
"Jangan memanggilku tuan, Diah. Jangan, aku suamimu, aku suamimu Diah. Aku suamimu." Ardi memeluk lagi tubuh wanita di hadapannya. Memeluk dengan hati yang terasa nyeri dan sakit. Ardi memeluk tubuh itu semakin erat, dan erat. "Kamu istriku, kamu istriku..."
"Uhuk, mas, aku tak bisa bernafas."
Sadar ia sudah membuat Diah tak nyaman. Gegas Ardi sedikit melonggarkan pelukan, tanpa ia melepas tubuh itu agar berjarak. Tangan Ardi mengusap punggung Diah, ia sangat takut jika sampai kehilangan Diah.
Diah terdiam, membiarkan saja apa yang Ardi lakukan pada tubuhnya. Ia merasa sangat bersedih. Ia tau, apa yang Ardi lakukan karena pria itu sangat cemburu pada Rangga. Ia juga merasa sangat bersalah pada suaminya itu. Selama hampir dua jam ia mengurung diri di kamar mandi. Melihat semua jejak yang Ardi tinggalkan di tubuhnya. Ia juga terus memikirkan semua salahnya, ia merasa sudah ijin pada sang suami. Tapi suaminya justru marah besar, dan terus menyebut jika dia istri dari Ardi. Diah terus memikirkan apa yang Ardi katakan tanpa memberinya celah untuk sekedar berucap.
Ardi melepas pelukannya, membingkai wajah wanita berkulit sawo matang itu. Ardi menghujani wajah itu dengan kecupan tanpa jarak. Ia mendaratkan bibirnya tepat di bibir Diah di akhir kecupannya. Hanya singkat, namun berulang. Ia sangat ingin melummat bibir itu. Tapi melihat bibir itu sudah membengkak dan luka oleh karena ulahnya semalam. Ardi urungkan.
Diah diam, ia biarkan saja apa yang Ardi lakukan. Sedikitpun ia tak ingin membuat suaminya marah, ataupun membuat Ardi merasa sedih. Jika teringat dengan apa yang sudah Ardi lakukan padanya semalam, Diah benar-benar merasa sangat hina. Berulang kali mendapat hujaman dari sang suami saat ia tak menginginkan, membuatnya bersedih. Apalagi, Ardi melakukannya dengan sangat kasar. Walaupun ia ingin pergi dan menjauh, ia tak bisa, ada Dila diantara mereka. Terlebih perasaan itu terus berkembang seiring dengan sikap manis dari suaminya. Namun hancur seketika saat Ardi memaksa nya semalam. Diah tau posisinya salah karena sudah bersama Rangga. Tapi, itu tak menghalalkan Ardi untuk berbuat kasar padanya.
Lamat-lamat, Ardi tak dapat menahan diri. Ia sangat menginginkan Diah. Kecupan kecil itu berubah menjadi sebuah ciuman. Ciuman yang lembut dan perlahan, Ardi ingin menutupi ingatan Diah tentang keberingasan semalam. Mengganti dengan perlakukan lembut pada sang istri. Ardi membelai lidah Diah dengan sangat lembut dan pelan. Berbanding terbalik dengan apa yang dia lakukan semalam.
Walau awalnya ia tak mendapatkan apapun. Akhirnya, Diah membalas ciuman nya. Ardi merasa bungah, senang hingga ia terus mengeratkan pelukannya. Gerakan bibir dan lidah Diah hanya samar dan pelan, tapi, Ardi bisa merasakannya. Pria itu memperlambat gerakan bibirnya, hanya agar lebih bisa merasakan gerakan Diah. Ia bahkan berhenti menggerakkan bibir dan lidahnya hanya untuk merasakan gerakan dari Diah. Tanpa Ardi melepas tautan bibirnya.
Diah memang membalasnya, saat Ardi benar-benar hanya diam dengan bibir yang bertaut itu. Diah menggerakkan lidahnya dengan sangat pelan. Lalu perlahan Diah mulai menarik diri. Bibir itu sempat berjarak, namun, Ardi tak akan membiarkannya. Dengan cepat ia menyambar lagi bibir istri nya. Meski dengan gerakan lambat dan berhati-hati. Ardi tak ingin melepaskan Diah begitu saja.
__ADS_1
Diah lagi-lagi ingin membuat jarak, sedikit menjauhkan bibirnya dari sang suami. Ardi menahan punggung Diah agar tak semakin menjauh. Ia menyambar lagi bibir istrinya, memberi kecupan ringan pada sang istri.
"Tu..."
"Mas!" Sambar Ardi sebelum Diah kembali menyebut dirinya tuan, itu sangat melukai perasaan Ardi jika Diah menyebut diri tuan."mas!"
"Mas, sayang, mas."
Ardi menyesap lagi bibir itu, menyesap bibir bawah Diah. Hingga bibir Diah semakin membengkak.
"Mas, Diah. Mas."
Ardi membuat jarak, menatap wajah Diah di bawah tubuhnya. Diah tak mengatakan apapun, ataupun memandangnya dengan sorot mata sedih. Diah hanya diam, menatap manik mata Ardi yang juga menatap dalam padanya. Keduanya seolah sedang berkomunikasi dengan tatapan.
Ardi mendekatkan lagi wajahnya, menyergap Diah dengan kehangatan bibir dan tubuhnya. Ciuman Ardi masih sama, pelan dan lembut. Setelah di malam sebelumnya ia melummat bibir Diah dengan sangat kasar. Kini, ia ingin lebih menyalurkan rasa cintanya pada Diah.
Sambutan yang Diah berikan juga sama lembutnya, sama pelannya. Mendapatkan respon yang bagus dari Diah, Ardi lantas mengakhiri ciuman. Bibirnya bergerak ke samping, mengecup pipi, dagu, hidung mata, kening, alis lalu berpindah ke sisi lainnya. Bibir itu masih menghujani wajah Diah dengan kecupan singkat.
__ADS_1
Kecupan bibir Ardi bergerak ke rahang, menyesapnya sampai meninggalkan jejak kemerahan di sana. Lalu bergerak ke bawah lagi, menghirup ceruk leher Diah dengan dalam. Bibir Ardi semakin bergerak ke bawah, tanda-tanda jejak yang Ardi tinggalkan semalam masih tercetak jelas di leher dan dada Diah.
Sekarang, ia tak lagi meninggal jejak itu di sana. Ardi hanya mengecup ringan dan berpindah-pindah. Tangan Ardi mengusap perut Diah ke atas, sampai tangan itu menjalar hingga ke bola kenyal milik sang istri. Ia memberi gerakan meremmaaas pelan pada bola kenyal itu.
Untuk sesaat Diah membuka mulutnya sebagai bentuk reaksi. Ia masih tak mengeluarkan suara apapun sampai bibir Ardi berhasil menggulum pucuk terindah berwarna kemerahan. Lidah Ardi bergoyang dan menggelitiki ujungnya. Membawa sensasi geli yang menyenangkan bagi Diah.
Suara dessaahan dari mulut Diah membuat Ardi makin tergugah. Pria itu menambah ritme remassan di dada kanan Diah, dan permainan lidahnya di ujung bukit sebelah kiri sang istri.
Tangan Ardi berpindah, turun mengurut perut Diah. Lalu bergeser hingga ke pinggang. Memeluk Diah dengan erat. Tangan itu bergerak lagi, menyusuri sisi samping tubuh Diah, sampai di bawah ketiak wanita itu lalu bergeser lagi menaiki pucuk gunung. Bermain dengan jemarinya di ujung sana.
Diah mendessaah lagi,
Diah mulai menikmati, tidak, ia sudah menikmati sebelumnya sejak Ardi dengan lembut membelai lidahnya. Hanya, baru kali ini ia merasakan sensasi menyenangkan itu.
Bibir Ardi berpindah ke sisi yang lainnya. Menggulum satu bola kenyal yang tersisa. Tangan Ardi mulai bergerak turun ke bawah. Dan berakhir di bagian pusat Diah.
Tangan Ardi tertahan oleh cengkraman tangan Diah.
__ADS_1
"Mas."