
"Menikah?" tanya Ardi dan Diah bersamaan.
Kedua insan itu saling pandang. Ardi yang baru saja dikecewakan oleh seorang wanita, tentu saja tak bisa semudah itu menerima permintaan dari sang ibunda. Apalagi Diah. Gadis itu hanya pengasuh. Mana mungkin gadis itu bermimpi untuk menikahi majikan?
"Kenapa? Kalian sama-sama lajang dan tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun, kan? Kalian juga sudah dewasa dan sudah pantas menikah. Kurang apa lagi?" ujar Bu Dewi.
Wanita paruh baya itu merasa menikahkan Ardi dan Diah adalah ide yang bagus. Ardi bisa segera melupakan Mila dan Bu Dewi juga bisa mendapatkan menantu yang ia mau. Ditambah lagi, Diah bisa mendapatkan keluarga baru dan tidak perlu bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri.
"Ma, jangan minta yang aneh-aneh! Ardi belum mau memikirkan hal itu. Hubungan Ardi dan Mila baru saja berantakan, sekarang Mama sudah menyodorkan gadis lain untuk Ardi?" tukas Ardi berusaha menolak permintaan ibunya.
"Saya juga belum siap menikah, Nyonya. Dan lagi, tidak mungkin saya menikah dengan Tuan Ardi," sahut Diah.
Keduanya menolak dengan tegas ide dari Bu Dewi. Mereka merasa Bu Dewi terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan.
"Ardi, umur kamu sudah cukup matang. Kamu mau menunggu sampai kapan lagi? Kamu ingin mencari gadis pilihan kamu sendiri lagi? Bagaimana kalau kamu sampai bertemu dengan Mila-Mila yang lain di luar sana?" omel Bu Dewi.
"Dan kamu, Diah ... menurutku juga kamu sudah sangat siap untuk menikah dan menjadi istri. Kenapa kamu tidak ingin mencobanya dengan Ardi? Aku yakin Ardi pasti bisa membahagiakan kamu," bujuk Bu Dewi pada Diah.
Ardi dan Diah tetap menggeleng dengan kompaknya. "Jangan bicara yang tidak-tidak, Ma! Ardi tidak mau memulai hubungan yang seperti ini! Ardi juga tidak mempunyai perasaan dan kesan apa pun pada Diah. Hanya karena Ardi mengenal Diah, dan Diah belum menikah, bukan berarti Ardi harus menikah dengan Diah, kan?"
"Diah gadis yang baik, Ardi. Kalau kamu melepaskan kesempatan sekarang, bisa-bisa kamu kehilangan gadis sebaik Diah nantinya. Sulit mencari gadis baik di jaman sekarang. Kamu lihat saja mantan pacar kamu itu, bisa-bisanya kamu mengenal gadis licik seperti Mila yang bisa bertindak kriminal seperti ini," sungut Bu Dewi kembali mengungkit wanita pilihan putranya.
Perdebatan pun tidak lagi terelakkan. Ardi masih tetap menolak ide dari sang ibu, sementara Bu Dewi masih bersikeras membujuk putranya. Sementara Diah hanya bisa menyimak dan sesekali menimpali perkataan Bu Dewi tanpa berani menyanggah ucapan mantan majikannya itu.
"Kita pulang sekarang saja, Ma! Jangan membuat keributan di sini!" ujar Ardi pada Bu Dewi.
Bu Dewi justru memberikan jawaban yang cukup mencengangkan. Sebelumnya Bu Dewi memaksa Ardi untuk segera mencari Diah, kemudian kali ini Bu Dewi kembali memaksa Ardi untuk menikahi gadis pilihannya itu.
"Mama tidak akan pergi dari sini kalau kamu menolak untuk menikah dengan Diah," ujar Bu Dewi dengan tegas. "Mama tidak pernah meminta banyak kepadamu selama ini, kan? Hanya menuruti satu permintaan Mama saja kamu tidak mau? Kalau begitu buat apa lagi Mama hidup?"
Bu Dewi makin mendramatisir dan membuat Ardi bertambah pusing. "Kalau kamu mau pulang, pulang saja sana sendiri! Mama tidak mau pulang kalau Diah tidak ikut!" tukas Bu Dewi.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu benar-benar keras kepala. Bu Dewi akan melakukan segala cara agar Diah dan Ardi mau menuruti kemauannya.
"Ma, jangan berbicara seperti itu! Ayo kita pulang sekarang mah!" ajak Ardi pada Bu Dewi dengan suara lembut.
"Sebentar lagi gelap, Nyonya. Lebih baik Nyonya pulang sekarang," tambah Diah mencoba membantu Ardi untuk membujuk Bu Dewi yang tengah merajuk.
"Mama tidak akan pulang jika Diah tidak ikut pulang bersama kita. Mama juga tidak mau makan kalau Diah tidak mau ikut pulang bersama kita!" Bu Dewi kembali melancarkan aksi mogok makannya hanya agar keinginannya dipenuhi oleh sang putra.
"Ma, kita pertimbangkan dulu hal ini matang-matang. Ardi dan Diah juga tidak begitu saling mengenal. Tolong jangan memaksa seperti ini!" bujuk Ardi dengan suara lemah lembut. Sebisa mungkin pria itu tidak meninggikan suara di depan Bu Dewi dan membujuk ibunya dengan sabar dengan suara lembut.
"Mama tidak mau tahu! Mama tidak akan pulang dan Mama juga tidak mau makan kalau Diah tidak menjadi menantu mama!" Bu Dewi tetap saja ngeyel dan memaksa Ardi untuk segera menikahi Diah.
Setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya Ardi pun terpaksa mengalah. Pria itu yang harus kalah. Mau tak mau Ardi harus memenuhi keinginan ibunya.
"Bagaimana, Diah? Kamu mau ikut pulang bersama kami ke kota?" tanya Ardi pada Diah.
Diah terdiam. Gadis itu mulai merasa sungkan pada Bu Dewi. Jika Ardi saja sudah menyetujui, maka tidak ada alasan lagi bagi Diah untuk menolak.
"Kalau memang Tuan Ardi bersedia menerima saya, saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan Tuan," sahut Diah secara tidak langsung menyetujui keinginan Bu Dewi yang ingin menikahkan gadis itu dengan putranya.
"Kalian benar-benar setuju untuk menikah?" tanya Bu Dewi lagi untuk memastikan.
Ardi melirik ke arah Diah. Pria itu pun mengangguk di depan Bu Dewi, disusul dengan Diah yang juga menyetujui permintaan Bu Dewi.
Dengan berat hati, mereka pun segera memboyong Diah pergi ke kota dan menjadikan gadis itu sebagai pengantin Ardi. Bu Dewi benar-benar girang akhirnya ia bisa kembali berkumpul bersama dengan Diah dan berhasil membuat gadis itu menjadi menantunya.
"Kalian tidak perlu khawatir. Mama yang akan mempersiapkan acara pernikahan kalian!" ujar Bu Dewi pada Ardi dan Diah.
Kedua insan itu hanya bisa mengangguk tanpa berani membantah. Diah benar-benar tidak menyangka gadis itu akan menikah dengan cara yang kurang menyenangkan seperti ini.
"Diah, terima kasih banyak kamu sudah kembali ke rumah ini. Terima kasih banyak kamu sudah menerima Ardi," ucap Bu Dewi pada Diah.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan, Nyonya. Saya juga senang bisa kembali ke rumah ini dan berkumpul dengan Nyonya," sahut dia.
"Kenapa masih memanggil nyonya? Mulai hari ini panggil aku mama!" perintah Bu Dewi pada Diah.
Meskipun canggung, tapi Diah berusaha sebaik mungkin untuk menuruti semua kemauan dari Bu Dewi. "Iya, Mama!" cetus Diah.
Bu Dewi pun mulai sibuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan persiapan resepsi pernikahan putranya. Wanita itu nampak bersemangat saat menghubungi wedding organizer hingga penata rias yang akan ia gunakan pada acara istimewa putra semata wayangnya.
Hingga akhirnya hari pernikahan pun tiba. Meskipun Bu Dewi mempersiapkan seluruh rangkaian acara dengan mendadak, tapi akhirnya semuanya dapat berjalan dengan mulus sesuai dengan rencana.
"Semoga kalian bahagia, ya!" ucap Bu Dewi pada Ardi dan juga Diah.
Di hari yang membahagiakan ini, dengan amat sangat terpaksa Ardi dan Diah harus menampakan senyum di depan Bu Dewi hingga acara usai digelar. Di depan banyaknya tamu undangan yang datang, Ardi dan Diah terus mengembangkan senyum meskipun sebenarnya hati mereka kacau.
'Aku sudah menjadi seorang istri sekarang?' batin Diah tak percaya.
'Aku sudah menjadi seorang suami sekarang?' batin Ardi juga merasa tidak siap.
Setelah acara berakhir, Ardi dan Diah pun bergegas untuk mencari tempat istirahat. Mau tak mau, karena sudah menjadi pasangan suami-istri, Ardi dan Diah pun harus berbagi kamar bersama.
"Selamat beristirahat, ya!" ucap Bu Dewi meninggalkan Diah di kamar Ardi.
"Iya, Ma. Mama juga," sahut Ardi.
Ardi dan Diah terdiam. Keduanya saling pandang. Tentu saja mereka merasa kikuk dan canggung berada di kamar yang sama.
"S-saya tidur dulu," ujar Diah pada Ardi.
Ardi hanya mengangguk. Pria itu melihat Diah yang mulai sibuk menggelar tikar untuk tidur di lantai. Ya, meskipun sudah menjadi pasangan suami-istri, Diah masih tetap sadar diri. Gadis itu juga sangat tahu jika Ardi menikahi dirinya hanya karena terpaksa.
Ardi sendiri juga tidak mencegah Diah yang ingin tidur di lantai. Pria itu juga tidak menawari Diah untuk tidur bersamanya di atas ranjang. Akhirnya malam pertama antara pasangan suami istri itu pun dihabiskan dengan tidur secara terpisah, dengan posisi Ardi tidur di atas ranjang, sementara Diah tidur di lantai beralaskan tikar.
__ADS_1
'Jangan berharap lebih pada pernikahan ini, Diah. Tuan Ardi hanya terpaksa menikah denganmu. Kamu tidak pernah benar-benar menjadi istri dari Tuan Ardi.' batin Diah.
****