
Suasana menjadi hening dan mulai mencekam. Orang yang menahan tongkat yang diayunkan oleh Mila, ternyata tidak lain ialah Ardi.
Mila membelalakkan mata dan tubuhnya mematung seketika. Wanita itu sudah memastikan sebelumnya jika hanya ada Diah saja di rumah. Rencananya, Mila hanya akan membuat Bu Dewi celaka kemudian melimpahkan kesalahan pada Diah. Tapi ternyata rencananya tidak berjalan mulus karena kini Ardi ikut terlibat dalam keributan yang ia buat.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" sentak Ardi sembari merebut tongkat yang masih dipegang oleh Mila dan melemparnya ke sembarang arah.
Pria itu melirik sekilas karena Diah dan ibunya yang tersungkur di tanah. Ardi melihat dengan jelas tubuh Diah yang terluka karena duri tanaman dan Bu Dewi sendiri juga sudah tergeletak lemas di tanah tanpa dapat bergerak bebas.
Plak! Satu tamparan pun mendarat mulus ke arah pipi Mila. Plak! Satu tamparan kembali melukai pipi wanita itu. "Apa yang sudah kamu lakukan pada mamaku?" geram Ardi dengan sorot mata penuh amarah.
Mila benar-benar dibuat ketakutan karena Ardi. Wanita itu pun tak lagi berani bercicit dan tak bisa berkutik di depan Ardi.
"Ardi! Kamu pulang, Nak?" cetus Bu Dewi pada sang putra.
"Beraninya kamu menyentuh mamaku? Aku akan membuat kamu menyesal seumur hidup!" hardik Ardi.
Meskipun Ardi ingin sekali menghajar Mila hingga puas, tapi nyatanya pria itu tak tega. Dua tamparan saja sudah cukup untuk membuat hati Ardi lega.
Sebelum pria itu lepas kendali, Ardi pun segera menghubungi polisi untuk menangkap buronan yang sudah lama mereka cari. "Ardi, aku mohon! Beri aku kesempatan! Aku tidak ingin masuk penjara!" teriak Mila heboh begitu wanita itu diringkus oleh petugas kepolisian.
Ardi tak ingin lagi menggubris wanita tidak tahu malu itu. Kini pria itu pun mulai fokus mengurus ibu dan istrinya yang terluka akibat ulah Mila.
"Diah, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Bu Dewi berulang kali pada sang menantu yang tengah diobati di klinik terdekat.
Diah mengulas senyum. Meskipun tengah kesakitan, tapi Diah masih tetap berusaha menenangkan Bu Dewi agar tidak panik. "Aku baik-baik saja, Ma! Mama tenang saja," ujar Diah.
Beruntungnya Bu Dewi tidak mendapatkan luka apa pun. Diah sudah berhasil menjaga Bu Dewi dengan baik.
"Mama baik-baik saja, kan?" tanya Ardi mencemaskan sang ibu.
"Cemaskan saja istrimu! Istri kamu yang terluka karena melindungi Mama!" tukas Bu Dewi.
__ADS_1
Wanita itu tak henti-hentinya menangis saat melihat perban luka di tubuh Diah. Ardi benar-benar merasa bersyukur, mama kesayangannya tidak terluka sedikitpun. Hanya saja, pria itu mulai merasa bersalah pada istrinya yang terluka parah demi melindungi ibunya.
"Kamu ... baik-baik saja, Diah?" tanya Ardi agak canggung pada Diah.
Diah mengangguk. Gadis itu juga menyempatkan diri melempar senyum. "Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu cemas," sahut Diah.
"Bagaimana mantan pacar kamu itu? Kamu sudah mengurusnya, kan?" tanya Bu Dewi pada Ardi.
"Mama tenang saja. Mila tidak akan lagi mengusik Mama. Aku akan membuat wanita itu menyesal," ujar Ardi. "Maafkan aku, Ma. Maafkan aku, Diah. Ini semua juga salahku."
Masalah Mila pun benar-benar selesai. Wanita itu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Ardi juga benar-benar bersyukur, ia dapat menyelamatkan ibunya tepat waktu dan Bu Dewi tidak mendapatkan luka parah, meskipun sebagai gantinya, Diah-lah yang harus menanggung semua rasa sakit yang seharusnya diperoleh oleh Bu Dewi.
"Kita pulang sekarang?" ajak Ardi pada ibu dan istrinya.
Karena Diah terluka, Bu Dewi pun semakin memanjakan menantunya itu dan membantu merawat luka Diah dengan baik. "Diah, kamu ingin makan apa? Atau kamu ingin makan buah tertentu? Atau minuman tertentu?" tanya Bu Dewi begitu bawel pada menantunya.
Diah menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin apa-apa, Ma. Ini hanya luka kecil. Aku akan membantu Mbok Tini memasak," ujar Diah berusaha bangkit dari sofa ruang tamu.
"Ardi, istri kamu sedang sakit, kamu tidak ingin membelikan sesuatu?" omel Bu Dewi pada sang putra agar Ardi memanjakan istri. "Buatkan minuman hangat atau belikan buah untuk Diah! Kamu benar-benar tidak ada perhatiannya sama sekali pada istri!" gerutu Bu Dewi.
Ardi hanya bisa menghela napas. Pria itu hanya bisa menuruti kemauan ibunya. "Kamu ingin minum apa, Diah?" tanya Ardi.
Diah menoleh ke arah sang suami. 'Tuan Ardi bersikap seperti ini hanya karena ada Mama di sini, kan? Jangan berharap lebih, Diah!' batin Diah.
"Tidak perlu, Mas. Aku tidak haus!" sahut Diah.
"Kalau begitu, makanan? Kamu ingin makan apa? Aku akan belikan?" tawar Ardi lagi.
Diah semakin tidak nyaman menerima perhatian dari Ardi yang terlihat terpaksa. Lebih baik Diah melihat wajah dingin Ardi setiap hari daripada harus terus-terusan berakting seperti ini.
"Biar Ardi yang belikan, Diah. Kamu ingin apa?" ujar Bu Dewi ikut menawari Diah.
__ADS_1
Ardi dan Bu Dewi terlihat heboh mengurus Diah yang hanya mengalami luka kecil. Hingga tiba saat malam datang, Diah pun harus kembali pada kenyataan dan menyudahi akting mesranya dengan Ardi.
"Sayang sekali semua kebaikan Tuan Ardi hanya demi menyenangkan Bu Dewi," gumam Diah sembari menggelar tikar untuk alas tidurnya seperti biasa.
Tak lama kemudian, Ardi pun muncul dari balik pintu dan melihat Diah yang hendak berbaring di lantai. "Diah, kamu sudah mau tidur?" tanya Ardi pada Diah.
Biasanya Ardi hanya diam dan enggan mengajak Diah berbincang saat mereka berdua ada di dalam kamar. Tapi kali ini, Ardi membuka perbincangan dan bahkan memperlihatkan ekspresi wajah meneduhkan.
"Kenapa, Tuan? Tuan butuh sesuatu?" tanya Diah.
'Tuan Ardi kenapa? Sudah tidak ada Bu Dewi di sini, kenapa tuan Ardi masih bersikap lembut padaku? Biasanya tuan Ardi bersikap dingin,' batin Diah.
"Tidak. Aku tidak butuh apa pun. Tidur hanya dengan beralaskan tikar pasti tidak nyaman. Kamu ... tidak mau tidur di atas ranjang?" tawar Ardi.
"Apa?" Diah benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar. Setelah lebih dari dua bulan Ardi membiarkan Diah tidur di lantai, kini pria itu tiba-tiba menawari Diah untuk tidur di kasur empuk miliknya.
"Naiklah ke sini, Diah. Istirahatlah di sini," ujar Ardi.
'Aku tidak salah dengar, kan? Tuan Ardi memintaku tidur di atas ranjangnya?' batin Diah.
"Kenapa melamun? Kemarilah dan tidur bersamaku di sini," imbuh Ardi.
"Tidak tuan, saya tidur di Sini saja."
"Jangan membantah, cepat naik!" ucap Ardi dengan wajah dingin dan di buat seram. semua itu ia lakukan karena cukup tau, Diah menolak karena merasa tak enak hati padanya.
Diah pun bangkit dari tikarnya dan mendekat ke ranjang. 'Aku ... akan tidur di ranjang yang sama dengan tuan Ardi malam ini?' batin Diah tak percaya.
"Selamat tidur, Diah!" ucap Ardi.
Diah mengangguk, kemudian merebahkan tubuh di samping Ardi. Untuk pertama kalinya setelah menikah, akhirnya Diah bisa beristirahat dengan nyaman dan tidur satu ranjang bersama dengan pria yang ia cinta.
__ADS_1
****