
Satu Minggu berlalu setelah percakapan pagi itu. Diah meletakan kopi di meja kerja Ardi. Suaminya itu sedang sibuk dengan beberapa pekerjaannya.
"Kopinya, tuan."
Ardi melihat kopi yang baru saja Diah letakkan di atas meja kerjanya. Pandangan Ardi berganti pada wajah wanita yang sudah halal baginya itu. Bertemu tatap dengan Ardi membuat Diah menunduk dalam ketersipuannya. Lalu ia pamit kembali ke kamar.
"Diah."
Tangan Diah yang hampir menyentuh handel pintu mengambang. Jantung Diah mengentak sangat kuat, nafas nya pun tiba-tiba memburu udara dengan cepat, mendengar Ardi menyebut namanya. Perlahan Diah membalikan tubuhnya, dan mencoba mengatur nafas. Memberanikan diri menatap pria di ujung sana.
"Kemarilah."
Diah berjalan dengan perasaan yang semakin tak karuan. Sampai ia berdiri tepat di depan meja kerja Ardi. Suaminya itu mengambil sesuatu di dalam laci lalu mengulurkannya pada Diah.
"Ini."
Diah menatap amplop berwarna coklat yang terulur di depan matanya. Lalu perlahan mengambilnya. Tatapan matanya tersirat tanya pada Ardi meski mulutnya menutup sempurna. Diah membuka amplop dari Ardi dan mengeluarkan isinya. Mulut Diah terbuka, wajahnya sangat terkejut. Lalu menatap Ardi meminta penjelasan.
"Ehem, itu dari mama. Setidaknya, kita harus pergi untuk menghormati nya."
"Tuan, ini... Terlalu berlebihan."
"Itu dari mama. Persiapkan saja pakaianmu, tidak usah banyak-banyak. Besok siang kita berangkat." Cetus Ardi tanpa mau mendengar alasan ataupun bantahan dari Diah."Aku masih harus bekerja. Keluarlah."
Diah bergegas keluar dari ruang kerja Ardi. Merasa Ardi sedang marah karena tiba-tiba Bu Dewi meminta mereka untuk berbulan madu. Diah tidak mengharapkan nya saat ini. Bisa tidur di atas ranjang yang sama dan rutin subuh berjamaah dengan suaminya saja sudah cukup. Diah tak ingin serakah dengan meminta lebih. Dia cukup sadar diri.
Diah berjalan ke kamar Bu Dewi meminta agar Bu Dewi membatalkan bulan madunya. Diah berdiri di kamar Bu Dewi, mengatur nafas dan tekatnya. Ia benar-benar merasa tak enak hati dengan mantan majikan yang kini menjadi keluarganya itu. Diah mengangkat tangannya, memberanikan diri mengetuk pintu kamar Bu Dewi.
"Ini Diah, ma."
__ADS_1
"Masuk, Diah."
Diah mendorong pintu hingga terbuka setengah, lalu masuk setelah menutup pintu itu kembali. Dengan perasaan ragu, Diah mendekat.
"Duduk sini." Bu Dewi menepuk ruang kosong di sisi bibir ranjang dimana wanita tua itu duduk.
Dengan ragu, Diah duduk di sana.
"Kenapa, yah? Mama belum ngantuk soalnya, jadi mama baca-baca buku dari kamu waktu itu. Maaf ya, kalau mama bandel jam segini belum tidur."
Diah menggeleng.
"Eeh, Kirain kamu mau protes masalah itu. Makanya datang kemari. Ada apa?"
Diah mengulurkan amplop coklat yang dia terima dari Ardi tadi. Bu Dewi tampak bingung dan mengerutkan kening. Tanpa di suruh, Bu Dewi membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Melihat dua tiket dan bookingan beberapa tempat di Bali. Lalu berganti menatap menantunya.
"Bisakah saya membatalkannya, ma?"
"Saya, rasa mas Ardi tidak merasa nyaman, beliau juga masih sangat sibuk bekerja. Karena itu, bagaimana jika bulan madunya di batalkan saja."
Bu Dewi melihat Diah dan benda di tangan bergantian.
"Kenapa kamu tanya sama mama, yah?"
"Bukankah itu dari mama? Mas Ardi bilang mama yang kasih jadi harus pergi."
Bu Dewi terdiam sesaat, lalu menggulum senyum dan mengangguk maklum. "Oohh, ya itu terserah kalian sih, yah. Kan yang pergi kalian, mama enggak. Cuma sayang aja kalau batal, jadi mubazir. Kamu mau buang-buang uang percuma?"
Keesokan paginya, Ardi masih berangkat kerja. Hanya, sebelum jam 12 siang, pria itu sudah kembali. Begitu janjinya, karena siang mereka harus bertolak ke Bali.
__ADS_1
Diah terbengong melihat Ardi mengulurkan sebuket bunga padanya siang itu, saat pria itu baru pulang kerja. Melihat Diah yang sepertinya bingung itu, Ardi berdehem.
"Itu... Mama yang pesan. Nitip buat kamu."
"Oohh, terima kasih." Gumam Diah menerima buket bunga dari suaminya, tentu saja Diah percaya jika itu dari Bu Dewi. Diah pikir tak mungkin Ardi akan membelikannya. Diah terus menekan perasaan nya agar tak melambung oleh sikap Ardi belakang ini.
Diah memeluk bunga itu, lalu mencium aroma wangi bunga yang menyenangkan itu. Diah melangkah masuk kedalam rumah. Lalu menyusun bunga di vas.
"Wahh, bagus itu bunga mu, Yah."
Diah tersenyum pada Bu Dewi yang juga ikut memandang bunga yang Diah pindahkan ke Vas. Mengambil satu tangkai dan menciumnya.
"Beli dimana bunganya, yah?"
"Uhuk, uhuk, uhuk." Ardi yang duduk di sofa tak jauh dari sana, dan sedang menyeruput kopi nya tersedak. Bu Dewi menoleh heran pada anak lelakinya itu.
"Ini dari mama, kan?"
Bu Dewi beralih menatap Diah penuh tanya.
"Kata mas Ardi ini dari mama. Nitip tadi. Makasih ya, ma." Ucap Diah melempar senyum pada mertuanya.
"Oohh, iya, dari mama ya?" Cetus Bu Dewi berganti menatap anak lelakinya dengan nada yang sedikit di tekan."Kamu suka?" Lanjut Bu Dewi,
"Suka, makasih ya, ma."
"Iya, bagus kalau suka."
"Ehem, buruan ambil barang, bentar lagi berangkat." Ucap Ardi beranjak dan mulai melangkah,"aku tunggu di depan."
__ADS_1
Bu Dewi terkekeh-kekeh melihat anak lelakinya yang mulai menjauh. Lalu melirik Diah yang pamit untuk mengambil kopernya. Bu Dewi menggeleng pelan karena selalu di jadikan alasan bagi Ardi. Seperti tiket untuk bulan madu dan bunga kali ini. Padahal, Diah pun pasti senang jika tau itu dari Ardi.