Pengasuh Ibuku

Pengasuh Ibuku
bab 48


__ADS_3

Ardi menatap sebuah undangan di tangan nya. Pria itu tersenyum mengusap sampul undangan itu. Ya, Ardi berniat mengajak Diah untuk menghadiri sebuah undangan pesta dari salah satu rekan bisnisnya. Undangan berwarna merah muda dengan pita yang menghiasai sampulnya teruntuk dirinya dan partner.


Ardi meraih ganggang telpon kantor lalu menghubungi sekretaris nya.


"Lucky, tolong siapkan satu kamar suite di hotel yang sama dengan acara pak Broto." Titah Ardi pada asisten nya.


("Baik, tuan.")


"Siapkan juga beberapa baju ganti untukku dan istriku."


("Baik, size nyonya?")


"Nanti aku kirim lewat email."


("Baik, tuan.")


Setelah menghubungi asistennya, Ardi tak lupa mengirimkan size baju sang istri, mulai dari pakaian dalam sampai luarnya. Bahkan ukuran sendal Diah pun tak luput dari Ardi.


"Semoga nanti kita bisa menyambung lagi apa yang sudah tertahan sejak lama." Gumam Ardi terus mengulas senyuman. Pria itu lalu menyimpan undangan di laci meja kerjanya di kantor.


***


"Mas Rangga,"


"Hay!" Sapa Rangga yang sengaja menunggu dan bersandar pada tembok pagar rumah ardi. Pria itu mengunakan jaket jamper coklat late yang ia pasang tudungnya di kepala, dan celana training hitam.


"Mas Rangga ngapain berdiri di situ?" Tanya Diah mengernyitkan,


"Nungguin kamu," jawab Rangga enteng, mulai mengayunkan kaki mendekat.


Diah menunjuk wajahnya sendiri, merasa bingung. Dalam pikirannya, terlintas akan tawaran dari Rangga tentang pekerjaan yang ia tolak. "Apa mas Rangga mau menawari lagi?" Gumam Diah pada dirinya sendiri.


Rangga mengeluarkan undangan berwarna merah muda dari pak Broto, salah satu rekan bisnisnya, dari saku jaketnya.


"Apa ini, mas?" Tanya Diah tak mengerti Rangga menyodorkan benda itu padanya.


"Temani aku kesini ya," ucap Rangga,


"Aku? Kenapa aku?"


"Aku nggak punya partner,"


"Bohong..."

__ADS_1


"Beneran," Rangga megangkat telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V."Aku nggak ada parter, makanya, temani aku ya, kamu kan dah janji mau bantuin aku kalau butuh."


Diah terdiam, melirik sekilas undangan di tangannya. Ia merasa tak pantas, "cari yang lain aja, mas. Aku nggak mau mempermalukan mas Rangga, ini bukan kelas ku."


"Diah, kelas apaan? Nggak ada kelas-kelasan kayak sekolah aja. Semua aku yang atur, baju, make up. Yang penting kamu setuju. Mau ya? Kamu udah janji mau bantuin, dan sekarang aku butuh bantuan kamu." Ucap Rangga terkesan memaksa.


Diah menghela nafasnya, mau menolak tapi benar ia sudah pernah berjanji dan merasa berhutang budi pada Rangga. "Aku tanya dulu sama mas Ardi..."


Rangga berdecak, merasa cukup kesal karena Diah selalu harus bertanya pada Ardi. Tapi, ia hanya bisa mengangguk setuju,"baiklah, aku tunggu kabar baiknya. Beri aku nomor ponselmu."


Diah menyebutkan nomormya, lalu Rangga menghubungi sampai tersambung.


"Aku tunggu kabar baiknya," ucap Rangga menerima kembali undangan yang Diah sodorkan. Lalu ia berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. Sementara Diah melanjutkan tujuan ke warung.


Malam harinya, Diah membuatkan kopi untuk Ardi. Ia tahu Ardi cukup sibuk akhir-akhir ini. Jika tidak lembur, ia akan membawa pekerjaan pulang. Rencananya, malam ini Diah meminta ijin pada Ardi untuk pergi dengan Rangga. Diah berjalan menuju ruang kerja Ardi, ia lalu mengetuk pintunya.


Di dalam ruangannya, Ardi mengukir senyum mendengar ketukan pintu dari luar. Ia tau itu pasti Diah yang mengantarkan kopi seperti biasa nya. Ardi menarik laci meja kerja sembari berujar untuk mempersilahkan Diah masuk. Pria tampan itu melihat undangan berwarna merah muda yang ia simpan di sana. Ia akan meminta Diah untuk menjadi pasangannya di pesta itu.


Diah melangkahkan semakin dekat, dan berdiri di depan meja kerja Ardi.


"Kopinya, mas." Ucap Diah meletakkan secangkir kopi di atas meja Ardi.


"Makasih, yah." Ardi tersenyum,


"Mas,"


"Diah,"


Suara keduanya di waktu yang bersamaan. Ardi dan Diah terdiam, lalu sama-sama tertawa kecil.


"Kamu dulu,"


"Enggak, mas dulu aja."


"Ladies first."


Diah tersenyum, lalu ia membuka mulutnya, "mas, diah mau minta ijin menemani teman Diah ke acara ulang tahun temannya. Bolehkah?"


"Acara ulang tahun temanmu? Dimana?"


"Temannya temanku, mas Ardi."


"Iya, di mana?" Ardi melepas undangan dari pak Broto, lalu mendorong laci masuk ke dalam dan menutup sempurna.

__ADS_1


"Aku nggak begitu tau, sih. Tapi nggak jauh dari sini."


Ardi mengangguk-angguk sembari berpikir,"Sepertinya, tidak masalah jika aku mengalah kali ini, biar dia bersenang-senang bersama temannya. Aku memang suaminya, tapi itu tak berarti aku boleh memonopoli. Diah tetap butuh teman sebagai penghiburnya.' pikir Ardi.


"Boleh, kah?" Tanya Diah lagi sedikit ragu dan cemas.


"Boleh saja."


"Benarkah?" Tanya Diah memastikan dengan mimik muka lega.


"Heemm," ardi mengetuk-ngetuk pipinya dengan telunjuk."Ini dulu."


Diah menggulum bibir menahan senyumnya, lalu ia melangkah mendekat. Ardi langsung menarik tangan Diah begitu ia sudah dekat, sampai Diah duduk di atas pangkuan sang suami. Diah menahan kepala Ardi dengan kedua tangan yang membingkai rahang pria itu. Diah menempelkan bibirnya di pipi sang suami. Pipi kanan, pipi kiri, kening, hidung, dagu itu semua Ardi sodorkan untuk Diah kecup. Sudut bibir Diah tertarik ke atas membentuk lekukan yang semakin lebar. Sampai pria itu dengan sangat tak sabar menyambar bibir Diah. Seperti beberapa malam yang lalu, mereka berciuman dengan waktu yang cukup lama.


Hari berikutnya, Rangga membawa Diah ke sebuah salon yang merangkap butik. Di sana ia di make over oleh seorang Mua. Diah sedikit merasa berlebihan karena karena sang MUA mendandani dengan ful make up tapi terkesan natural. Diah juga di beri gaun malam yang sedikit terbuka.


"Maaf mbak, apa tidak ada baju yang lebih tertutup dari ini?"


"Ini sudah yang paling tertutup, Diah," sahut sang MUA tersenyum maklum karena diah tadi memakai pakaian yang sangat sopan untuk pergi ke sebuah pesta.


Diah melihat pantulan diri dicermin, gaun malam itu memang menjuntai hingga menutupi mata kakinya. Tapi, di bagian atas tampak menunjukkan dada bagian atas. Hingga belahan dada nya sedikit terlihat.


"Ayo keluar, Rangga sudah menunggu." Ajak sang MUA.


Diah keluar dengan di tuntun oleh MUA. Rangga yang melihat perubahan Diah seketika terbuka mulutnya. Ia langsung terpikat tanpa Diah mengeluarkan jurus Semar mesemnya.


"Mas Rangga, aku rasa ini terlalu terbuka."


"Apa kamu merasa tidak nyaman?" Tanya Rangga,


"Tidak nyaman dan juga malu." Diah menunduk,


Rangga berganti menatap sang MUA. "Bisakah kamu memberi penutup di bagian dadanya."


"Itu akaan memakan waktu, tapi, aku rasa sebuah kalung cukup."


"Itu bukan menutup, tapi menghias, Misel." Protes Rangga.


"Sudahlah, begini saja, kenapa harus di tutupi,"


"Missel,"


"Iya, iya, baiklah, coba pakai ini," Misel memberi syal bulu ke leher Diah."begini saja cukup kan?"

__ADS_1


Walau masih merasa tak nyaman, Diah akhirnya tetap memakai gaun itu ke pesta rekan kerja Rangga. Ballroom tempat pesta di adakan sangatlah ramai. Rangga bertegur sapa dengan beberapa temannya, setiap kali Diah mencoba menjauh, Rangga selalu menariknya. Sampai Rangga dengan penuh percaya diri menggenggam tangan Diah. Tanpa mereka sadari, seseorang menatap dari kejauhan dengan mata tajam yang membunuh.


__ADS_2