Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 33


__ADS_3

Hari berlalu, Diah sudah mengambil keputusan untuk kelangsungan pernikahannya dengan Ardi. Ia sudah tak ingin lagi hidup seperti ini. Hidup dengan kepura-puraan dan menjadi beban batin bagi suami.


"Maafkan bunda nak, bukan bunda ingin memisahkan mu dengan ayahmu. Tapi, ini demi kebaikan bersama. Kelak jika kamu sudah dewasa kamu pasti akan mengerti dengan langkah yang bunda ambil." Diah bergumam pada anak yang masih di dalam perutnya.


Diah berjalan ke kamar Bu Dewi. Semua ini dari Bu Dewi lah bermula, maka, dari Bu Dewi lah harusnya ini berakhir. Diah percaya, jika Bu Dewi di beri pengertian pasti juga akan mengerti. Tidak semua kehendak harus dituruti, jika tidak hanya akan mengorbankan hati anaknya dan wanita lain yang ikut terluka hatinya.


"Mama,"


"Diah? Ada apa yah?" Sahut Bu Dewi semringah melihat Diah di ambang pintu kamarnya.


"Diah ingin bicara sebentar sama mama."


"Masuk, yah." Ujar Bu Dewi yang duduk di bibir ranjang, " ada apa nih? Kok sepertinya serius?" Sambung Bu Dewi menatap Diah yang semakin mendekat. Lalu menepuk ruang kosong di depannya agar Diah duduk di sana.


Diah menatap wajah mertuanya, merasa sedikit bersalah pada wanita tua yang penuh harap itu. Tapi, Diah harus memberitahu nya, memberinya pengertian jika pernikahan ini tidak baik-baik saja. Dan mungkin hanya akan menyakiti satu sama lain.


"Ma, mama sekarang sudah lebih baik. Walau mama belum sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya mama tidak lagi terbaring di ranjang."


"Benar Diah, dan itu semua berkat kamu. Terima kasih menantu mama." Ucap Bu Dewi tulus, memeluk tubuh Diah.


"Ma, apa mama bahagia?" Tanya Diah setelah pelukan mereka berakhir.


"Bahagia, sangat bahagia."


"Syukurlah," Diah tersenyum tipis.


"Mama sebentar lagi akan memiliki seorang cucu, memiliki seorang anak lelaki yang baik dan menantu idaman. Bagaimana mama tidak bahagia, Diah." Ucap Bu Dewi menggenggam dan menepuk punggung tangan Diah.


"Ma, Diah pikir, pernikahan ini tidak benar."


Wajah bu Dewi berubah, mengernyit tak mengerti.

__ADS_1


"Diah pikir, pernikahan ini tidaklah sehat, apalagi, anak ini akan lahir. Jika ayah dan bunda nya saja tidak saling mencintai, bagaimana dia nanti akan mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang bahagia. Saya tau, selama ini tuan Ardi tidak mencintai saya. Diah tidak pernah lupa siapa dan dari mana diri ini. Sangatlah tak pantas bersanding dengan tuan Ardi."


"Diah, itu tidak benar. Kenapa kamu beranggapan begitu? Kenapa menyebut suamimu tuan?" Bu Dewi merasa prihatin dengan sikap dan pemikiran Diah sekarang. Bu Dewi sadar itu memang tak lepas dari sikapnya dan Ardi dulu. Tapi, seiring waktu, Bu Dewi pikir semua berjalan baik-baik saja dan bahagia. Bukankah Ardi sudah mengatakan jika dia mencintai Diah? Lalu kenapa Diah masih berpikir seperti itu?


"Saya tau, ma, tolong jangan meminta dan menekan tuan Ardi lagi untuk bersikap baik dan manis kepada saya."


"Aku tidak menekannya dia, Ardi melakukan semua itu murni dari hatinya. Dia mencintaimu."


Diah menggeleng, "kali ini saja, tolong jangan paksakan kehendak, mama. Tolong hargai saya, tolong terima keputusan saya. Saya, ingin bercerai.."


"Diah!"


"Nyonya..."


"Diah bagaimana bisa kamu..." Bu Dewi menggeleng tak habis pikir, Diah akan meminta perceraian disaat perutnya semakin membuncit. Terlebih sebutan nyonya benar-benar membuat Bu Dewi seperti berjarak dengan menantunya itu. Sangat melukai Bu Dewi.


"Nyonya,, saya mohon. Ini keputusan saya, saya sudah tak ingin berada di pernikahan yang menyakitkan ini. Saya ingin menyudahinya, saya menyerah, nyonya."


Diah menggeleng dengan butiran bening yang terus menetes. "Tolong, jangan halangi langkah saya, biarkan kali ini saya memutuskan untuk hidup saya."


"Diah,, maafkan mama jika mama menyakitimu, mama hanya ingin kalian bahagia. Hanya itu, kamu dan Ardi adalah pasangan yang tepat."


Diah menggeleng, Bu Dewi menyesalkan banyak hal, kenapa Diah harus memutuskan untuk berpisah. "Bicarakan ini baik-baik dengan Ardi, Diah. Mama tau mama yang memaksa kalian menikah, tapi bukankah kalian sudah saling mencintai sekarang?"


Diah menggeleng dengan bahu yang berguncang.


"Sekarang mama tanya, jawab dengan jujur, apa kamu tidak mencintai Ardi?"


"Ini yang terbaik, nyonya. Keputusan saya sudah bulat. Tolong jangan mengatakan untuk mogok makan ataupun mengakhiri hidup, itu menyiksa kami."


Mendengar sebutan nyonya dari Diah, Bu Dewi tentu sangat terluka. Dia sudah menganggap Diah anaknya sendiri.

__ADS_1


****


"Buku nikah?" Tanya Ardi menatap Diah dari meja kerjanya."kenapa kamu membutuhkan buku nikah?" Walau bertanya oleh rasa penasaran, Ardi tetap menarik laci dimana ia menyimpan buku nikah mereka.


"Setelah, anak ini lahir, saya akan mendaftarkan cerai ke pengadilan agama." Tutur Diah lirih. Seketika, gerakan tangan Ardi yang tengah mengambil buku nikah terhenti.


"Maksudmu?" Ardi mengambil buku nikah, tapi tetap menahan di tangan.


"Saya tau, tuan pasti sangat tertekan selama ini. Tuan sangat tidak bahagia dengan tekanan dan pernikahan kita. Setelah kita berpisah nanti, tuan sudah tak perlu berpura-pura baik pada saya." Ucap Diah masih menunggu Ardi akan menyerahkan buku nikah sebagai kelengkapan pengajuan cerai nanti."Tidak, sebenarnya, mulai sekarang tuan sudah tak perlu melakukan nya lagi. Saya udah membicarakan nya dengan nyonya. Dan beliau mengerti,"


Ardi tertawa getir. Lalu meletakkan buku nikah itu di atas meja. Diah mengambil buku nikahnya.


"Apa kau sudah memikirkannya?"


"Sudah."


"Bagaimana dengan bayi nya?"


"Saya akan merawatnya,"


Ardi menatap diah tajam. "Kau akan merawat anakku dengan apa?"


Diah terdiam, ia sangat mengerti maksud Ardi. Setelah melahirkan tak mungkin untuk Diah langsung bekerja, atau mendapatkan pekerjaan. Apa lagi memiliki seorang bayi, sudah pasti sulit.


"Bagaimana kau akan memenuhi nutrisinya? Bagaimana kau akan menjaga nya? Apa kau akan bekerja? Apa kau akan membawa anakku bekerja juga? Atau meninggalkannya di penitipan?"


Diah bungkam,


"Tidak perlu bercerai, dan tetap tinggal di sini, dia butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Dia butuh nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan nya. Tapi jika kau tetap bersikap egois dan sangat bersikeras. Tinggalkan bayinya di sini."


Diah menatap Ardi tak percaya, bagaimana bisa suaminya berpikir untuk memisahkan seorang ibu dengan bayinya. Dan menyebut dirinya egois, semua Diah lakukan untuk membebaskan Ardi. Agar pria itu tak lagi harus bersandiwara.

__ADS_1


"Pikirkan baik-baik. Aku tak mau anakku kekurangan nutrisi dan pendidikan jika kau membawanya dengan finansial yang minim. Jika urusanmu sudah selesai, kau boleh pergi, aku sibuk." Ucap Ardi sambil mengecek ulang berkas di meja kerja nya.


__ADS_2