
Di dalam kamar mandi tidak ada suara selain percikan air yang jatuh dari bathtub yang telah penuh dan terisi oleh dua orang yang sedang menggosok punggung.
Diah menggulung rambutnya tinggi Agar tidak mengganggu Ardi yang sedang menggosok punggungnya.
"Apa aku sekarang boleh menjelaskan padamu?"
Ardi menatap Diah yang mulai mengeluarkan suara dari belakang, pergerakan tangannya menggosok punggung sang istri berhenti sejenak, lalu mulai bergerak pelan. Ia tak ingin lagi membiarkan diri terus dikuasai oleh egonya. Ia hanya perlu mendengarkan Diah berbicara.
"Karena kamu diam saja, aku anggap kamu setuju." Ucap Diah hati-hati memilih kata. Ia terdiam sejenak menunggu bagaimana reaksi suaminya.
"Aku dan mas Rangga tidak memiliki hubungan khusus apapun. Dia hanya pria yang baik. Dia sudah beberapa kali membantuku, dan aku berjanji untuk membalas kebaikan nya. Hari itu, ia meminta ku untuk menemani nya ke pesta ulang tahun temannya. Dan malam itu aku meminta ijin padamu. Aku tidak pernah menyangka jika dia akan membawaku ke salon dan memberiku gaun semacam itu, ataupun akan membawaku ke pesta sebesar itu." Ungkap Diah menjelaskan,"dan bertemu denganmu."
Diah terdiam, begitupun dengan Ardi. Hanya suara percikan air yang terdengar di tengah keheningan keduanya.
"Kenapa tidak mengatakan padaku jika kamu pergi dengan Rangga? Jika aku tau kamu akan pergi dengan pria itu, aku tak akan mengijinkan, Diah." Ucap Ardi memecah keheningan. Tangannya masih menggosok punggung sang istri.
"Maaf, itu memang salah ku. Tapi, aku keberatan dengan caramu menghukumku. Itu sangat kasar."
"Maaf, ini tidak akan terjadi lagi. Mari kita saling jujur, Diah."
"Kalau begitu, bisakah kamu jujur tentang satu hal?"
Ardi bungkam, ia tak menanyakan apa, ia seperti tau apa yang akan Diah katakan. Ia tak yakin bisa atau tidak.
"Bagaimana perasaanmu padaku? Apakah aku penting bagimu? Atau hanya sebagai pemuas napsumu saja?"
Bibir Ardi menipis, dan mengatup sangat rapat. Ia tau itulah yang akan Diah tanyakan. Ia sangat kesulitan dalam hal seperti ini. Tapi untuk Diah, ia harus bisa. Atau, ia akan kehilangan cinta wanita itu sebagai konsekuensi nya.
"Mas?"
Ardi sudah terdiam terlalu lama. Hingga Diah tak kuasa berada dalam perasaan yang tak tenang di hatinya. Perasaan itu makin lama makin menekan dan membuat dadanya sesak dan sakit.
"Tuan..."
__ADS_1
"Aku... Aku mencintaimu, Diah."
Kalimat itu akhirnya muncul dengan terbata, setelah Ardi terus bergumul dalam hati dan pikiran nya.
"Jangan memanggilku tuan lagi." Pinta Ardi lirih, "kita adalah pasangan suami istri, kenapa terus memanggil ku tuan? Apa kamu bilang pada Rangga jika kamu pembantu di rumahku?"
Diah bungkam, lalu menggeleng samar.
"Berhenti memanggilku tuan, dia mungkin salah paham mengira kamu pembantuku karena memanggilku tuan. Kamu istriku Diah, kamu juga harus tau batasan."
Ada rasa nyeri di dada Diah yang timbul. "Maaf,"
"Kita berdua salah, aku juga meminta maaf karena berbuat kasar padamu. Aku terlalu cemburu melihat tangan istriku di genggam oleh pria lain." Terang Ardi, "mulai sekarang, bisakah kita saling terbuka satu sama lain? Agar tak ada kesalahan paham lagi."
Didalam kamar, setelah mereka selesai mandi bersama, Ardi membantu Diah mengeringkan rambut yang basah dengan hairdryer.
"Tanda merah ini masih terlihat jelas, ini sedikit memalukan. Dengan apa aku harus menutupinya?" Gumam Diah melihat pada pantulan diri di cermin.
Ardi melirik sebentar istrinya dari kaca di depan Diah duduk. Wajah Diah terlihat bingung dan sedikit kesal. Lalu Ardi melanjutkan lagi mengeringkan rambut sang istri, menggerakkan hairdryer dan mengurai rambut istrinya.
"Paperbag mana?" Diah melirik Ardi dari kaca,
"Yang di sofa dekat ranjang."
"Itu milikmu?"
"Milik kita," jawab Ardi singkat,"sebelumnya, aku meminta Lucky untuk memesankan kamar ini dan baju ganti untuk kita."
Diah menatap Ardi dengan pandangan yang entah apa. "Apa yang kamu rencanakan?"
"Sebenarnya, di malam kamu meminta ijin padaku waktu itu, aku berencana mengajakmu ke pesta dan bermalam di sini." Ardi tersenyum kecil,"dan benar, kita memang bermalam di sini walau dengan awal yang berbeda dari harapan."
Diah juga ikut tersenyum kecil, "kita hanya kurang komunikasi."
__ADS_1
"Heemm,"
"Salah seorang temanku pernah bilang, jika bertengkar, ajak saja pasangan kita ke peraduan, lalu bicarakan sambil membuat anak." Ardi terkekeh, "seperti nya, ini berhasil. Kita jadi baikan dan lebih terbuka."
Diah ikut tertawa kecil, "aku tidak suka, mas. Apalagi kalau kamu memaksaku seperti semalam. Itu sangat membuatku tak nyaman dan sangat buruk."
"Itu tidak akan pernah terjadi lagi." Ucap Ardi berjanji."Sudah selesai," sambungnya mencabut kabel hairdryer dan menggulungnya. Lalu meletakkan diatas rak meja rias.
Diah berdiri, sedangkan Ardi mengambil paperbag milik Diah, lalu meletakkan di kursi depan meja rias. Ia meraih pinggang istrinya, membawa Diah dalam pelukan tubuhnya. Tangan Ardi menyentuh pipi sang istri, lalu memberinya sebuah kecupan di bibir. Dengan pelan menggerakkan bibirnya, dan menyatukan lidah dengan milik Diah.
Tangan Ardi perlahan bergeser menyentuh dadda, turun lagi ke perut dan perlahan menarik tali pengikat bathrobe milik Diah. Diah menahan gerak tangan sang suami, dan mencoba lepas dari pangutannya.
"Kita mau pulang, jangan lakukan ini lagi."
"Aku hanya membantu mu melepas saja."
Dalam jarak pandang yang sangat dekat keempat mata itu saling beradu. Tangan Ardi bergerak ke atas dengan tangan Diah yang masih menggenggam pergelangan Ardi. Tangan itu terus bergerak ke atas dan berhenti di dadda istrinya. Hanya menempel di sana karena genggaman tangan Diah kembali menahan. Mata Diah menatap mata Ardi yang juga menatap intens padanya.
"Sudah dua belas jam lebih, dada ini sangat kencang. Jika kamu merremmasnya, ASI-nya akan keluar."
"Aku tau, semalam aku sudah mencicipinya."
"Akan tetap kau lakukan?" Tatapan Diah menjadi tajam. Ardi menggeleng samar. Jarinya bergerak menyibak bathrobe sang istri hingga Diah benar-benar terlihat polos sekarang. Ada rasa tak nyaman yang lagi-lagi menghinggapi dirinya. Diah menelan ludahnya kasar, dan mengaburkan pandangan. Tangannya yang menahan tangan Ardi perlahan mengendor dan terlepas. Pria tampan itu berjalan mengambil bra dari dalam paperbag. Lalu memasangkannya pada dadda sang istri. Sampai bra itu terkait sempurna.
Diah terdiam, mematung dan membisu. Gerakannya hanya mengikuti Ardi yang membantunya memakai bra. Ardi mengambil cellana dallam dari paperbag yang sama. Lalu membantu Diah memakainya, dan terpasang sempurna. Lalu ia mengambil lagi, pakaian dari tempat yang sama. Baju terusan berkancing depan berwarna krem dan bermotif floral, yang bagian bawahnya rampel lebar setinggi lima cm.
Seusai membantu Diah berpakaian, Ardi tersenyum. "Kamu cantik, sayang."
"Semua size nya pas." gumam Diah takjub.
"Aku suamimu, tentu saja aku tau size-mu."
Diah melekukan bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
"Sekarang, giliranmu membantuku berpakaian, istriku." Ucap Ardi sedikit mengangkat kepalanya dan tersenyum nakal.