
Bab 11
Ardi membuka pintu kamar ibunya dan melihat Bu Dewi yang saat ini tengah menangis tersedu di dalam kamar. Pria itu cukup terkejut melihat reaksi ibunya yang dinilai agak berlebihan hanya karena kepergian seorang pengasuh.
"Mama?" sapa Ardi pada Bu Dewi.
Bu Dewi langsung menoleh ke arah Ardi dan mengadukan Diah yang telah pergi meninggalkan rumah. "Ardi! Diah sudah pergi dari rumah! Diah sudah meninggalkan Mama!" ungkap Bu Dewi sembari menangis tersedu-sedu.
Ardi tak menyangka jika ibunya akan menangisi kepergian Diah. Padahal, Bu Dewi sendiri termasuk pribadi yang cuek. Sejak awal bertemu dengan Diah, Bu Dewi juga bersikap kasar dan ketus pada Diah. Tapi setelah ditinggal pergi oleh Diah, Bu Dewi justru tidak rela dan menginginkan Diah untuk kembali.
"Sudah, Ma. Kalau memang Diah sudah tidak betah di sini, kita bisa apa? Kita juga tidak memaksa Diah untuk pergi, kan? Ini pilihan Diah sendiri, kan?" Ardi mencoba menenangkan sang ibu yang masih menangis. Tapi sepertinya tangis Bu Dewi hanya akan reda setelah wanita paruh baya itu melihat Diah kembali.
"Lagi pula, sejak awal Mama juga tidak suka Diah bekerja di sini, kan? Mama dulu sangat ketus dan kasar pada Diah. Sekarang begitu Diah pergi, Mama justru menangis seperti ini," ledek Ardi pada sang ibu.
Mendengar ledekan diri putranya, Bu Dewi dibuat tersinggung bukan main. "Itu 'kan dulu! Saat itu Mama belum kenal Diah! Saat itu Mama belum tahu bagaimana karakter Diah! Wajar saja kalau Mama tidak suka pada orang asing, kan?"
"Tapi tidak seharusnya juga Mama bersikap kasar, kan? Memang betul tak kenal, maka tak sayang. Tapi tidak seharusnya juga Mama bersikap ketus pada orang yang belum Mama kenal, kan?" cibir Ardi pada ibunya tanpa henti.
Wanita paruh baya itu mengakui jika selama ini memang Bu Dewi sering bersikap buruk pada Diah. Tapi setelah mengenal Diah, semuanya perlahan berubah. Dulu Bu Dewi yang tak ingin dirawat oleh gadis itu, mendadak menjadi bergantung pada Diah dan tidak ingin kehilangan Diah.
"Mau sampai kapan kamu meledek Mama?" sahut Bu Dewi sewot. "Diah pasti belum jauh dari sini, kan? Kamu tahu di mana tempat tinggal dia hanya di kampung, kan? Tolong jemput Diah dan bawa Diah balik ke sini lagi!" pinta Bu Dewi dengan sangat pada putranya.
Ardi sangat memahami keinginan ibunya. Ia sendiri juga akan kerepotan jika Diah sampai berhenti bekerja. Tapi sepertinya masalah mengenai perhiasan masih cukup mengganjal di hatinya.
"Mama benar-benar ingin Diah kembali? Masalah tentang perhiasan kemarin bagaimana? Diah yang melakukannya, kan? Mama tidak keberatan?" tanya Ardi.
__ADS_1
Insiden perhiasan memang belum menemukan titik terang. Meskipun mereka sudah memutuskan untuk melupakan kejadian tersebut, tapi mereka masih belum menemukan fakta yang tersembunyi di balik kejadian hilangnya perhiasan Bu Dewi itu. Mereka juga tidak ingin menuduh Diah sebagai pelaku, tetapi mereka juga belum menemukan tersangka yang sebenarnya.
"Mama yakin, Diah tidak melakukan hal itu! Hanya satu kotak perhiasan saja, Mama tidak keberatan. Mama tidak memikirkan hal itu sedikitpun. Tapi sepertinya Diah masih memikirkan tentang perhiasan itu, sampai Diah memutuskan untuk pergi dari rumah," ungkap Bu Dewi menyesalkan insiden perhiasan yang terjadi kemarin.
Jika saja tidak ada kehebohan mengenai hilangnya perhiasan, saat ini Bu Dewi pasti masih bersama dengan Diah yang merawat dirinya. "Kalau saja kemarin Mila tidak membuat ulah, Diah pasti saat ini tidak akan pergi!" ujar Bu Dewi mulai menyalahkan Mila sebagai biang kerok atas kejadian ini.
Perdebatan kecil pun tak lagi terelakkan. Tentu saja Ardi tidak terima kekasihnya disalahkan oleh ibunya, apalagi menurutnya Mila tidak ada hubungannya sedikitpun dengan hilangnya perhiasan Bu Dewi.
"Mama seharusnya berterima kasih pada Mila! Kalau tidak ada Mila, Mama tidak akan tahu kalau perhiasan Mama ternyata hilang!" timpal Ardi membela kekasihnya di depan sang ibu.
"Berterima kasih apanya? Siapa tahu kejadian kemarin hanya akal-akalan Mila saja, kan? Mama sangat yakin Diah tidak mungkin melakukan hal itu," sahut Bu Dewi.
"Mama jangan menuduh sembarangan! Akal-akalan Mila apanya? Mila hanya memberitahu Mama kalau kamar Mama tidak terkunci rapat. Justru berkat Mila, kita berhasil menemukan perhiasan Mama yang hilang, kan?"
"Jadi kamu percaya kalau Diah yang mengambilnya?" Sungut Bu Dewi.
"Bagaimana kalau ternyata orang lain yang membawanya? Bagaimana kalau ternyata Diah hanya difitnah saja?"
Memang perkataan Bu Dewi tidak berdasar dan tidak memiliki bukti. Tapi dugaan wanita paruh baya itu benar-benar tepat sasaran.
"Lalu apa hubungannya Mila dengan semua ini? Kenapa Mama menyalahkan Mila?"
Ingin sekali Bu Dewi membongkar tabiat asli Mila pada putranya. Tapi sepertinya Ardi tidak akan percaya jika pria itu tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Memang Mila yang menyebabkan Diah pergi, kan? Mila yang sudah membuat masalah! Karena perbuatan Mila yang membuat kerusuhan mengenai perhiasan, Diah jadi pergi meninggalkan Mama!" ucap Bu Dewi.
__ADS_1
"Berhenti menyalahkan Mila, Ma! Mila tidak ada hubungannya dengan semua ini!"
"Ardi, kamu jangan terlalu percaya pada senyuman manis yang dia tunjukkan di depan kamu. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana orang-orang yang akan menusuk kamu dari belakang nantinya!" ujar Bu Dewi pada sang putra.
Meskipun tidak menyebut nama langsung, tapi perkataan Bu Dewi sangat jelas diarahkan untuk Mila. "Mama hanya belum mengenal Mila saja. Setelah Mama kenal Mila, kesan Mama pada Mila pasti akan berubah. Mama juga seperti itu pada Diah, kan? Tidak bisakah Mama juga mencoba mengenal Mila sedikit saja?"
Sebagai orang yang sudah tahu perangai asli dari Mila, tentu saja Bu Dewi akan menolak permintaan dari putranya. Bu Dewi bersikap ketus pada Mila bukan karena belum mengenal Mila, tapi karena memang wanita itu sudah tahu jika kekasih dari putranya itu memang mempunyai sikap buruk.
"Sepertinya kamu memang sangat mempercayai pacar kamu itu, ya?" sinis Bu Dewi. "Jangan sampai kamu merasa kecewa nantinya saat kepercayaan kamu dirusak oleh orang yang kamu bilang sekarang!"
"Permintaan Mama hanya satu, tolong bawa Diah kembali secepatnya! Mama tidak ingin diasuh oleh orang lain! Mama tidak mau ganti pengasuh! Mama hanya ingin Diah kembali."
Ibu dan anak itu pun mengakhiri pertikaian mereka. Ardi keluar dari kamar sang ibu dan memikirkan baik-baik untuk mencari Diah dan membawanya kembali.
"Kenapa Mama sampai segitu bencinya pada Mila? Akal-akalan Mila? Maksudnya apa? Untuk apa juga Mila berbuat ulah di sini? Mila juga tidak kenal Diah." Ardi mulai memikirkan perkataan sang ibu.
Karena penasaran, Ardi pun akhirnya memeriksa rekaman CCTV. Hampir saja pria itu lupa jika ia memasang kamera pengintai di kamar sang ibu.
Niat hati hanya iseng, Ardi pun memutar rekaman CCTV di mana huru-hara terjadi di rumahnya mengenai perhiasan. "Bukannya Mila bilang kalau kamar Mama tidak tertutup rapat?" gumam Ardi bingung saat melihat kamar ibunya yang tertutup.
Pria itu juga mengingat kembali mengenai kucing yang dibicarakan oleh Mila. Ardi tidak menjumpai kucing yang masuk ke dalam kamar Bu Dewi selama ia memeriksa rekaman CCTV. Bukannya melihat kucing, Ardi justru melihat Mila yang masuk ke dalam kamar Bu Dewi.
Manik mata Ardi membulat lebar dan pria itu sukses dibuat kebingungan saat ia melihat tingkah Mila melalui kamera pengintai yang ia pasang. Ia benar-benar tidak menyangka jika perkataan Mila hanyalah kebohongan semata.
"Apa-apaan ini? Kenapa Mila melakukan semua ini?"
__ADS_1
***"