, kamu juga jangan ikut-ikutan dong!"
"Mama mau Ardi bagaimana?"
Bu Dewi menatap anak lelakinya, Ardi memang sangat menuruti apa yang dia mau sebagai bakti seorang anak pada ibunya. Dan itu yang jadi permasalahan sekarang. Diah berpikir semua yang Ardi lakukan atas dasar bakti bukan cinta.
"Apa kamu mencintai Diah, nak?"
"Apa itu penting sekarang, ma?"
"Tentu saja, Diah pikir kamu tidak mencintainya dan tertekan oleh mama. Katakan jika kamu mencintainya, Di."
"Lalu?"
__ADS_1
Bu Dewi menatap anaknya, "Diah mencintai mu, Di."
"Jika cinta, Diah tak akan minta cerai, ma."
_______
"KTP?" Ardi menatap wajah Diah yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk di tepian ranjang kamarnya.
Diah mengangguk,
Ardi mengambil dompetnya yang berada diatas nakas, lalu mengambil KTPnya."Apa lagi yang kamu butuhkan selain ini?"
"Sudah cukup tuan, hanya tinggal KTP saja." Ujar Diah lirih, sambil menerima KTP Ardi. "Setelah anak ini lahir nanti saya akan pergi."
"Jadi, kamu akan meninggalkan dia di sini? Bagaimana jika dia butuh asi?"
Diah menghela nafasnya, setelah memikirkan masak-masak apa yang Ardi ucapkan. Secara finansial, Diah sama sekali tidak kompeten untuk merawat seorang anak. Dan Diah tidak memungkiri itu.
Ardi tersenyum kecut, Diah pun berbalik, dan pamit. Tepat saat Diah melangkahkan kakinya, Ardi menahan pergelangan Diah. Diah mematung, ada getaran di hatinya yang tersalur dari genggaman tangan Ardi.
Ardi menarik tangan itu sedikit mendekat padanya, dan tubuh Diah berbalik, di depan wajah Ardi perut buncit itu tampak sangat dekat dan jelas. Ardi yang masih duduk di bibir ranjang, memeluk pinggang Diah agar lebih dekat. Sampai wajah Ardi menyentuh perut buncit itu. Ardi memejamkan matanya dan menempelkan telinga di perut Diah, tanpa melepas pelukan tangan di pinggang sang istri. Diah terpaku membiarkan suaminya begitu saja.
Terdiam dalam keheningan bersama. Menikmati debaran yang sama mereka rasakan. Kenapa harus berpisah jika hati saling mencinta? Kenapa biarkan kesalahpahaman berlarut diantara keduanya? Diah yang selalu beranggapan Ardi tak pernah mencintainya, dan hanya mengikuti apapun yang Bu Dewi minta. Dan Ardi yang masih memilih diam. Untuk apa jujur jika Diah tak pernah menganggap kejujuran nya akan perasaan? Semua yang memang ia lakukan karena perduli, selalu Diah anggap sebagai bentuk bakti pada ibunya. Kata cinta sudah tak berarti lagi jika persepsi Diah sudah berbeda.
"Apa dia rewel seharian ini?" Ardi masih memejamkan matanya, memeluk istri dan anak yang masih dalam kandungan.
"Tidak tuan."
__ADS_1
"Dia tidak kekurangan nutrisi, kan?"
"Tidak, mbok Tini memasak banyak sayur dan ikan."
"Jadi dia tidak kekurangan makanan?" semua pertanyaan Ardi yang lontarkan sebenarnya ia tujukan pada Diah, hanya, Ardi memilih menggunakan sang jabang bayi. karena, jika sijabang bayi mendapatkan semua, maka ibunya juga.
"Tidak."
"Apa dia bahagia?"
"Pasti, semua orang menantikan kehadiran." Jawab Diah, "dia dianugerahi ayah terbaik, nenek yang menyayangi..."
"Bagaimana dengan mamanya?" Ardi membuka matanya dan mendongak menatap Diah."Apa mamanya menantikannya? Apa mamanya bahagia?"
Mata Diah berair, beradu tatap dengan suaminya membuat Diah semakin tak karuan. Hatinya diliputi rasa sesak yang tak berkesudahan. Sakit yang tak berujung, kenapa dulu mereka harus menikah jika hanya sebuah keterpaksaan. Jika hanya untuk kepura-puraan? Diah ingin mengakhir ini. Diah sadar, Diah bukanlah seorang pemain sandiwara terbaik. Dia hanya ingin hidup dengan ketenangan hatinya. Tanpa rasa bersalah atau terbebani pada majikannya, baik Bu Dewi ataupun Ardi.
Melihat Diah hanya membungkam, Ardi tersenyum kecut. "Sudah pasti mamanya bahagia, dia saja bertindak egois dan memilih pergi."
"Tuan!" Suara Diah merasa sangat kesal Ardi menganggapnya egois. Diah bahkan rela berpisah dari anaknya hanya agar Ardi terbebas dari pernikahan sandiwara ini, rela menanggung sakit seorang diri demi pria yang kini masih menjadi suaminya itu. Tapi dengan entengnya Ardi menyebut, egois. Air mata Diah sudah tak terbendung lagi. Menetes juga oleh sikap dan ucapan Ardi.
"Jika bukan karena egois, kamu tak akan bertindak seperti ini. Ku pikir kamu wanita baik-baik seperti anggapan mama. Ternyata, kamu tak lebih baik dari Mila."
Plak!
Diah menggenggam tangannya yang terasa panas setelah menampar Ardi. Tangan itu terasa sangat sakit karena Diah tanpa sadar menampar pria yang dia cintai dalam diam. Mata Diah semakin terasa panas, dadanya semakin sesak oleh desakan rasa sakit yang tertimbun lama di sana.
Ardi masih terdiam, dengan kekacauan pikiran dan hatinya. Mendapat tamparan dari Diah, ia sadar telah semakin jauh melukai hati Diah. Hati wanita yang sangat dia cintai, tapi tak dapat ia tunjukan karena persepsi Diah yang salah sejak awal. Kenapa, Ardi harus menyakiti lagi dan lagi, hati istri yang ingin dia jaga?
__ADS_1
Bahu Diah semakin berguncang, rasa sakit, rasa marah, dan kecewa karena telah menampar wajah suaminya. Semakin berdesak keluar melalui butiran bening diri bola matanya. Diah berjalan keluar dengan cepat. Sejak Diah menyatakan untuk bercerai, saat itu juga Diah pindah ke kamar miliknya dulu. Saat ia masih menjadi pengasuh Bu Dewi. Meski Bu Dewi sudah mencegah dan berkali-kali melarang, Diah tetap teguh pada keputasan itu. Apalagi, Ardi juga tak mengatakan apapun sebagai bentuk keberatan. Itu sudah cukup bagi Diah untuk mengukuhkan niatnya pergi.
Ardi masih duduk terdiam di sana. Mengusap wajahnya, dan terus merasa buruk, inikah akhir baginya? Apakah memang ia tak pantas mendapatkan cinta, baik saat dengan Mila, ataupun dengan Diah. Akhirnya dia sendiri.