Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
Bab 6


__ADS_3

"Sayang!" panggil Mila pada Ardi. Ardi dan Diah yang tengah berbincang pun langsung menoleh ke arah Mila dan mengakhiri obrolan mereka.


Mila berlari kecil menghampiri Ardi dan memeluk erat lengan pria itu di depan Diah untuk menunjukkan posisinya sebagai kekasih Ardi di depan Diah. "Biar aku bantu buatkan minum!" ujar Mila pada Ardi.


"Kalau begitu saya permisi!" pamit Diah tak ingin mengganggu majikannya.


"Diah, Mama sudah minum obat?" tanya Ardi pada Diah sebelum gadis itu benar-benar pergi meninggalkan dapur.


"Untuk obat siang ... belum, Tuan," sahut Diah.


"Tolong buatkan minuman hangat untuk Mama dulu! Aku akan siapkan obatnya," ujar Ardi.


Tak ingin kekasihnya terlalu banyak berbincang dengan Diah, Mila pun ikut menyela dan menawarkan bantuan untuk kekasihnya. "Biar aku saja yang buatkan minuman hangatnya, bagaimana?" tawar Mila. "Kamu bisa pergi sekarang!" tukas Mila pada Diah.


"Kamu duduk saja, Sayang! Biar Diah saja yang mengerjakannya!" timpal Ardi.


"Aku saja, ya?" ujar Mila dengan nada manja.


Wanita itu nampak sekali sengaja memamerkan kemesraan di depan Ardi. Mila tidak akan memberikan kesempatan kekasihnya untuk lebih dekat dengan Diah selama Mila berada di sana.


"Mama kamu ada di taman belakang, ya? Aku antar minumannya sekarang, ya?" cetus Mila.


Wanita itu kembali mencari muka di depan Bu Dewi. Dengan membawakan minuman hangat dan juga obat, Mila mencoba memberikan perhatian pada calon ibu mertuanya.


"Tante, aku buatkan minuman hangat untuk Tante!" ungkap Mila dengan senyum sumringah saat menghampiri Bu Dewi. "Aku bawakan obat juga untuk Tante. Sekarang sudah saatnya minum obat, kan?"


Ardi ikut mengekori Mila yang menghampiri Bu Dewi. Mila sudah tersenyum dengan ramah dan berbicara dengan sopan, tapi tetap saja ia tak menerima balasan yang menyenangkan dari Bu Dewi.


"Letakkan saja di situ!" ujar Bu Dewi datar.

__ADS_1


"Ma, Mila sudah membuatkan minum untuk Mama. Kalau diminum nanti, keburu dingin. Minum sekarang ya, Ma?" bujuk Ardi.


"Mama tidak haus! Diah, tolong ambilkan air putih hangat, ya?" pinta Bu Dewi pada Diah.


Diah segera mengangguk dan bergegas menuju kembali ke dapur. Namun, Mila menghalangi langkah Diah dan menawarkan diri untuk menggantikan tugas Diah. "Biar aku saja, ya? Kamu di sini saja!" ujar Mila pada Diah.


"Ayo, Sayang!" ajak Mila pada Ardi. Hanya mengambil segelas air putih saja, Mila harus menyeret Ardi dari sana. Wanita itu tak ingin Ardi berlama-lama berada di dekat Diah.


"Cuma mengambil air putih saja harus menyeret banyak orang," gerutu Bu Dewi.


Selama Mila menemani Bu Dewi meminum obat, Bu Dewi bersikap cuek pada Mila dan dengan sengaja mengabaikan wanita itu di depan Ardi. Bu Dewi lebih sering mengajak Diah berbincang. Bu Dewi tidak mempedulikan Mila sedikitpun dan membiarkan wanita itu melakukan apa pun sesukanya.


Melihat wajah Mila yang sudah masam, Ardi pun segera membawa kekasihnya itu menjauh dari Bu Dewi. "Sayang, kita buat jus lagi saja, ya?" ajak Ardi untuk menghibur kekasihnya itu.


Mila pun mengikuti Ardi dan memilih untuk menjauh dari Bu Dewi daripada ia terus diabaikan. Mila tak henti-hentinya berdecak kesal di depan Ardi karena sikap Bu Dewi yang kurang begitu menyambutnya.


"Mungkin suasana hati Mama sedang buruk. Tolong maklumi saja, ya?"


"Maklumi bagaimana? Kamu tidak lihat sikap Mama kamu tadi padaku? Aku sudah tersenyum, kan? Aku sudah bersikap sopan, kan? Kenapa Mama kamu tidak mau membalas senyumanku sedikitpun?" gerutu Mila kesal.


Wanita itu terus merengek dan mengeluhkan sikap Bu Dewi yang tidak menyambut baik kedatangan Mila. Bak wanita yang teraniaya, Mila terus menampakkan wajah memelas untuk menarik simpati Ardi.


"Apa memang kedatanganku tidak disambut baik di sini? Apa Mama kamu tidak mau aku berkunjung ke sini?" tanya Mila mendramatisir.


"Jangan berkata begitu, Sayang! Tolong jangan diambil hati sikap Mama, ya?" bujuk Ardi dengan sabar.


"Kalau memang Mama kamu tidak suka padaku, lebih baik aku pulang saja!" sahut Mila.


Dengan berlagak menjadi korban, Mila pun berhasil membuat Ardi bersimpati. Pria itu terus membujuk kekasihnya yang tengah merajuk dan berusaha menghibur Mila. "Nanti aku akan berbicara dengan Mama. Tolong lebih sabar dalam menghadapi Mama, ya? Meskipun Mama bersikap seperti itu padamu, tolong kamu tetap bersikap baik pada mamaku, ya?" pinta Ardi.

__ADS_1


"Tanpa kamu minta juga aku pasti akan bersikap sopan pada Mama kamu. Tapi kalau mama kamu terus bersikap dingin dan berbicara ketus padaku seperti itu, mana bisa aku tahan?" rengek Mila.


Ardi menggenggam erat tangan Mila. "Tolong bertahan, ya? Setidaknya demi aku. Tolong tahan sebentar lagi. Kalau kamu terus bersikap lembut pada Mama, lama-kelamaan Mama pasti akan luluh. Kamu mau bersabar sedikit lagi demi aku, kan?"


Mila tak dapat melakukan apa pun selain mengangguk. Meskipun masih mendengus kesal, Mila tetap mencoba bertahan dan melanjutkan kunjungannya di rumah tersebut meskipun ia tidak disambut.


"Bagaimana kalau aku ambilkan camilan? Kamu bisa beristirahat atau berkeliling di sini. Ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku tinggal sebentar tidak apa-apa, kan?"


"Kamu ada banyak pekerjaan? Lalu aku harus di sini sendiri?" protes Mila.


"Hanya sebentar saja! Aku janji tidak akan lama," timpal Ardi.


Mau tak mau, Mila pun harus menghabiskan waktu seorang diri sembari berkeliling di rumah calon suaminya. Wanita itu kembali berjalan menuju taman belakang dan melihat Diah serta Bu Dewi yang masih berada di sana.


Mila mengamati mereka dari kejauhan. Bu Bu Dewi terus tersenyum di depan Diah. Mereka terlihat sangat akrab hingga membuat Mila merasa iri. Sebagai calon menantu, seharusnya ia yang berada di posisi Diah saat ini menemani Bu Dewi.


Namun, perhatian yang seharusnya diperoleh Mila, kini semuanya telah direbut oleh Diah. "Hanya pengasuh saja, kenapa dia sok akrab sekali?" gumam Mila tidak suka melihat interaksi antara Diah dan Bu Dewi.


"Berani sekali gadis kampung itu mencari perhatian Tante Dewi! Penampilannya juga biasa saja! Jelas aku jauh lebih cantik darinya! Aku juga lebih langsing dan modis. Gadis hitam dan dekil seperti dia tidak mungkin bisa merebut perhatian Ardi, kan?" gerutu Mila mulai mencemaskan kekasihnya yang setiap hari tinggal bersama dengan Bu Dewi itu.


Mila mengingat kembali saat kekasihnya berbincang dengan Diah tadi. Wanita itu merasa Diah sedang mencoba untuk menggoda Ardi. "Ardi tidak mungkin tertarik yang pada gadis kampung itu, kan?"


"Gadis itu benar-benar pintar mencari muka! Setelah menggoda Ardi, dia juga berencana merebut perhatian Tante Dewi?"


Mila mengepalkan tangan erat-erat. "Gadis itu tidak bisa dibiarkan! Awas aja kalau kamu berani merebut perhatian Ardi!"


Keberadaan Diah di rumah calon suaminya membuat Mila terusik dan merasa terancam. Wanita itu pun mulai merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Diah dari rumah Ardi.


****

__ADS_1


__ADS_2