
"Naiklah tuan, kita bisa berbagi ranjang bertiga."
Mendengar ucapan Diah, Ardi mengulas senyum di wajahnya, membuka mata dan bangkit. Sedangkan Diah hanya bisa menghela nafas panjangnya. Merasa kalah keras kepala dari suaminya. Diah berbaring di atas tempat tidurnya di sisi kanan dan Ardi di sisi kiri, dengan Dila sebagai pembatas diantara keduanya.
"Sedikit ketengah, nanti kamu jatuh, tidurmu terlalu minggir." Ucap Ardi sedikit menggeser tubuh Dila ke arahnya.
"Tempat tidur ini memang kecil, kembalilah ke kamar tuan."
"Iya, ayo kembali, di sana lebih bessar dari ini."
Diah bungkam mendengar sang suami masih berkeras untuk mengajaknya kembali ke kamar yang beberapa bulan menjadi saksi bisu Diah menahan dinginnya sikap Ardi. Diah memejamkan matanya. Sedangkan Ardi masih setia membuka mata, berbaring miring menatap sang istri yang bertumpuk pandangan dengan anak gadisnya. Ardi mengukir senyuman. Setidaknya dia sudah selangkah lebih maju dengan tidur satu ranjang dengan sang istri dan anaknya.
Ardi terus menatap wanita berkulit gelap namun sehat itu. Sampai kedua matanya terpejam dengan sendirinya karena kantuk.
"Tuan, sudah subuh."
Baru sebentar rasanya mata Ardi terpejam, ia sudah merasakan goncangan pelan di lengannya. Mata Ardi terbuka, melihat Diah sudah mengenakan mukenanya. Ardi pun bangkit,
"Kamu udah solat?"
"Sudah."
"Kenapa tidak membangunkan ku lebih awal?" Kata Ardi memprotes dengan nada rendah.
"Masih waktu subuh, tuan."
Ardi memandang Diah, tapi ia tak lantas marah. Hanya menyayangkan saja. Karena ia berharap bisa menjadi imam Diah saat ia berpikir jika sang istri sudah mulai melunak. Ardi tak mengatakan apapun, lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Sebelum pria itu benar-benar memasuki kamar mandi, Ardi menoleh dan tersenyum pada istrinya.
"Terima kasih karena sudah membangunkan ku, Diah." Ujarnya, lalu menghilang di balik pintu. Ardi sedikit mengubah sikap nya agar Diah tak berpikir jika ia sudah marah atau semacamnya.
Melihat sedikit perubahan Ardi, Diah menghela nafasnya. "Mungkinkah tuan Ardi benar-benar tak ingin bercerai?" Gumam Diah pada dirinya sendiri. Ia teringat dengan apa yang Ardi katakan tadi malam, tentang akan membuat dirinya jatuh cinta. Diah tersenyum getir."Kau sudah membuatku jatuh cinta tuan. Sudah, tapi aku sangat takut terluka lagi, aku sangat tau aku tak pantas untukmu. Aku hanyalah gadis desa."
Malam berikutnya, Ardi hendak menggelar tikar lagi di sisi ranjang Diah. Ia tak mau berbesar hati setelah Diah mengijinkan tidur di atas tempat tidur yang sama. Mungkin saja Diah hanya memintanya malam itu saja. Tidak untuk malam-malam berikutnya.
Diah memandang Ardi yang mulai meletakkan bantal, lalu selimut. "Kenapa tuan tidak pindah saja ke kamar tuan yang hangat?"
Ardi tersenyum mendengar pertanyaan Diah, lagi-lagi Ardi harus mengulang pertanyaan yang sama untuk pertanyaan Diah itu.
__ADS_1
"Kamu mau langsung ke kamar atas atau berhenti menanyakan pertanyaan yang sama? Karena, lagi-lagi aku pun akan mengulang pertanyaan ku." Ujar Ardi tersenyum, lalu mengambil laptop di atas nakas, duduk dan mulai mengetik sesuatu.
"Tuan?"
Ardi menoleh ke arah Diah yang duduk diatas ranjang dan tengah melipat baju.
"Apa yang tuan kerjakan?"
Ardi tersenyum kecil, merasa Diah cukup tertarik dengan aktivitas. Itu sudah kemajuan yang cukup bagus.
"Hanya mengecek beberapa kerjaan di kantor."
"Tuan punya ruang kerja sendiri, kenapa tidak melakukannya di sana?"
Ardi tersenyum kecut, rupa-rupanya Diah hanya ingin mengusirnya, lagi.
"Di sana dingin."
"Saya pikir ada penghangat ruangan di sana." Ucap Diah mematahkan ucapan Ardi yang berkelit. Ardi berusaha tersenyum meski hatinya sangat kesal dengan ucapan Diah. Jelas sekali Diah terus berusaha menjauhinya.
"Disana dingin dan gelap. Di sini lebih terang dan hangat, kamu tau kenapa? Karena ada sumber kehidupanku di sini." Ucap Ardi.
"Kamu tau siapa?"
Diah bungkam lagi, melanjutkan melipat baju yang sempat terjeda.
"Itu kamu,"
Seketika gerakan Diah terhenti, ia tak ingin terlihat terpengaruh oleh kata-kata Ardi yang terdengar seperti rayuan untuknya.
"Dan Malaikat kecil kita, Dilla." Sambung Ardi, lalu melanjutkan lagi pekerjaannya."kamu tau kenapa aku memberi nama dia, Ardila Maharani Putri Nugroho?"
"Karena itu adalah penggabungan nama ayah dan mamanya. Agar setiap orang yang memanggilnya tau, anak siapa Dila. Agar kita juga ingat, jika bukan karena cinta, Dilla tak akan pernah hadir ke dunia."
Mendengar penuturan Ardi, tentu saja hati Diah tersentuh. Walau bagaimanapun Diah sudah merasakan indah dan pahitnya mencintai Ardi. Walau ia lebih banyak merasakan pahitnya, Diah tetap saja tersentuh. Dapat ia rasakan hati dan wajahnya yang menghangat. Entah, bibirnya terasa ringan hingga mudah terangkat ke atas.
Diah menggeleng, "sadarlah Diah, jangan terbuai dan melambung. Karena jatuh itu sangat sakit." Gumam Diah dalam hati. Wanita itu melirik Ardi yang sudah sibuk dengan laptopnya lagi. Pikiran Diah, terus mendoktrin diri jika dirinya tidaklah pantas, hanya seorang wanita desa yang beruntung karena memiliki majikan seperti Bu Dewi yang menyanyanginya, hingga pernikahan ini terjadi.
__ADS_1
Malam itu Ardi tertidur dengan masih memangku laptop. Diah menatap pria yang kini masih berstatus sebagai suaminya itu. Diah menghela nafasnya, lalu mengambil laptop dari pangkuan Ardi. Meletakkan nya di atas nakas. Lalu mencoba membetulkan posisi tidur Ardi agar lebih nyaman dan menyelimuti tubuh suaminya. Tangan Ardi terulur menariknya dalam dakapan hingga Diah ikut tertidur di sisi suaminya. Diah masih merasa sangat terkejut, mencoba mengatur nafas dan degub jantungnya yang tak karuan. Diah memberanikan diri menatap wajah Ardi. Pria itu masih terpejam, mungkin Ardi menarik dan memeluknya tanpa sadar.
Diah mencoba mengangkat tangan Ardi dan memindahkannya kesisi tubuh pria itu. Namun, lagi-lagi tangan Ardi sudah bergerak memeluk tubuhnya semakin dekat. Diah terdiam, mencoba menikmati suasana itu, menikmati tidur dalam dekapan Ardi.
Suara tangisan Dila menyadarkan Diah yang sempat terlena. Gegas ia bangkit dan menghampiri Dila, memcoba menenangkan bayi kecil yang menangis dengan mulut yang terbuka itu. Diah tau anaknya itu butuh asi. Istri dari Ardi itu membuka tiga kancing baju teratasnya. Lalu mulai menyusui anaknya. Dila terdiam seketika, meminum asi dari ibunya dengan sangat rakus. Diah terkikik melihat anaknya yang lucu itu.
Sejenak menikmati wajah anak gadisnya, Diah di buat terkejut dengan uluran segelas air putih hangat dari Ardi.
"Kamu jangan sampai dehidrasi."
Diah mengukir senyuman, lalu menerima segelas air putih dari suaminya. Meminumnya hingga habis setengah.
"Mau makan sesuatu nggak? Biar aku ambilkan?" Tanya Ardi mengambil kembali gelas dari Diah.
Diah menggeleng, "terima kasih."
"Atau.... Mungkin aku bisa memasakan sesuatu untuk mu."
Mendengar tawaran Ardi, Diah sedikit ragu. Ragu apakah Ardi serius dengan itu atau tidak.
"Kamu ingin sesuatu?"
"UMM, malam ini cukup dingin, tapi, aku bisa membuatnya sendiri nanti. Kembalilah tidur."
Ardi tampak sedikit bersemangat, "kamu mau apa?"
"Mie..."
"Oke," Ardi langsung melesat keluar dari kamar, beberapa saat kemudian Ardi kembali lagi, "kamu mau mie goreng atau mir rebus?" Karena terlalu senang, ia sampai melupakan hal itu.
"Rebus saja,"
"Pedas? pake sayur? Jamur? Sosis?"
Diah tersenyum geli, sedangkan Ardi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iya, terserah saja."
__ADS_1
Ardi melebarkan senyumnya, sepertinya, kehidupan pernikahan nya mulai terlihat terang.