Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 58 - ends part


__ADS_3

Dila, gadis cantik yang menggemaskan, di usianya yang kini menginjak 20 bulan. Gadis kecil itu memakai kaus merah muda dan rok senada dengan warna yang sedikit lebih gelap. Rambut Dila di kuncir dua dan diberi poni sebatas alis nya. Ia berlarian di halaman rumah, dengan sepatu yang berbunyi ketika di injak.


Suara tawa riang gadis yang masih menyusu itu memenuhi halaman. Di ujung halaman tampak mbok Tini ikut menggoda dengan menutup wajah dengan bakul anyaman bambu. Bak di kejar, Dila berlari dengan riang dan berakhir di pelukan sang bunda yang baru keluar dari dalam rumah.


"Unda, atut, atut, mbok ni, antu." Celoteh Dila merangkul dan menaiki tubuh sang bunda. Meski dila bilang takut, nyatanya ia justru terus melihat ke arah mbok Tini dengan wajah yang kegirangan.


Diah mau tak mau tertawa melihat tingkah sang putri tercinta.


"Takut simbok ya? Ulu, ulu, sini peluk bunda."


Dila memeluk bunda nya dan kembali menjerit-jerit saat mbok Tini mendekat. Tak lama pintu gerbang di buka.


"Ayah, Dila, ayah." Seru Diah menunjuk.


"Yeeyy, ayah...." Seru bocah kecil itu girang.


Mobil Ardi baru saja terparkir di carport. Dan Ardi keluar dengan membawa sekantong makanan kecil yang ia beli di jalan. Dila langsung berhambur dan bergelayut di kaki ayahnya.


"Princess,," Ardi mengangkat Dila tinggi-tinggi setelah bawaannya berpindah ke tangan Diah. Dan memutar tubuhnya di iringi suara jeritan riang Dila.


"Apa ini, mas?"


"Roti eskrim. Satu-satu ya sama Dila."


Wajah Diah tampak sumringah, "Diah juga dapat mas?"


"Dapat dong." Sahut Ardi menggemasi Dila yang histeris karena geli, sang ayah terus menciumi dirinya.


"Ayok masuk, nak. Ayah bawa oleh-oleh. Bunda juga dapat." Ajak Diah masuk lebih dulu. Di ikuti Dila begitu berhasil lepas dari ayahnya. Ternyata di depan pintu Dila masih di kagetkan mbok Tini yang membuat bocah itu kembali histeris berlari ke dalam rumah dengan cepat.


Mbok Tini tertawa, Ardi juga tampak tersenyum melihatnya.


"Nggak capek kan mbok?" Tanya Ardi. Pria itu menepuk jidatnya sendiri lalu kembali ke mobil untuk mengambil sesuatu. Ia menghampiri mbok Tini dan memanggil satpam di depan rumahnya.


"Pak Joko!"


Di tangannya membawa sekotak besar kue eskrim yang sama dengan milik Diah dan Dila. Lalu menyerahkannya pada mbok Tini.


"Ini, sama buat pak Joko dan pak Sugeng ya."


"Wah, kami juga dapat, tuan."


"Iya dong. Cuma ketinggalan tadi, lupa." Ucap Ardi nyengir. Ia lalu beranjak masuk.


"Makasih, tuan."


Sejak kematian sang mama, Ardi memang menjadi lebih dekat dengan mbok Tini dan dua satpamnya. Mereka sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri. Untuk Diah dan Dila,tentu cintanya sudah berkembang dengan sangat pesat.

__ADS_1


Malam harinya, Dila yang kelelahan terbaring di atas ranjang dengan kaki dan tangan yang terentang memenuhi ruang. Hingga Diah hany tidur di sudut ranjang karena Dila yang tidur berguling-guling kesana kemari. Ardi tersenyum begitu memasuki kamar. Ia baru baru saja keluar dari ruang kerjanya karena memang ia sedikit sibuk akhir-akhir ini karena pembukaan cabang baru.


Ardi membetulkan posisi Dila. Mengampit bocah itu tidur dengan batal dan guling. Hingga ada cukup ruang untuk nya tidur. Ardi menaiki ranjang, dan memeluk tubuh Diah dari belakang. Diah menggeliat dan membuka matanya, melihat senyum Ardi yang menandakan mengininkan sesuatu.


"Mas Ardi? Dila mana?"


"Dibelakang."


"Nanti jatuh loh mas, tidur Dila kan lasak banget."


"Tenang, udah mas kasih bantal sama guling." Bisik Ardi mengeratkan pelukannya. "Ayo."


"Kemana?"


Ardi memainkan alisnya. Begitu saja Diah langsung tau maksudnya.


"Disini? Ntar kalau Dila bangun gimana?"


"Disana aja yuk," ajak Ardi menunjuk sofa panjang di dalam kamar, begitu melihat sinyal hijau dari istrinya.


Keduanya terkikik kecil, kalau bangkit dari pembaringan menuju ke sofa di sudut kamar. Bibir keduanya saling bertautan di susul dengan penyatuan keduanya.


Keesokan paginya, Diah mual-mual hebat. Ardi dengan telaten menggosok tengkuk Diah dengan minyak angin.


"Udah enakan?"


Diah tampak cukup lemas, mengangguk pelan. Ardi menatap istrinya, seketika ia ingat dengan saat kehamilan Diah dulu.


Diah pun mengerti maksud sang suami, menutup mulutnya. "Mungkinkah....."


"Nanti kita cek ke dokter, ya?"


"Jangan dulu, pake tes urin saja dulu mas, aku malu kalau ternyata hanya masuk angin."


"Ada stoknya di rumah?"


"Ada. Di lemari."


"Biar mas yang ambil." Ucap Ardi menahan begitu melihat Diah akan turun dari ranjang.


Beberapa menit kemudian, Diah sudah berpindah di dalam kamar mandi. Tak lama wanita berkulit sawo matang itu keluar.


"Gimana, sayang?"


Diah menunjukkan hasil testpack nya dengan senyum yang lebar. Dua garis merah yang juga membuat sudut bibir Ardi tertarik ke atas dan melebar.


"Alhamdulillah,"

__ADS_1


Ardi memeluk sang istri, kebahagiaan yang sempurna, meski tanpa sang mama. Jika dulu Ardi hanya menahan diri saat ia cukup bahagia dengan kehamilan Diah. Kini ia lebih menunjukkan dan membagi kebahagian bersama. Begitupun dengan Diah, ia tak lagi merasa terbebani oleh rasa bersalah pada suaminya. Karena Diah tau bagaimana isi hati Ardi yang lebih jujur pada perasaanya.


Di sisi yang lain, Rangga masih berjuang untuk melupakan Diah. Dia memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuanya yang bertetangga dengan keluarga Ardi yang berbahagia.


"Kamu mau pindah ke apartemen? Kenapa?" Sang mama yang tengah memijit kaki papanya Rangga terhenyak kaget dengan keputusan Rangga.


"Boleh ya ma?"


"Iya, tapi kenapa?"


"Nyari ketenangan, ma."


"Oh, jadi di sini nggak tenang?"


"Iya, nyari yang Deket juga ke kantor."


Mama mendessaah pelan, "terserah kamu sih, Ngga. Tapi, kamu harus bawa satu orang mama."


"Haahh? Orang mama?"


"Iyalah, buat memata-matai kamu kalau di sana macam-macam."


"Enggaklah ma."


"Ya udah, berarti mama nggak ijinin."


Rangga menepuk jidatnya, lalu ia melongok ke belakang kebetulan mbok Darmi salah satu ART dirumah mamanya baru aja melintas. Dengan cepat Rangga menatap sang mama.


"Dia aja." Rangga menunjuk ke belakang tanpa melihat.


Wajah mama dan papa tampak sedikit berubah,"kamu yakin?"


"Heemm, boleh kan?" Angguk Rangga yakin.


"Boleh sih," ucap sang mama ragu setelah saling pandang dengan sang suami.


"Pagi!"


Raut wajah Rangga berubah mendengar sang mama menyebut Pagi alias Si Embun Pagi.


"Kamu temeni mas Rangga tinggal di apartemen ya?!"


"Haaahh??" Baik Rangga maupun Embun terperangah, Rangga merasa menunjuk mbok Darmi. Wanita seusia mamanya, kenapa kini berubah menjadi Pagi?


"Kok gitu reaksinya? Tadi kamu sendirian yang nunjuk Pagi buat nemenin kamu?"


Rangga menepuk jidatnya, rupa-rupanya, setelah mbok Darmi lewat, di belakangnya ada Pagi. Ehem, Embun pagi.

__ADS_1


Untuk kisah Ardi, end sampai di sini. Dan kisah Rangga dan pembantu tulalitnya akan muncul di nopel berikutnya, dengan judul : PEMBANTU TULALITKU TERNYATA SEKSI.


Jangan lupa untuk mampir ya. Terima kasih.


__ADS_2