
Sore ini, Ardi memasuki sebuah toko bunga. Membeli sebuket bunga mawar merah yang indah. Pria itu tersenyum cukup lebar begitu keluar dari toko bunga itu. Memasuki mobilnya dan mulai berkendara pulang.
Hari ini suasana hatinya sedang sangat bagus, beberapa pekerjaan nya berjalan dengan mulus. Ia bahkan berhasil melobi salah satu perusahaan besar untuk bekerja sama. Ia ingin membagi kebahagiaan itu dengan sang istri, Diah. Ia berencana mengajak Diah berjalan-jalan untuk sekedar membeli baju atau tas.
"Astaghfirullah, aku bahkan belum pernah membelikan Diah baju dan tas."gumam Ardi mengingat kembali perlakuannya pada Diah. "Maafkan aku Diah, betapa abainya aku dulu padamu." Gumam Ardi penuh sesal.
Ardi termenung dalam diamnya, pikiran Ardi terus melayang pada masa lalu. Mengingat seberapa dinginnya ia pada Diah.
"Malam ini, aku akan menggantinya Diah, akan ku belikan kamu baju yang paling bagus." Gumam Ardi, la pun mulai membayangkan dirinya yang berjalan-jalan bersama Diah. Melihat sang istri yang tersenyum padanya. Rasa sesal dan kecewa pada irinya sendiri itu perlahan menghilang.
Pria beralis tebal itu masih menyungging senyum di wajah hingga di belokan gang menuju rumahnya. Senyum Ardi perlahan memudar kala melihat Diah di depan pintu gerbang rumah, bersama dengan seorang pria.
Dada Ardi bergemuruh kesal. Melihat istrinya tersenyum sangat ramah bahkan pria itu juga. Entah apa yang mereka obrolkan hingga Diah sepertinya lupa jika ia sudah menikah. Ardi melambatkan laju mobilnya, lalu menurunkan kaca melirik pada Diah. Juga untuk melihat siapa laki-laki muda yang sedang mengobrol dengan istrinya di depan pintu gerbang rumahnya.
"Ooh, tuan sudah pulang?" Celetuk Diah begitu melihat Ardi. Wajah Ardi di tekuk tak suka. Pasalnya, pria itu terlihat muda dan tampan. Tentu saja Ardi cemburu, namun sebisa mungkin ia menutupinya.
Ardi melewati begitu saja. Lalu memarkirkan mobilnya di carport. Begitu ia turun dari mobil, Diah sudah menutup gerbang dan ikut menyusul sampai di teras. Walau jengkel, Ardi tetap menekan perasaannya. Ardi mengulurkan buket bunga yang tadi dibelinya untuk Diah.
"Ini untuk saya, tuan?" Diah menerima bunga pemberian suaminya dengan senyum yang tak dapat disembunyikan.
Ardi mengangguk, suasana hati memang tak bisa di bohongi. Ia jadi enggan meski sudah berusaha memaklumi.
"Tadi ngobrol sama siapa?" Kalah oleh rasa penasaran, Ardi bertanya juga begitu mereka masuk ke dalam rumah.
"Tetangga baru, tadi memberi bingkisan." Ucap Diah menjelaskan, sambil tangannya mengangkat satu parsel buah pemberian tetangga baru itu.
"Oohh," apa lagi yang Ardi dapat katakan selain itu. Tak mungkin juga ia main larang Diah untuk tak dekat dengan lelaki. Ia sedang mencoba menyelami hati dan meluluhkan seorang wanita yang ia sebut istri itu.
Ardi berhenti sejenak, memandang Diah yang menatap bunga pemberian nya itu ke dalam vas.
"Sore ini, ayo jalan-jalan."
__ADS_1
Diah menoleh ke arahnya dengan dahi mengernyit.
"Ayo beli baju, dan makan di luar."
"Dila sedang tidur."
"Kita berdua saja."
"Dila..."
Ardi mengulas senyum dan mengenggam jemari Diah, "kita berdua saja, Dila, biar mbok Tini dan mama yang jaga. Kamu juga sudah punya stok asi di kulkas."
Diah memandang suaminya, ada rasa ragu diantara hatinya yang bungah gembira. Ajakan kencan pertama dari Ardi, haruskan ia menyambutnya?
"Pergi saja Diah," suara mbok Tini, seketika membuat Diah menoleh ke arah wanita tua berumur 56tahun itu."Biar mbok yang jaga Dila, akhir-akhir ini Dila juga lagi seneng sama simbok. Kamu nggak usah khawatir, nyonyah juga pasti senang jika dititipi Dila."
Ardi tersenyum senang, mbok Tini juga mendukungnya."Jadi, bagaimana?"
Ardi menarik sudut bibir ke atas. Sangat senang ajakannya mendapat sambutan baik dari sang istri. "Gantilah baju, aku tunggu di teras."
Diah mengangguk tanpa kata. Lalu berjalan ke kamarnya. Tiga puluh menit, Ardi yang sudah berganti pakaian juga dengan kaus polo berwarna Dongker dan celana jeans dengan warna senada. Menunggu Diah di kursi teras, Dila saat itu sudah bangun. Ardi memangku dan mengajaknya bercanda. Di sisinya Bu Dewi ikut bercengkrama dengan sang cucu. Mbok Tini pun tak ketinggalan setelah menyajikan ubi rebus dan teh panas.
Ardi langsung berdiri begitu Diah sudah siap di ambang pintu. Wanita itu memakai kemeja hijau tosca dan rok plisket berwarna kalem. Tak lupa tas bahu yang menambah kesan manis pada penampilannya. Ardi terdiam, menatap istrinya, tak bisa di pungkiri, meskipun Diah bukanlah gadis berkulit putih. Namun, Diah berhasil membuatnya tak berkedip.
Wajah Diah merona mendapat tatapan dari suaminya. "Aku sudah siap,"
"Wah, Diah cantik sekali." Bu Dewi memuji, "iya kan, Di?"
"I-iya," Ardi pun mengiyakan dengan gugup.
"Tuh, Ardi aja sampai gugup." Bu Dewi meledek putranya, secara bersamaan, rona merah menghiasi wajah Diah dan Ardi.
__ADS_1
"Duuhh, simbok juga sampai pangling, yah." Celetuk simbok, ia lalu mengambil Dila dari gendongan Ardi.
"Apa sebaiknya, Dila ikut saja?" Diah menjadi tak enak hati pada Bu Dewi dan Mbok Tini."Dila udah bangun, biar aku siapkan keperluannya." Sambung Diah berbalik melangkah kedalam. Sebelum itu terjadi, Ardi sudah menahan lengannya.
"Mama..." Diah menatap suaminya yang menjeda ucapannya itu."mama dan mbok Tini sudah bersedia menjaga Dila, kita pergi berdua saja."
"Iya yah, mama juga lagi pengen jalan-jalan keliling komplek sama Dila. Pergilah jalan-jalan berdua agar lebih akrab."
"Benar ya, nggak mikirin Dila. Dila aman sama simbok dan neneknya."
Diah menatap Ardi, dan berganti menatap Bu Dewi yang tersenyum damai, lalu pada mbok Tini yang mengangguk.
"Maaf ya mbok, nyonya,"
"Mama, Diah, mama."
"Maaf ma, Diah pergi dulu."
Bu Dewi tersenyum, dan mengangguk.
Diah mendekat pada anak gadisnya, lalu menggendong sebentar dan mencium pipi Dila. "Bunda pergi dulu ya, sama ayah, Dila jangan rewel, jangan nakal."
"Enggak, unda." Tentu saja ini Bu Dewi yang menjawab dengan meniru bahasa bayi.
Setelah puas menciumi anaknya, Diah dan Ardi memasuki mobil. Lalu kuda besi itu bergerak keluar dari halaman. Bu Dewi memandang dengan senyuman,
"Alhamdulillah, akhirnya sedikit demi sedikit mereka membuka diri. Semoga dengan ini hubungan mereka jadi lebih baik ya, mbok."
"Aamiin, nyah." Sahut mbok Tini.
Dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Ardi dan Diah hanya saling diam dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Diah menatap keluar untuk mengusir kecanggungan, dan Ardi berulang kali menggosok pahanya demi menghilangkan rasa gugupnya. Aneh, setelah sekian lama, ia justru merasa gugup di samping istrinya sendiri.
__ADS_1
Sesampainya di mal, Ardi mengulurkan tangan, untuk mengenggam tangan Diah. Istrinya itu dengan perlahan menyambut tangan Ardi. Berdua bergandengan memasuki mal, dengan perasaan yang sama. Saling bertaut meski masih enggan untuk mengungkapkan.