Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 46


__ADS_3

"Aaahh,"


Ardi bernafas lega melihat kamar Diah kosong. Itu artinya, sang istri sudah menempati kamar mereka lagi. Ardi melirik jam yang melingkar di lengannya setelah ia menutup pintu kamar Diah. Pukul 11 malam, ia tau sudah pulang terlalu larut. Ardi berjalan dengan langkah berhati-hati menaiki tangga. Pria itu harus merasakan lagi debaran di dada saat langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Ia menarik nafas dalam, lalu menyentuh handel pintu. Perlahan seiring dengan degub jantung nya yang berirama, Ardi mendorong pintu kamarnya.


Kamar itu masih terang, tidak redup seperti biasa nya jika Diah tidur. Mungkinkan Diah masih terjaga?


Ardi melangkah semakin ke dalam, dan mendapati sang istri duduk di bibir ranjang dengan memangku Dila dalam dekapan. Mata Diah terpejam, begitu pun dengan Dila. Namun bibir gadis mungil itu masih menempel di dada ibunya. Melihat pemandangan itu, hati Ardi terenyuh. Ia melangkah perlahan dan semakin dekat, tangan Diah terlihat lemas tertidur, dan hampir lepas dari memeluk Dila, dengan sigap, Ardi menahan agar dila tak jatuh.


Diah membuka mata, masih teringat jika Dila dalam dekapan dan ia hampir menjatuhkannya. Ia terkesiap melihat Ardi menahan tangan dan juga Dila.


"Tuan,"


Ardi tersenyum, "baringkan saja Dila di kasur."


"Dila rewel, dia tak mau tidur di ranjang, aku sudah mencobanya dan dia menangis." Diah menjelaskan kenapa sampai semalam ini ia masih memangku Dila."Aku sampai tertidur, maaf." Diah mengukuhkan dekapanya pada sang anak.


Ardi tersenyum, ia tau Diah sangat mengantuk dan lelah. Tapi Dila juga sedang rewel sampai-sampai tak mau lepas dari dekapan sang bunda."biar aku yang gendong,"


"Tuan pasti lelah, tuan baru pulang kerja."


"Kamu juga lelah Diah, tidak apa-apa. Berikan Dila padaku." Ardi membujuk. Diah mencoba melepas dadanya dari mulut sang anak, tapi, Dila tak mau dan terus menyesap. Mulut mungil itu terus bergerak-gerak dan minum dengan rakus padahal matanya terpejam.


Diah dan Ardi saling pandang dan tersenyum bersamaan. "Dila tidak mau, mungkin karena belum terbiasa di kamar ini," ucap Diah masih dengan senyum yang semakin terlihat manis, menambah ritme detak jantung Ardi saja. Tangan Ardi sedari tadi tak lepas dari menahan tubuh si kecil. Pria itu perlahan ikut duduk di sisi Diah. Lalu menekan lembut bahu sang istri ke dadanya.

__ADS_1


"Tidurlah," ucap Ardi menjadikan dirinya sandaran untuk Diah. Tangannya masih terus menahan tubuh Dila disisi tangan Diah yang memangku anak gadisnya. Tangan Ardi yang lainnya mengusap lengan sang istri.


Bersandar di dada sang suami, tentu membuat Diah merasa senang dan tenang. Dan di sana, ia juga menyadari sesuatu, detak jantung Ardi yang berdegup tak biasa. Diah mengangkat kepalanya untuk melihat wajah sang suami yang sudah terlihat sangat malu, senyum terulas di wajah Diah. Mata mereka saling menatap untuk waktu yang lama, saling menyelami dalam nya hati melalui mata. Hanya ada pantulan Ardi di mata Diah, begitu pun dengan Ardi, hanya ada pantulan sang istri beserta anaknya di sana.


Wajah Ardi mendekat, ada dorongan dalam diri yang membuatnya tergerak. Menutup mata yang terasa sangat berat sampai kedua bibir itu saling bertaut. Kedua bibir itu saling bergerak dengan pelan dan lembut. Menyatukan lidah dan ludah bersama. Hal itu tidak akan terjadi, jika Diah tak menginginkan juga.


Keesokan paginya, Diah membuka mata. Merasakan hangatnya dekapan Ardi yang memeluknya dari belakang. Tangan Ardi melintang diatas tubuh Diah hingga ke ujung tubuh Dila. Kedua wanita ada dalam dekapannya. Diah tersenyum, lalu menyingkirkan tangan Ardi ke sisi tubuhnya sendiri. Diah bangkit dengan pelan agar kedua orang yang ia sayangi tidak ikut terbangun. Diah harus bergegas menyiapkan sarapan untuk Ardi. Karena mbok Tini masih di kampung dan seorang yang di sewa inval datang jam 8 pagi.


Sarapan telah siap, hanya menu sederhana karena Diah tak ingin Dila bangun dan ia masih berkutat di dapur. Diah berjalan menaiki tangga lalu membuka pintu kamar dan mendapati kini Ardi sedikit bergeser dan memeluk Dila yang tidur terlentang. Tangan mungil itu melintang hingga mengenai wajah ayahnya, seperti sedang meninju Ardi. Kaki Dila pun sudah menyibak selimut hingga terlihat sebelah. Diah mengukir senyuman melihat pemandangan itu, terasa indah dan menenangkan.


Diah mendekat dan menyentuh lengan suaminya. "Tuan,"


"Tuan,"


Ardi tak juga bangun oleh panggilannya. Diah menggoncang sedikit lebih kencang,"tuan, sudah pagi,"


"Mas."


Diah mengulas senyum geli, Ardi sepertinya hanya berpura-pura masih tidur. Dan dengan sengaja membetulkan panggilan Diah, agar menyebut, mas.


"Mas, bangun, sudah pagi."


Barulah, Ardi membuka mata dan mengumbar senyuman. Dari tempatnya berbaring, ia menatap sang istri. "Jangan panggil tuan lagi."

__ADS_1


Wajah Diah sudah bersemu merah, Ardi menyadari itu. Ia menarik lengan Diah hingga terjatuh di atas tubuhnya. Lalu memeluk Diah yang memberontak kecil.


"Tuan,"


"Mas, Diah. Mas, jangan mengubah kembali jadi tuan."


"Mas, ini sudah pagi, bangunlah."


"Sebentar, aku masih ingin seperti ini." Tolak Ardi mengeratkan pelukannya. Diah hanya bisa pasrah membiarkan Ardi berbuat semaunya. Ia juga mulai menikmati berada dalam dekapan Ardi. Perlahan rasa takut untuk jatuh cinta menghilang, perlahan, rasa takut akan di sakiti lagi oleh Ardi memudar. Diah memilih untuk mengikuti kata hatinya saja, ketimbang sibuk berperang melawan perasaan nya sendiri. Itu, lebih melelahkan.


***


"Ayah berangkat dulu ya," pamit Ardi mengecup kepala Dila dalam pangkuan Diah yang menjemur anak gadisnya di halaman. Seperti yang biasa Diah lakukan setiap paginya selama hampir empat bulan ini.


Ardi berganti menatap Diah, lalu mengecup kening istrinya. "Aku kerja dulu ya," pamitnya sedikit berlama-lama menghirup kening Diah.


"Hati-hati di jalan, semalam bekerja."


Di teras, Bu Dewi tersenyum melihat Ardi dan Diah sudah semakin akrab. Ardi bahkan sudah lebih sering menunjukkan ekspresi cintanya meski tak terucap oleh kata. Memang benar, Ardi seperti papanya yang kesulitan mengatakan kata cinta dan hanya menunjukkan dengan sikap dan perbuatan.


"Semoga, Diah benar-benar bisa menangkap sinyal cinta Ardi padanya." Gumam Bu Dewi tersenyum saat melihat Ardi memandang kearahnya dan melambaikan tangan. Karena saat pertama keluar rumah, ibunyalah yang pertama kali Ardi cium tangan dan keningnya. Barulah, Ardi mendekat pada sang anak gadis dan istrinya. Menyalurkan semua cinta yang ada.


Mobil Ardi baru saja keluar dari gerbang, di seberang sana, Rangga juga baru keluar dari rumahnya. Pria itu lagi-lagi melihat diah yang sedang menjemur sang buah hati, tersenyum dan bercakap pada bayi yang bahkan mungkin belum mengerti. Begitu saja sudah cukup membuat Rangga mengulas senyuman. Setiap pagi, melihat Diah dengan segala kesederhanaan dan keistimewaan nya, meski ia hanyalah gadis desa berkulit gelap, namun bisa menyinari dua orang pria yang terpikat oleh pesonanya.

__ADS_1


Rangga memacu mobilnya dengan hati yang gembira. Sebelumnya ia tidak menyangka, akan bertemu lagi dengan gadis yang menolong dirinya sangat dulu masih remaja. Saat ia ikut mendaki di sebuah gunung di Jawa tengah. Ia sempat tersesat, dan Diah kecil memberinya makan dikala perutnya kelaparan serta membantu Rangga yang terkilir keluar dari hutan sampai di pemukiman warga.


Rangga terus mengingat kejadian itu, dan mencari jejak Diah setelah ia cukup matang secara finansial dan mental. Namun semua usahanya berakhir buntu. Ia terkejut, saat tak sengaja melihat Diah di kompleks. Diah seperti tak mengingat dirinya, meski wajah Diah tercetak jelas dalam ingatannya. Tekat Rangga hanya satu, ia ingin mempersunting Diah yang dia anggap bekerja sebagai pembantu di rumah Ardi. Tapi, sebelum itu, Rangga harus membuat Diah jatuh cinta padanya.


__ADS_2