
"Mas." Diah menahan tangan Ardi tepat saat jari itu menyentuh bibir bawah istrinya.
Ardi menghentikan sejenak gerakannya, baik pada bagian pusatnya ataupun gerakan lidah di put-ting sang istri. Ia menunggu reaksi Diah.
Tangan Ardi masih dalam cengkeraman Diah. Jari Ardi mulai bergerak, dan memberanikan diri membelah bibir bawah sang istri. Jari lainnya mulai menyentuh bagian lidahnya, lalu bergerak naik dan turun. Diah tak memberi reaksi apapun dan membiarkan begitu saja. Jemari Ardi mulai bergerak kekiri dan ke kanan. Lidahnya juga mulai bergerak lagi. Menggelitiki puncak ceri kemerahan sang istri. Dia gerakan kombinasi yang sempurna membuat mulut Diah terbuka dan melengguh. Tangan Diah pun tak lagi menahan Ardi. Itu cukup menjadi sinyal bagi suami nya untuk melanjutkan.
"~"
Diah melengguh panjang. Dengan gerakan cepat, Ardi membungkam Mulut Diah dengan ciumannya. Tanpa pria itu mengurangi intensitas memberi rangsangan pada bagian sensitif istrinya.
Ardi membuat jarak, menatap wajah Diah yang memerah oleh hasratnya. Wanita itu juga menatap Ardi dengan malu-malu. Saat tangan Ardi mulai menjelajah masuk ke area terdalamnya. Bergerak maju dan mundur dengan gerakan pelan. Diah adalah wanita normal, ia tetap merasakan getaran yang menyengat di tubuhnya saat area sensitif nya di jamah. Mulut diah terbuka, hampir saja ia mengeluarkan suara lenguhan panjang lagi, jika Ardi tak segera melummat bibirnya. Sebenarnya, tidak masalah karena mereka berada di hotel yang tak akan mengganggu meski mengeluarkan suara yang cukup kencang.
Ardi melepas kemeja yang sedari awal memang tidak ia kancingkan. Lalu menurunkan celananya. Kedua tangannya membelah paha sang istri. Dan dengan cepat mengarahkan diri untuk memasuki tubuh istrinya.
"Aaahh~"
Diah, tak dapat menahan diri saat benda itu menembus tubuhnya, dan masuk semakin dalam. Memompa tubuhnya dengan lembut dan pelan. Hal itu membuat Diah makin menggila.
"Aaahh, le-bih ce-pat..." Suara lenguhan sang istri yang tanpa sadar meminta aksinya lebih cepat membuat Ardi tersenyum. Jika semalam Diah bahkan tak bereaksi apapun dan hanya diam. Kini wanita itu meminta lebih.
Sesuai permintaan, Ardi mempercepat gerakannya. Bergerak dengan sangat aktif, membuat tubuh Diah bergetar perlahan, tangan Diah memeluk tubuhnya dengan sangat kuat, lalu berubah menjadi cakaran yang melukai punggung Ardi yang basah oleh keringat.
__ADS_1
Tubuh yang tegang itu masih terus memompa Diah dengan gerakan yang semakin cepat. Meski Diah telah mencapai klimaksnya, namun Ardi tidak. Ia masih mencari ujung dari kenikmatan dunia yang sedang ia coba raih. Kali ini, Ardi menjadi semakin rakus mencium bibir istri nya. Sampai tubuh yang menegang itu perlahan kendor. Peluh Ardi menetes bahkan menyatu dengan peluh Diah. Tubuh semakin terasa lemas setelah usai melakukan pelepasan yang memenuhi jalan rahim sang istri.
Dalam keadaan yang masih berkeringat, Ardi memeluk Diah. Memejamkan matanya dengan sedikit mengganti posisi. Memeluk Diah dari belakang.
Satu jam berlalu, Diah membuka matanya yang terasa berat. Ia masih mengenakan bathrobe nya meski tidak terikat sempurna. Hanya menutupi bagian belakang dan depan tubuhnya. Ardi masih tetap mendekap erat tubuhnya. Dan semakin erat memeluk ketika diah bergerak.
"Mas,"
"Heemm?"
"Aku... Bolehkan aku menjelaskan?" Diah ingin kesalahpahaman yang terjadi tidak membuat mereka larut dalam jarak. mereka sudah cukup dekat sebelum nya." Aku sudah meminta ijin sebelumnya, aku tau jika aku pun bersalah karena tak mengatakan jika aku pergi bersama mas Rangga. Aku benar-benar tak tau jika dia akan membawaku ke sana. Dan gaun itu, juga semuanya, itu mas Rangga yang..."
Ardi menggeser tubuhnya dan membungkam bibir Diah. Baru mengingatnya saja Ardi kembali di liputi rasa marah. Ia melummat dengan lembut pengucap sang istri. Tanpa di ikuti oleh nafsu seprti sebelum nya.
***
Diah menekan layar ponsel pintar nya, mencoba menghubungi Bu Dewi. Setelah semalam ia sempat meminta maaf karena tak pulang dan menanyakan keadaan Dila. Belum sempat ia selesai dengan pembicaraan nya, Ardi sudah menggempurnya lagi.
"Mama?"
Diah menghubungi sang mertua dengan panggilan video. Ia sangat merindukan Dila. Hanya sebentar melihat wajah anak gadisnya, ia cukup.
__ADS_1
("Diah, bagaimana keadaanmu di sana? Mana Ardi?") Secara naluri, Bu Dewi tau jika Ardi dan Diah menghabiskan malam bersama, walau ia tak tau apa yang sudah Diah lalui.
"UMM, mas Ardi masih tidur." Jawab Diah singkat, "di mana Dila ma? Diah kangen."
("Ooh, Dila? Lagi sama mbok Tini. Tenang saja, Dila nggak rewel kok. Sebentar, mama liat dulu di depan, tadi abis main di sana.") Sahut Bu Dewi di sebrang sana tampak beranjak dari ruang keluarga. Berjalan dengan tertatih karena memang belum bisa berjalan dengan lancar mengingat penyakit tuanya.
"Nggak usah buru-buru, ma. Diah... Ahh...." Kalimat Diah tertahan oleh gerakan tubuh Ardi yang memeluk dari belakang. Memberi kecupan mesra di tengkuk dan lehernya.
Mata Diah terasa berat, hingga terpejam, kepalanya sedikit condong ke samping karena ulah Ardi yang mengusai lehernya di sisi yang lain. Diah membuka mata dengan cepat karena teringat dengan Bu Dewi di sebrang sana.
Bu Dewi tampak tersenyum maklum, dan itu justru membuat Diah malu. "Dila mana ma?"
("Hihi, Diah, mama kan masih jalan ke depan. Nggak papa, lanjutin aja. Mama pura-pura nggak lihat deh.") Bu Dewi menggoda karena jelas terlihat menantunya itu salah tingkah.
Ardi menyenderkan kepalanya di bahu Diah. Lalu melihat ke arah ibu. "Mama, tolong jaga Dila untuk kami sebentar lagi ya. Habis ini kami pulang."
("Di lanjutkan juga nggak papa kok, Di. Dila juga nggak rewel, stok asi di kulkas juga masih ada. Kalaupun habis, masih ada sufor.")
"Enggak, ma. Nggak ada sufor buat Dila sampai dia lepas asi dari bunda nya." Ardi menolak keras. Ada banyak alasan kenapa ia tak mau Dila minum sufor. Selain karena memang ia tak mau Diah pergi setelah Dila minum susu formula.
("Iya deh, iya. Terserah papanya aja.") Putus Bu Dewi pasrah.
__ADS_1
Seusai melihat sang putri tercinta dan melepas rindu walau hanya dengan video call. Diah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum pintu itu tertutup sempurna. Kaki Ardi mengganjal di celahnya. Diah mengangkat kepalanya menatap wajah sang suami yang tersenyum nakal.
"Biar aku melayanimu sebagai tanda maaf, nyonya Diah."