
Ardi menggelar tikar di sisi ranjang kamar Diah. Istrinya itu hanya memperhatikan apa yang Ardi lakukan dalam diam.
"Kenapa menggelar tikar di lantai?" Akhirnya Diah bertanya juga. Diah meletakkan bayi mungilnya di atas tempat tidur.
Ardi melempar senyumnya yang seketika membuat jantung Diah berdetak lebih cepat.
"Buat tidur." sahut Ardi santai.
"Buat tidur siapa?"
"Aku." jawabnya lagi menatap Diah dan mengukir senyum lagi.
Diah membisu, "tuan mau tidur di sini?"
"Iya, Ardila kan suka begadang kalau malam. Kamu pasti lelah mengurus dila seorang diri. Karena itu aku tidur disini untuk menemani." Ucap Ardi membaringkan tubuhnya di atas tikar.
"Tidurlah di kamar tuan sendiri." jelas saja Diah keberatan jika Ardi tidur di sana. Ardi adalah tuannya, untuk apa repot-repot tidur di atas lantai kamar pembantu.
"Aku akan tidur di sana kalau kalian pindah ke sana juga." ucap Ardi tegas.
Diah membungkam lagi, akhir-akhir ini Diah memang terus mendapat perhatian dari Ardi. Semua itu tentu membuat Diah merasa tak nyaman. Apalagi, bagi Diah, Ardi melakukan semua itu untuk anak gadis mereka.
__ADS_1
Dan ucapan dari mbok Tini tempo hari cukup mengusik Diah. Dan membuat Diah kembali bimbang. Akankah melanjutkan rencana bercerai atau tetap bersama. Tapi, Diah sungguh-sungguh tak mau terbebani dengan perasaan bersalah karena Ardi terpaksa. Ia lelah berpura-pura dan lebih memilih membebaskan Ardi dari pernikahan tak sehat ini.
Diah membiarkan saja apa yang Ardi lakukan. Melarang tuannya pun tak berarti apa-apa, toh ini rumah Ardi. Dan ia hanya menumpang. Diah membaringkan tubuhnya di sisi Ardila yang terlelap. Memcoba memejamkan matanya di saat mata itu enggan untuk terlelap. Waktu bergulir, detik berubah menjadi menit, berganti menjadi jam. Diah tak bisa memejamkan matanya sama sekali.
Diah mengangkat kepalanya, melihat ke arah sang suami yang tertidur di bawah sana. Diah menghela nafas beratnya, lalu berusaha memejamkan mata. Di sisi lain, Ardi juga belum terlelap, ia hanya memejamkan mata. Menyadari Diah sempat melihat ke arahnya tadi.
Sejujurnya, harga diri Ardi terluka. Seperti seorang tuan yang sedang mengemis cinta dari wanita kampung bernama Diah. Tapi, apa yang ia lakukan ini untuk mendapatkan hati Diah lagi. Untuk membuat Diah menyadari, bahwa ia sungguh-sungguh mencintai istrinya. Bukan karena mamanya, bukan juga karena Ardila buah hati mereka. Walau kedua wanita itu juga menjadi alasan lain Ardi.
Keesokan harinya, Ardi bersiap untuk berangkat kerja. Pria itu menyempatkan diri memandikan Dila saat Diah sedang memasak di dapur. Ardi cukup senang karena sampai saat ini, Diah tidak menyebut tentang perceraian. Ia pikir, mungkin saja Diah sudah berubah pikiran begitu melihat sang anak gadis.
"Tuan biar saya saja, pergilah bekerja, ini sudah cukup siang." ucap Diah mengambil alih Dila dalam gendongan suaminya.
"Mas, bisakah kamu memanggilku mas? Seperti dulu." pinta Ardi.
"tidak, kamu memanggilku mas." kelit Ardi.
"itu hanya sandiwara, sekarang sudah tidak perlu lagi, tuan." tutup Diah berbalik dan melangkah ke dalam. Tinggallah Ardi yang terus di liputi sesal oleh sikapnya di masa lalu.
****
Siang itu, Ardi meluangkan waktu untuk pulang sebentar. Niatnya ingin melihat sang buah hati dan tentu saja Diah. Ardi mengirim pesan untuk istrinya, merasa tak mendapat balasan, ia pun menelepon. Sekali dua kali telponnya terhubung, namun tidak ada jawaban. Dalam hati Ardi mulai gelisah dan gusar, takut jika Diah pergi. Dengan cepat Ardi membawa mobilnya pulang. Niat hati ingin membelikan Diah sesuatu, ia urungkan hanya untuk memastikan sang istri masih berada di rumah.
__ADS_1
Begitu mobil terparkir di halaman, Ardi bergegas keluar. Ada sedikit kelegaaan melihat Dila dalam pangkuan mama nya. Bercanda yang entah apa. Tapi, rasa cemas itu belum sirna sebelum ia melihat Diah.
"Mungkinkah diah benar-benar pergi meninggalkan Dila di sini?" gumam Ardi pada dirinya sendiri.
"Loh, Di, kok balik jam segini? Nggak biasanya?" Tanya sang mama yang keheranan.
"Kangen sama Diah, Dila maksudnya." Ardi mengkoreksi begitu melihat sang mama tersenyum menggoda. Tepat saat itu Diah baru saja keluar dengan membawa sebotol susu, sudah pasti Diah mendengar ucapannya tadi. Ardi merasa lega melihat Diah masih di sana. Tapi juga cemas jika Diah mendengar ucapannya tadi. Ardi menyesalkan kenapa ia harus mengoreksi dan tidak jujur saja pada sang mama.
"Itu... Susu formula?" Tanya Ardi menatap botol susu yang Diah bawa.
"Bukan, Di. Ini asi eksklusif. Kebetulan, asi Diah kan melimpah, makanya..." Bu Dewi menyahut.
Ardi menyaut botol itu sebelum Diah memberikan pada Dila. Ardi tau ini adalah salah satu cara Diah untuk membuat jarak pada anaknya, sebelum wanita itu pergi jauh dari hidupnya. Ardi tak menginginkan itu. Tindakan Ardi itu, membuat Diah terkejut, begitupun dengan Bu Dewi.
"Yang seperti ini tidak higienis, lebih baik langsung dari mama."
"Saya sudah memastikan ini bersih, tuan. Lagi pula Dila harus terbiasa, sebentar lagi kita juga berpisah."
"Tidak ada perpisahan Diah. Sekalipun kamu mengajukan berkas ke pengadilan, aku akan tetap meminta mediasi. Hakim juga tidak akan mengabulkan permohonan cerai mu tanpa alasan kuat."
"Tuan!" Manik mata Diah berkaca, genangan sudah memenuhi pelupuk matanya.
__ADS_1
"Jangan menyebutku egois, kamu yang egois karena ingin meninggalkan Dila, dan juga aku." tukas Ardi menatap manik mata Diah, entah harus dengan cara apa lagi Ardi harus membujuk Diah agar tetap tinggal.
Diah terus menatap mata suaminya dengan perasaan yang kacau. Rasa marah dan kesal karena Ardi tak ingin berpisah membuat Diah semakin merana. Karena ia tau, untuk siapa ketidakinginan Ardi itu. Diah lelah tertekan oleh perasaan.